Saturday, April 13, 2019

Sinopsis J-Movie : Enoshima Prism (2013) - part 1

1 comments




Tiga orang anak SD menaiki gunung bersama untuk melihat pemandangan dari atas sana. Michiru, dia membawa tas kedua temannya dan tas nya sendiri. Sementara Shuta, dia mengendong Saku di punggungnya, karena kondisi Saku yang tidak boleh terlalu kelelahan.



Yah, walaupun sebenarnya Shuta merasa sangat kelelahan dan kesulitan, tapi dia tidak menyerah dan terus mengendong Saku sampai ke atas puncak. Dan sesampainya diatas puncak, mereka bertiga merasa sangat terkagum- kagum melihat pelangi yang sangat indah disana.


Enoshima Prism

Pagi hari. Jam 09.00 tepat. Jam alarm berbunyi. Dan dengan masih setengah mengantuk, Shuta berusaha mematikan jam alarm nya. Namun Ibu masuk ke dalam  kamarnya, dan membuka tirai jendela lebar- lebar. Sehingga mau tidak mau, Shuta pun bangun.



“Sudah dua tahun berlalu. Apa Michiru tidak pulang?” tanya Ibu sambil memperhatikan foto-foto di lemarinya. Dan dengan acuh, Shuta menjawab bahwa Michiru tidak akan pulang. Lalu dia berganti pakaian, memakai kemeja putih dan jas hitam.


“Busungkan dada mu!” kata Ibu, memukul punggung Shuta dengan kuat. Lalu dia keluar dari dalam kamar.


Sudah lama, aku tidak bermimpi tentang masa kecilku.



Ketika Shuta keluar dari rumah nya. Tiga orang anak berlari dengan kencang melewati nya. Melihat itu, Shuta merasa rindu dengan masa lalu nya.

Dulu kami, selalu bertiga.


Shuta menaiki kereta. Waktu itu, sampai sebelum kematian Saku.



Di rumah Saku. Shuta berdoa untuk Saku yang telah tidak ada di dunia ini lagi. Setelah itu, karena disana ada terlalu banyak orang yang juga datang untuk berdoa bagi Saku, maka Ibu Saku pun meminta agar Shuta menunggu di lantai 2 dulu. Dan Shuta pun mengiyakan.



Shuta masuk ke dalam kamar Saku. Dan melihat- lihat barang yang ada disana. Foto-foto mereka bertiga. Dan sebuah surat dalam amplop biru.

Flash back

Suatu hari. Di tepi laut. Michiru datang  menemui Shuta. Dia memberikan surat dalam amplop biru kepada Shuta, dan meminta agar Shuta memberikan itu kepada Saku. Dan dengan bercanda, Shuta menanyakan apa itu surat cinta. Dan Michiru membalas  bahwa bisa di bilang begitu. Jadi Shuta pun tidak mau. Namun Michiru memaksanya.



“Apa kamu tidak datang ke pertandingan ku?” tanya Shuta.

“Kamu cemas ya, kalau Dewi kemenangan tidak datang?” canda Michiru.

“Dewi, siapa? Oh ya, mungkin aku baru bertemu Saku setelah pertandingan,” jelas Shuta.

“Tidak apa- apa. Shuta! Jaga diri, ya,” balas Michiru. Lalu dia berlari pergi.




Shuta menaiki sepeda untuk pulang, tapi di tengah jalan, rantai sepedanya malah putus. Jadi dia pun pergi ke rumah Saku, untuk meminjam sepeda Saku. Tapi karena Saku sedang tidak ada dirumah, karena ada pemeriksaan. Maka Shuta pun meminjam sepeda dari Ibu Saku. Lalu dia memberikan surat yang dititipkan oleh Michiru pada nya tadi.



Keesokan harinya. Shuta bertanding basket melawan sekolah lain. Tapi sayangnya, di waktu terakhir, karena Shuta tidak berhasil menembakan bola masuk ke dalam ring basket, maka tim Shuta pun kalah.


Ketika pertandingan telah selesai. Pelatih memanggil Shuta.


Shuta datang ke rumah sakit. Dan disana, dia melihat bahwa teman baiknya, Saku telah meninggal. Ibu Saku menjelaskan pada Shuta bahwa Saku terjatuh di depan stasiun, karena Saku berlari sekuat tenaga saat itu.



“Kenapa?” tanya Shuta, tidak paham.

“Dia ingin mengantar Michiru. Katanya, dia akan pergi ke Inggris untuk belajar. Itu yang tertulis, di dalam surat. Shu-chan, tolong lihat wajah Saku baik- baik,” jelas Ibu Saku. Kemudian dia pergi keluar dari dalam kamar, dan menangis.

Flash back end



Shuta mengeluarkan surat itu dari dalam amplop untuk membaca nya.  Tapi karena merasa ragu, maka dia pun memasukan kembali surat tersebut ke dalam amplop. Dia tidak jadi membaca nya.



Ibu Saku datang membawakan minuman untuk Shuta. Lalu mereka berdua duduk bersama dan mengobrol. Kemudian setelah itu, Ibu Saku mengatakan bahwa Shuta boleh mengambil barang apapun yang ada dikamar Saku ini, sebagai kenang- kenangan agar Saku tidak dilupakan oleh temannya. Karena menurutnya, hal paling menyakitkan adalah saat kita dilupakan.

“Aku tidak mungkin, melupakannya,” kata Shuta dengan yakin. Dan Ibu Saku mengucapkan terima kasih, lalu dia pamit turun ke bawah.



Shuta melihat- lihat lemari buku milik Saku. Dan disana dia menemukan sebuah buku yang berjudul ‘Kimi mo Time Traveler ~ Kamu juga penjelajah waktu!’. Membaca buku judul itu, Shuta tertawa, lalu dia membukanya, dan menemukan sebuah jam tangan kecil di dalam nya.


Distasiun kereta. Shuta memakai jam tangan kecil itu ditangannya, lalu dia membaca buku petunjuk tersebut. Cara pakainya adalah bayangkan masa yang ingin kamu datangin. “Apa benar bisa menjelajah waktu dengan barang seperti ini?” gumam Shuta.



Kereta datang. Dan Shuta pun masuk ke dalamnya. Lalu dia duduk. Kemudian saat kereta mulai melaju, Shuta memegang tangannya dengan erat dan memejamkan matanya, dia membayangkan masa yang ingin di datanginnya.



Kereta masuk ke dalam terowongan gelap yang sangat panjang. Dan jam tangan yang dipakai oleh Shuta berputar dengan cepat, mundur ke belakang. Lalu pintu keluar terowongan terlihat, dan cahaya putih terang menerangin isi kereta.



“Kenapa … kamu berpakaian seperti itu?” tanya Saku. Dan mendengar itu, Shuta membuka matanya. Lalu melihat Saku yang duduk di depannya, dia pun langsung berteriak memanggil nama Saku dengan terkejut.


Shuta mengikuti Saku keluar dari dalam kereta. Dan dengan masih kebingungan, Shuta merebut koran seseorang untuk melihat tanggal berapa hari ini. “2010… 2 tahun yang lalu,” gumam Shuta.


Saku merebut kembali koran yang Shuta ambil, kemudian dia mengembalikan koran tersebut dan meminta maaf. Dengan masih kebingungan serta tidak percaya, Shuta menanyakan tanggal berapa hari ini.

“20 Desember. Apa kamu baik- baik saja?” tanya Saku, heran.

“Sehari sebelum kematianmu?” gumam Shuta dalam pikirannya.



Saku memperhatikan jam tangan yang dipakai oleh Shuta, dan mengatakan bahwa sepertinya dia pernah melihat jam tangan itu.

“Aku datang dari masa depan,” kata Shuta, tanpa sadar. Dan tentu saja, Saku tidak mempercayai nya sama sekali. Lalu Shuta berusaha menyakinnya, tapi akhirnya dia menyerah, karena Saku tetap tidak percaya padanya.

“Kita harus segera berangkat, kalau terlambat Michiru pasti akan berisik,” kata Saku, mengajak Shuta untuk cepat.



Ketika melihat Michiru ada di hadapannya, Shuta menyapanya dan mengatakan, ‘lama tidak berjumpa’ pada Michiru. Dan mendengar itu, Michiru merasa sangat heran, karena perkataan itu terasa seperti mereka sudah lama tidak bertemu. Kemudian Michiru mengomentari Shuta yang berpakaian aneh.


“Hari ini dia aneh sekali, apa karena dia habis memakan jamur yang tumbuh di belakang gedung olahraga, ya. Katanya dia penjelajah waktu,” kata Saku mengomentari Shuta.

“Kamu mau saja makan jamur seperti itu, untunglah perutmu tidak bermasalah,” kata Michiru mengetawai Shuta.


Benar juga, 2 tahun yang lalu. Hari ini, aku keracunan makanan dan terkena diare. Gara-gara itu, saat pertandingan keesokan harinnya, aku sama sekali tidak bisa berkutik.

“Sialan Saku!” kata Shuta dulu, karena Saku membuatnya memakan jamur aneh.


Saku menanyakan kepada Michiru, mengapa Michiru menyuruh mereka berdua untuk datang ke sekolah. Tapi Michiru tidak mau memberitahu. Dan saat mengetahui bahwa mereka datang untuk bersih- bersih sekolah, Shuta serta Saku pun mengomel, karena ini seharusnya adalah pekerjaan anggota OSIS.

Namun Michiru menenangkan mereka berdua untuk tidak mengomel, karena ini adalah sesuatu yang akan menjadi kenangan indah nantinya.


“Kalau aku tidak masalah, tapi Shuta besok ada pertandingan penting, tahu!” kata Saku, protes.

“Kamu ada latihan basket jam berapa?” tanya Michiru.

“Sudahlah, besok kami pasti kalah,” jawab Shuta, acuh. “Aku mengincar 3 point. Tapi gagal,” kata Shuta sambil bersikap melempar bola.


Saku mengetawai Shuta, dan menceritakan kepada Michiru mengenai Shuta yang mengaku datang dari masa depan. Buktinya adalah jam tangan mesin waktu. Mendengar itu, Michiru tertawa dan tidak percaya juga. Lalu Michiru memotret mereka berdua.

Setelah selesai bersih- bersih, Michiru mengajak mereka berdua untuk berfoto bersama.



Kalau hari ini memang benar 20 desember 2 tahun yang lalu. Maka besok. Michiru akan pergi ke Inggris tanpa memberitahu kami.



Acara foto- foto berlanjut. Mereka bertiga terus berfoto bersama, disetiap tempat dan disetiap sudut sekolah, tempat dimana mereka melakukan kegiatan bersih- bersih. Lalu terakhir, didalam labor. Disana Michiru menemukan beberapa prisma kaca kecil di dalam laci, dan dia terpikirkan akan sesuatu ide yang bagus.



Michiru menempelkan prisma- prisma kecil tersebut ke tali. Dan kemudian Shuta serta Saku menggantungnya di depan jendela. Lalu setelah semua selesai, mereka duduk bersama dan memandangin cahaya yang prisma- prisma itu hasilkan didalam ruangan.



“Aku pasti tidak akan melupakan pemandangan ini,” kata Michiru kepada mereka berdua.

“Sebelumnya juga pernah ada hal seperti ini, kan?” tanya Shuta, teringat akan pelangit yang mereka lihat ketika kelas 3 SD dulu. Dan Saku serta Michiru mengiyakan.


Michiru mengambil kamera dan memotret cahaya yang prisma- prisma hasilkan. “Waku ini… akan abadi selamanya,” gumamnya.



Tiga teman seklub basket Shuta. Ketika mereka melihat Shuta yang berada didalam ruangan labor dari luar jendela, mereka merasa heran. Karena setahu mereka, Shuta mengatakan bahwa dirinya keracunan makanan, sehingga dia tidak bisa datang.

“Alasan ya.. tidak akan ku biarkan,” kata seorang teman Shuta. Lalu dia melemparkan bola basket yang dibawanya.



“Michiru, kamu besok…” kata Shuta ingin bertanya. Tapi tiba- tiba saja dari belakang, kepalanya terpukul bola basket. Dan lalu dia pun menghilang dari sana.

Melihat itu, Saku serta Michiru merasa sangat heran. “Shuta?”

1 comment: