Sunday, April 21, 2019

Sinopsis C-Drama : Unique Lady Episode 8 - part 3

4 comments


Network : iQiyi iQiyi
“Good Morning, ladies,” sapa Luo Jing dengan riang kepada semua pelayan di dapur.



Xi Que menghampiri Luo Jing dengan panik, dan melaporkan kepada nya semua bahan makanan menghilang, karena mungkin diambil oleh Wu Mei. Mengetahui itu Luo Jing merasa kesal, tapi dia tidak kehabisan akal.



Luo Jing membawa Xi Que ke kandang ayam. Dan disana, dia mengambil beberapa butir telur ayam yang baru menetas. Kemudian setelah itu, Luo Jing menyuruh Xi Que untuk pergi ke kandang sapi, dan peraskan susu sapi untuknya.


Luo Jing membuat omelet telur berbentuk hati, serta sushi. Lalu setelah itu, dia menghias hindangannya menggunakan beberapa kelopak bunga.



Xi Que menghampiri Luo Jing, dan menanyakan apa yang terjadi kepada tangan Luo Jing. Dan dengan tenang, Luo Jing menjilat jarinya yang sedikit tergores.

Melihat betapa bagusnya hindangan buatan Luo Jing, Xi Que memuji bahwa Luo Jing sangat berbakat sekali. Lalu Xi Que memberitahu kan bahwa Luo Jing sendiri lah yang harus mengantarkan makanan itu ke tempat Wu Mei. Karena itu adalah perintah dari Wu Mei. Mendengar itu, Luo Jing merasa terkejut.



Dengan terpaksa, Luo Jing pun mengantarkan makanan itu sendiri. Tapi ketika dia mau masuk ke dalam kamar Wu Mei, dua orang penjaga menghalangin nya. Mereka menjelaskan bahwa Wu Mei memerintahkan kalau tidak seorang pun yang boleh masuk ke dalam.

“Si Barbar ini, dia sengaja mempersulit ku. Aku tidak akan membiarkannya,” pikir Luo Jing, kesal. Lalu dia berteriak memanggil nama Wu Mei, dan menjelaskan bahwa dia datang membawa kan sarapan untuk nya. Tapi Wu Mei tidak menjawab.



Dengan paksa, Luo Jing melewati penjaga dan masuk ke dalam kamar Wu Mei. Dan Wu Mei yang sedang sibuk membaca, dia menyuruh agar Penjaga menyeret Luo Jing untuk keluar.

“Yang Mulia. Aku datang membawakan sarapan mu,” kata Luo Jing sambil menahan emosi. Dan Wu Mei pun melambaikan tangan, menyuruh Pengawal nya untuk keluar.



“Pelayan bodoh, kamu datang? Jam berapa sekarang?” tanya Wu Mei.

“Sudah pagi,” jawab Luo Jing, acuh.

Wu Mei sebenarnya ingin mengomeli Luo Jing, tapi ketika melihat luka dijari Luo Jing. Maka dia pun tidak jadi untuk mengomeli nya. Lalu dia memuji penampilan makanan buatan Luo Jing yang tidak tampak terlalu buruk. Tapi dia juga mengingatkan Luo Jing bahwa lain kali tanpa persetujuannya, maka Luo Jing tidak boleh begitu saja memasuki kamar nya.



“Aku salah, Yang Mulia,” kata Luo Jing, menahan kesal. Lalu dia pamit.

“Ganti pakaian,” perintah Wu Mei. Dan mendengar itu, Luo Jing berbalik dengan terkejut, dan tidak jadi untuk pergi.

“Ganti pakaian? Pria ini menyuruhku untuk ganti pakaian disini? Ini…”

“Cuih. Apa yang kamu pikirkan? Aku menyuruhmu untuk menggantikan pakaian ku,” kata Wu Mei, menyadari isi pikiran Luo Jing.



Luo Jing mengambil pakaian dan mau memasangkan itu kepada Wu Mei. Tapi Wu Mei malah mengerjainya dengan mengangkat lengan tinggi- tinggi, sehingga dia kesulitan untuk memakaikan pakaian itu. Luo Jing kemudian memikirkan apa yang harus dilakukannya, dan dengan jail dia pun menggelitik ketiak Wu Mei.



Wu Mei merasa geli, tapi dia menahannya. Hingga akhirnya, dia pun tidak tahan lagi dan terjatuh ke atas tempat tidur. Lalu tanpa sengaja, dia menarik Luo Jing terjatuh bersama nya. Dan selama sesaat, mereka berdua saling diam dan bertatapan.

“Mengapa jantungku berdetak secepat ini? Tidak benar, mengapa jantung nya juga berdetak cepat? Mungkinkah dia mabuk lagi?” pikir Luo Jing.


“Pergi,” kata Wu Mei dengan tegas. Dan Luo Jing pun langsung berdiri, lalu berlari pergi keluar dari dalam kamar secepat mungkin.


Wu Mei duduk dan memegang dadanya yang berdetak cepat. “Aku… apa yang terjadi?” pikirnya. Lalu dia tersenyum.



Ditempat cuci baju. Luo Jing mendengarkan pembicaraan para pelayan yang mengatakan bahwa semua bunga di halaman bunga telah di cabut. Luo Jing  kemudian teringat akan perintah Wu Mei yang menyuruh Zhang Ji mencabut semua bunga di halaman istana. Dan Luo Jing lalu bertanya- tanya, apa Wu Mei beneran cemburu padanya saat itu.


Luo Jing lalu teringat mengingat kejadian barusan bersama dengan Wu Mei didalam kamar. Dan dia memukul- mukul kepala nya sendiri. “Mengapa aku memikirkan itu? Lin Luo Jing. Sadarlah!”



Luo Jing mengambil pakaian, dan ketika dia menemukan dua sepatu kecil, dia mengambil nya juga. Dan memukul- mukul itu bersama pakaian yang lain untuk mencuci nya.



Didapur. Luo Jing mengajarkan Xi Que serta dua pelayan yang lain, caranya membuat cream dengan mengocok putih telur. Dan kemudian disaat itu, Zhang Ji datang dan memberitahunya bahwa Wu Mei ingin bertemu dengannya.



Wu Mei menyuruh Luo Jing untuk berlutut. Dan karena tidak merasa bersalah, maka Luo Jing pun bertanya apa kesalahannya dan mengapa dia harus berlutut. Wu Mei kemudian memperlihatkan sepatu kecil yang telah Luo Jing rusak.



“Bukankah ini hanya hiasan kecil? Kamu sudah besar dan masih menggunakan ini?” komentar Luo Jing sambil memegang sepatu itu. Dan Wu Mei langsung merebutnya. “Aku bisa menjahitkannya kembali untuk mu,” kata Luo Jing, kesal.

“Keluar sekarang!” perintah Wu Mei.



Ketika Kepala Pelayan masuk dan melihat itu. Dia meminta agar Wu Mei tidak terlalu marah. Karena Luo Jing hanya tidak mengerti apa pentingnya sepatu kecil itu untuk Wu Mei, sehingga Luo Jing tidak berhati- hati dan merusak nya.


“Apa aku terlalu kasar dengannya? Tapi aku tidak punya niatan lain. Aku hanya terlalu tergesa- gesa saja barusan,” pikir Wu Mei, merasa sedikit bersalah.



Kepala Pelayan menemui Luo Jing, dan menuangkan air untuknya. Lalu dia menjelaskan bahwa dia datang bukan untuk memberikan tugas kepada Luo Jing, tapi menjelaskan mengenai Wu Mei. Dan dengan tidak bersemangat, Luo Jing menanyakan apa yang harus dilakukannya, beritahukan saja.



“Aku datang untuk meminta maaf kepadamu menggantikan Yang Mulia,” kata Kepala Pelayan. “Nona mungkin marah kepada Yang Mulia, kan? Sebenarnya, dari apa yang aku lihat, Yang Mulia menyukai Anda, dia peduli pada Anda.”


“Peduli padaku. Apa maksud nya?” balas Luo Jing.

4 comments: