Sunday, March 31, 2019

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 05 – 4

1 comments

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 05 – 4
Images by : SET TV , TTV, iQiyi
Xiang Yin bersama dengan Ke Ai dan Xiao Tian menemui wanita pencuri tersebut, Nn. Zheng. Ke Ai meminta maaf atas yang terjadi dan meminta-nya untuk tidak marah. Dia janji kejadian ini tidak akan terulang lagi.
“Ini caramu minta maaf? Kau tidak berkata ‘maaf’ sama sekali. Apa sangat sulit untuk meminta maaf? Atau kau mengira kalau dia (Xiao Tian) tidak bersalah sama sekali?! Jadi, ini style dari Hua Li dept. store?” ujar Nn. Zheng dengan sombong.
Ke Ai benar-benar marah mendengarnya hingga mengepalkan tangannya dengan kuat. “Benar, aku lupa dengan style dari Hua Li,” gumam Ke Ai. Dan membuat Xiao Tian serta Xiang Yin terkejut.
“Apa yang kau bilang? Berani sekali kau bicara seperti itu padaku! Apa kau tidak tahu siapa ayahku?!” marah Nn. Zheng.
“Aku tahu ayahmu. Tapi, apa dia tahu kalau putrinya tertangkap mencuri di dept. store?” balas Ke Ai.
“Kau….!”
Dari luar pintu ruangan, trio pekerja sedang menguping. Dan mereka malah heran, bukannya Chang Ke Ai datang untuk minta maaf? Kenapa malah jadi begitu? Mereka takut kalau jadi terkena dampaknya.
“Pelanggan selalu benar. Ini prinsip dari industri ini. Tapi, jika kami minta maaf, Hua Li dept. store kaki tanganmu karena menutupi kasus ini. Terlebih lagi, kau melukai teman kerjaku.”
“Benar,” terdengar suara Zi Hao. Dan dia masuk ke dalam ruangan itu dengan kerennya, dimana Li Jian yang membukakan pintu untuknya. (ampunnn ya, aku setiap Zi Hao muncul, entah kenapa otomatis senyum. Aku sarankan kalian coba nonton ‘Hello Again!’ Ini drama bagiku fresh banget. Comedy-nya benar-benar sesuai seleraku. Atau emang humor-ku yang receh ya? Hahahha LOL. Aku suka nonton waikiki juga lho :D )
“Jadi, kau harus minta maaf pada pegawai-ku,” lanjut Zi Hao dengan tegas (eh, itu si trio pekerja ikutan masuk dan berdiri di belakang Ke Ai. LOL). “Departemen pakaian wanita mengutamakan pelanggan. Tapi, aku tidak akan menukar harga diri pegawai-ku untuk penjualan. Pelanggan yang menghina pegawaiku dan mempunyai hak istimewa bukanlah pelanggan yang ingin kami layani. Inilah prinsipku. Dan juga prinsip Hua Li.”
Semua pegawai jelas kagum dengan ucapan Zi Hao terssebut.
“Aku akan menelpon ayahku sekarang. Aku akan memintanya untuk memutuskan listrik dan air kalian sehingga kalian tidak bisa berbisnis. Apa kau takut sekarang?”
“Tidak perlu. Ayahmu sedang rapat di parlemen. Ponselnya mati. Dia juga sudah tahu kalau kau mulai mencuri lagi. Li Jian,” ujar Zi Hao dan memberi tanda pada Li Jian.
Li Jian segera mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman suara : Nona Zheng sudah di tuntut untuk pencurian berulang kali. Terakhir kali, dia mencuri peralatan rumah. Dia bilang itu adalah hadiah untuk ayahnya. Akhirnya, hal itu di selesaikan tertutup. Itu adalah kasus rekan kerjaku. Tapi, ayahnya adalah Pembicara. Jadi, kasus itu di angkat kembali. Aku ingat kasus ini karena hal itu.
Ke Ai terkejut karena itu adalah suara Xiao Gang. Nona Zheng masih tidak takut, karena walaupun ayahnya sedang rapat, tidak mungkin ayahnya akan mengabaikannya. Baru juga di omongin, datang seorang wanita yang mencari Zi Hao.
“Hallo, aku adalah sekretaris dari Pembicara Zheng. Aku adalah N. Wang,” perkenalkan Nn. Wang.
“Mana ayahku?”
“Tn. Zheng sedang berada di Parlemen. Aku sudah mengatur untuk mengirimmu ke Jepang malam ini sesuai perintahnya.”
“Aku melakukan semua ini! walaupun dia tidak peduli padaku, setidaknya dia bisa datang untuk menghukumku! Apa pekerjaannya lebih penting dari putrinya sendiri? Bahkan jika dia hanya peduli mengenai masyarakat dan politik, dia bisa memperlakukanku sebagai masyarakat dan bersikap peduli padaku,” tangis Nn. Zheng. Tapi, percuma, Nn. Wang tetap membawanya pergi.
Sebelum pergi, Nn. Zheng menunduk dalam dan meminta maaf pada semuanya.
Ke Ai jadi kasihan pada Nn. Zheng, karena ternyata pencurian yang di lakukannya adalah untuk menarik perhatian ayahnya. Tapi, bagi Zi Hao, yang di lakukan Ny. Zheng adalah salah. 
“Kau benar. Terkadang, penting untuk mempedulikan yang lain,” ujar Zi Hao.
Daniel juga meminta maaf pada Xiao Tian. Dan mereka berbaikan. Xiang Yin tersenyum, senang melihat hal tersebut.

Ke Ai memandang Zi Hao dan tersenyum manis. Zi Hao kebingungan melihatnya.
--
Dan, kebingungan itu terus berlanjut. Dia bertanya pada Li Jian, apa maksud tatapan dan senyuman Ke Ai padanya tadi ya? Li Jian membalas, bagaimana dia bisa tahu? Kalau mau tahu, yang tanya Ke Ai langsung lah.
Eh, baru di omongin, Ke Ai sudah muncul di depannya dan meminta waktu untuk bicara dengan Zi Hao. Dan Zi Hao langsung memberi tanda pada Li Jian untuk menghilang. Li Jian langsung lari dengan cepat menjauh.
“Kau ingin aku mengerjakan pekerjaanku dan tidak ikut campur apapun. Kau yang bilang kan?”
“Benar.”
“Aku juga bilang, jangan membuatku berterimakasih padamu terlalu sering, kan?”
“Ya, benar. Apa ada masalah?”
“Lalu, kenapa kau harus melakukan semuanya?”
“AKu… aku… apa aku melakukan sesuatu?”
“Ya, kau melakukannya. Kau menegakkan keadilan untuk seorang SPG kecil. Meskipun kau melakukannya untuk melindungi reputasi perusahaan, tapi kau memilih untuk berada di pihak pegawai-mu. Intinya adalah, aku datang untuk berterimakasih.”
“Jadi, kau datang untuk berterimakasih?”
“Tentu saja.”
Zi Hao tersenyum senang, “Aku kira kau marah padaku. Aku takut. Jangan gila. Kau tidak harus berterimakasih. Kehadiran dari superior dan manager adalah untuk menyelesaikan masalah bawahan mereka. Aku hanya melakukan yang harus ku lakukan. Kau menolong Xiao Tian, aku menolongmu. Bukankah begitu? Jadi mulai dari sekarang, kau bisa bekerja keras. Aku akan selalu menjadi pendukungmu.”
“Lalu, saat aku bilang ada pencuri, tapi kau tidak peduli kan? Kenapa?”
“Karena kau,” ujar Zi Hao sambil menunjuk ke Ke Ai. “It’s because of you. Kau yang bilang jika setiap orang hanya peduli pada diri sendiri, dan tidak ingin di ganggu masalah orang lain, maka dunia ini tidak akan berubah. Hua Li dept. store tidak akan menjadi bagus lagi. Jadi, sama sepertimu, aku menjadi tukang ikut campur sedikit. Sekarang saat aku memikirkannya, terkadang menjadi tukang ikut campur seperti Chang Ke Ai, kelihatannya cukup bagus.”
“Aku tidak tahu bagaimana harus berterimakasih padamu sekarang.”
“Benarkah? Kau dapat berterimakasih padaku sama dengan caramu berterimakasih pada Xiao Gang,” jawab Zi Hao dan duduk di kursi yang ada di dekat sana, sambil menepuk pundaknya. Wkwkwk, dia mau Ke Ai bersandar pada pundaknya, masih kepikiran melihat Ke Ai bersandar pada Xiao Gang di tangga tadi. (Manis banget si kamu, Yang Zi Hao :D)
Ke Ai menurut. Dia bersandar di bahu Zi Hao. “Zi Hao, terimakasih. Jika bukan karenamu, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan.”
Zi Hao memegang dagu Ke Ai, dan mereka saling ber tatapan. Kepala Zi Hao maju mendekati bibir Ke Ai, dan Ke Ai menutup matanya.
Byurrr!!!! Semua itu hanyalah khayalan Zi Hao.
Zi Hao tertawa keras membayangkan hal tersebut.
“Kenapa kau tertawa begitu?” tanya Ke Ai heran.
“Ah, apa yang kau katakan tadi?”
“Aku bilang, memilikimu sebagai pendukungku, aku akan bekerja keras. Aku tidak akan mengecewakanmu.”
“Tentu saja.”
“Lalu, kenapa kau tadi tertawa begitu?”
“Ah… aku… aku tidak tertawa. Kau sudah salah. Bahkan jika ya, aku tidak bermaksud apapun. Jangan berpikir macam-macam.”
“Hah, apa kau memikirkan hal aneh dan… tercela?” tanya ke Ai dengan gugup dan menutupi dada-nya. Dia juga langsung mundur selangkah. “Aku hanya datang untuk meminta maaf. Apa itu tidak cukup?”
“Cukup. Aku tidak memikirkan apapun. Aku juga tidak tertawa. Kau. Aku sibuk. Aku harus pergi. Jangan salah mengira,” ujar Zi Hao dengan gugup dan langsung pergi.
Li Jian sambil jalan, menggoda Zi Hao yang pasti berpikiran aneh dan buruk kan? Zi Hao membantah hal tersebut. Dia malah bertanya pada Li Jian, apa wanita itu selalu membuat masalah?
“Tidak. Aku rasa kau yang bodoh terutama soal cinta. Kau berdelusi,” jawab Li Jian. Dan Zi Hao langsung melotot padanya.

Tapi, pelototan nya langsung hilang saat dia menerima pesan dari Ke Ai yang mengucapkan terimakasih lagi. Zi Hao benar-benar senang. Dia membalas pesan Ke Ai untuk membalas kebaikannya dengan membuatkannya sarapan besok pagi. Dia ingin roti panggang, ayam bakar, salad dan telur setengah matang.  
Ke Ai yang mendapat balasan dari Zi Hao, bingung kenapa Zi Hao begini? Dia membalas pesan Zi Hao, bukankah Zi Hao bilang dia hanya harus sarapan dengan Zi Hao? Bilang dia tidak harus menyiapkan sarapan. Zi Hao langsung membalas, dia memang bilang kalau Ke Ai tidak harus menyiapkan sarapan. Tapi, dia tidak bilang kalau Ke Ai tidak perlu memasak. Dia yang akan menyiapkan semua bahannya. Ke Ai yang akan masak, dan dia yang akan makan. Ke Ai benar-benar kesal membaca balasan pesan Zi Hao tersebut.
“Kau tadi marah. Sekarang, kau sudah bahagia. Apa yang kau lakukan sekarang? Pasti ada sesuatu,” komentar Li Jian melihat senyum di wajah Zi Hao.
Eh, tidak lama, Zi Hao malah mendapat pesan dari Xiao Gang. Biaya konsultasi tadi adalah NTD 10.000. Tolong potong itu dari hutang Chang Ke Ai. Terimakasih.
Oh My God! Aku lupa mengenai hal ini. Chang Ke Ai. Kelihatannya malah seperti aku yang berhutang padamu,” ujar Zi Hao seorang diri. Li Jian tambah bingung melihatnya.
Xiao Gang mengirim pesan lagi : Jangan lupa kalau kau setuju agar Chang Ke Ai tidak tahu mengenai hal ini. Kau harus memikirkan alasannya sendiri kenapa hutang Ke Ai jadi berkurang.
“Cai Xiao Gang! Ini belum berakhir!” teriak Zi Hao, kesal.
--

Ke Ai kembali ke toko. Dan Xiao Tian sudah menyambutnya dengan bahagia. Xiao Tian melapor kalau dia sudah mengecek stok dan membuat laporannya. Dia memberikan laporan itu pada Ke Ai. Dia juga sudah mengepel dan membersihkan kaca.
“Dan, terimakasih,” ujar Xiao Tian. “Terimakasih karena sudah menolongku!”
“Tidak masalah. Kehadiran dari atasan adalah menyelesaikan masalah dari bawahannya (kata-kata Zi Hao, nih). Terlebih lagi, mengenai Nn. Zheng yang adalah VVIP, kau mencegah toko merugi. Kau berjasa.”
Xiang Yin kebetulan lewat dan mendengar ucapan Ke Ai tersebut, dan dia tersenyum. Tapi, saat Ke Ai menatapnya, Xiang Yin langsung memasang wajah dinginnya lagi.  

Ke Ai kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada semua karyawan di departemen pakaian wanita : Aku tahu kalau kalian tidak terbiasa dengan fakta kalau aku adalah manager kalian. Aku juga tidak terbiasa. Tapi, aku sekarang adalah manager. Jadi, untuk rapat besok pagi dan rapat penjualan, bagi yang tidak hadir akan di denda NTD 500. Setiap orang harus hadir dengan sebuah ide. Setiap orang harus berkontribusi untuk meningkatkan penjualan kita.
Semua mendapat pesan tersebut. Dan tentu saja, Xiang Yin juga mendapatnya. Dia tersenyum membaca pesan Ke Ai tersebut.
--
Sebelum pulang mall, Daniel menelpon anaknya bertanya apa anaknya sudah mandi? Dia sebentar lagi pulang. Dan dia akan membawakan mobil mainan anaknya yang tadi tertinggal. Dia menyuruh anaknya untuk cepat tidur.
Selesai menelpon anaknya, Daniel makan mie cup. Tiba-tiba, Ke Ai muncul dan meletakkan mobil mainan anak Daniel yang tertinggal di depan tokonya. Dia memberikan mobil itu pada Daniel dan berkata dia tidak tahu itu punya siapa, jadi Daniel boleh memilikinya.
“Kenapa kau tidak bertanya? Kau mendengarnya (pembicaraannya di telepon)” tanya Daniel.
“Kenapa aku harus bertanya? Anak itu? Apa yang harus ku tanyakan? Setiap orang memiliki sesuatu yang tidak ingin mereka ungkapkan. Kenapa aku harus menggali luka mereka? Mungkin yang lain akan langsung bertanya tanpa berpikir, tapi orang yang di tanya… mungkin akan terluka setiap kali menjawab pertanyaan itu. Ini adalah pengalamanku setiap hari.”
“Kau baik. Kau mendapat popularitas setiap harinya. Belakangan ini… belakangan ini, aku berjuang untuk mendapatkan hak asuk anak dengan mantan istriku. Hari ini, TK-nya menelpon. Sedang ada wabah flu, jadi seluruh TK di tutup. Aku tidak bisa menemukan babysitter langsung. Jika aku membawanya ke tempat kerja, aku takut akan di denda. Aku takut, aku akan di pecat. Aku harus membawa biaya pengacara plus biaya pendidikan anakku. Aku tidak bisa kehilangan pekerjaan ini. Jadi, aku tidak bisa mengakuinya sebagai anakku tadi,” jelas Daniel.
Ke Ai tersenyum mendengar penjelasan Daniel, karena Daniel sudah mau terbuka padanya. “Terimakasih karena sudah memberitahuku hal ini. Cepat lah makan dan pulang untuk menemani putramu.”
“Aku akan datang ke rapat besok,” beritahu Daniel. Ke Ai tersenyum mendengarnya dan pamit pergi.
“Kau pasti sudah melalui banyak kesulitan juga,” ujar Daniel dalam hati melihat Ke Ai.
--
Ke Ai berdiri di depan gedung Hua Li. Zi Hao juga baru pulang dan melihatnya. Dia memanggil-manggil Ke Ai berulang kali, tapi Ke Ai tidak mendengarnya.
Zi Hao mendekat akhirnya dan berteriak di kuping Ke Ai. Ke Ai sangat terkejut dan refleks langsung memukul Zi Hao. Zi Hao langsung berteriak ketakutan. Dan mereka langsung berdebat lagi.
“Apa yang kau pikirkan hingga fokus begitu?”
“Aku berpikir, hidup indah yang ingin kau buat dengan departemen pakaian wanita. Bagaimana itu kelihatannya?”
“Lalu, kau dapat jawabannya?”
“Sebelum hidup yang indah, akan ada kegelapan.”
“Jadi?”
“Kau harus melakukan sesuatu, bekerja keras. Membuat sesuatu atau melindungi sesuatu untuk menciptakan hidup yang indah besok. Itulah hidup dan apa yang kita perjuangkan. Itu juga yang membuat hidup menjadi indah. Hidup di kehidupan yang baik. Kita mungkin akan melalui banyak hambatan atau kegelapan, tapi selama kita tidak berkompromi dan menyerah, percaya pada diri kita dan bekerja keras, maka cahaya akan datang.”
“Jika kegelapan ada di sini, maka cahaya tidak akan berada terlalu jauh,” lanjut Zi Hao. “Schopenhauer mengatakan itu.”
“Schopenhauer?”
“Kau tidak tahu itu? kau menyukai Schopenhauer saat di SMA. Kau suka berkata, ‘Berdasarkan Schopenhauer…’ Kau suka menyombong saat upacara pagi. Berdasarkan Schopenhauer, orang biasa hanya berpikir bagaimana ‘menghabiskan’ waktu mereka, tapi seorang manusia berbakat akan ‘menggunakan’ waktu mereka. Wuekkkk. Palsu,” komentar Zi Hao, mengingat pidato Ke Ai semasa SMA dulu.
“Seharusnya, saat tergelap adalah sebelum matahari muncul. Jika musim dingin datang, dapatkah musim semi tidak ada?”
“Ya, itu benar. Schopenhauer mengatakan itu,” ujar Zi Hao, membenarkan.
“Shelley yang mengatakan itu, bukan Schopenhauer.”
“Benarkah? Kapan itu berubah?” wkwkwk, si Zi Hao berusaha beralibi.
Dan Ke Ai langsung bertanya, kenapa Zi Hao bisa ingat yang Schopenhauer katakan? Mengapa Zi Hao masih ingat yang dia katakan saat pidato SMA?
“Jangan bilang… kau menyukaiku?” goda Ke AI.
“Aku…,” gugup Zi Hao.
“Stop!” cegah Ke Ai, merasa ada yang tidak beres dan langsung mau pergi. Tapi, Zi Hao menahan tangannya.
Bersambung

1 comment: