Sunday, April 21, 2019

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 06 – 1

0 comments
Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 06 – 1
Images by : jTBC
Semua karakter, organisasi, tempat, kasus, dan insiden dalam drama ini fiktif

 Mendengar Joon Seok yang berteriak menyalahkannya, membuat Eun Joo secara refleks menampar putranya. Joon Seok langsung berlari keluar rumah dengan marah karena di tampar, dan pas dengan Jin Pyo yang baru pulang.
--
Moo Jin berlari keluar kamar dan berteriak memanggil dokter karena tangan Sun Ho bergerak. Sementara In Ha menangis bahagia.
--
Jin Pyo masuk ke dalam rumah dan menghampiri Eun Joo. Dia bertanya, apa yang terjadi?
--

In Ha mencoba bicara dengan Sun Ho, dia bertanya, apakah Sun Ho mendengar suaranya? Dan tangan Sun Ho bergerak sedikit. Dokter masuk dan mulai memeriksa kondisi Sun Ho.
--

Eun Joo menatap Jin Pyo, dan Jin Pyo memintanya memberitahu apa yang terjadi. Eun Joo dengan gugup menjawab tidak ada apapun. Tapi, Jin Pyo tidak percaya, dan hal itu membuat Eun Joo berteriak menyuruh JIn Pyo tidak memerintahnya.
“Aku rasa Joon Seok hanya terlalu stress karena belajar. Dia baik-baik saja hingga 1 tahun yang lalu. Dia sangat sensitif belakangan ini. Dan itu membuatku menjadi sedikit sensitif,” bohong Eun Joo.
“Hanya itu saja?”
“Itu saja.”
Tapi, Jin Pyo terus bertanya, “Ku rasa kau lupa sesuatu. Aku adalah suami dan ayah Joon Seok. Apa kau tahu apa yang ku rasakan?”
Mereka mulai bertengkar. Baginya, Jin Pyo pun tidak peduli apa yang dia dan Joon Seok rasakan. Jin Pyo hanyalah memerintah, mengkritik dan memaksa Joon Seok tanpa memujinya atas apa yang telah Joon Seok lakukan. Joon Seok selalu berusaha keras untuk membuat Jin Pyo kagum, tapi Jin Pyo tidak tahu apapun.
“Apa kau tidak merasa kalau sikap terlalu melindungimu lah yang menghancurkannya?” tanya Jin Pyo balik. “Semua orang tua mencintai anak mereka. Aku juga. Tapi, Joon Seok terlahir di kelas berbeda. Dia satu-satunya pewaris untuk Yayasan Seah yang berusia 100 tahun. Dan dia anakku. Membiarkannya tubuh menjadi orang bodoh yang di jilat oleh pujian?! Aku tidak bisa membiarkannya.”
“Kau terdengar seperti ayahmu,” balas Eun Joo dan kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Eun Joo mengambil mantel bajunya. Dia ingin keluar rumah menjadi Joon Seok.
--
Joon Seok berjalan sendirian seperti orang linglung. Dia masih shock atas tamparan Eun Joo padanya.
--
Eun Joo berusaha menelpon Joon Seok, tapi ponsel Joon Seok tidak aktif.

Jin Pyo memperhatikannya. Dan ingat hari dimana dia melihat Eun Joo membuat sebuah kancing baju sekolah Seah ke kloset kamar mandi. Ternyata, di hari itu, Jin Pyi membilas kancing itu hingga masuk ke dalam kloset. Dia memilih untuk menutup mata.

Dan entah kenapa, dia malah sekarang melihat ke sebuah arah.
-Berat dari Kebenaran dan Kebohongan-
Dokter menjelaskan pada In Ha dan Moo Jin kalau pergerakan Sun Ho menandakan hal positif kalau dia menjadi lebih baik. Tapi, dia ragu kalau Sun Ho dapat sembuh lebih jauh lagi. Karena dia melihat CT Scan dan MRI yang di ambil dari rumah sakit sebelumnya, dan hasilnya menunjukan terlalu banyak kerusakan di otak. Sun Ho mungkin bergerak sedikit, tapi itu tidak seperti dia akan sembuh sepenuhnya.
“Aku dengar beberapa orang yang dalam kondisi koma dapat sembuh,” harap In Ha.
“Itu sangat jarang. Hampir seperti keajaiban.”
“Tapi, itu bukan berarti tidak mungkin!” teriak In Ha.
“Tolong lakukan MRI lagi,” pinta Moo Jin. “Hasilnya mungkin akan berbeda kali ini.”
Dan dokter setuju. Dia akan melakukan CT Scan dan MRI sekali lagi.
--

Eun Joo pergi ke warnet mencari Joon Seok, tetapi tidak ada. Eun Joo benar-benar takut apalagi saat mengingat kemarahan Joon Seok padanya. Dia terus berjalan dan berjalan berharap menemukan Joon Seok, tapi tidak ada.
Dan semakin mengingat perkataan Joon Seok, yang berkata kalau Sun Ho sampai mati, maka Eun Joo lah yang telah membunuhnya. Hal itu sangat menyayat hati Eun Joo dan membuatnya ketakutan. Dia sampai jatuh terduduk di trotoar dan menangis. Setiap orang yang lewat di sekitarnya, menatap aneh padanya.
--
Joon Seok masih berjalan dalam keadaan linglung. Dia mengingat perbincangannya dengan Sun Ho di atap waktu itu.
Flashback
“Dia (sepertinya Da Hee) mencoba bunuh diri karena kau!” teriak Sun Ho.
“Tidak bisa di percaya.”
“Apa? Hanya itu reaksimu,” ujar Sun Ho penuh amarah.
Joon Seok malah tetap tenang. Dia berkata kalau hanya mempermainkannya. Karena gadis itu adalah gadis yang Sun Ho sukai tapi malah menyukainya. Jadi, dia ingin mengganggu. Itulah kenapa dia bersenang-senang dengannya dan kemudian mencampakkannya. Tapi, gadis itu malah merengek padanya di telepon dan berkata itu salah Joon Seok dan dia akan mati. Tapi pada akhirnya apa? Gadis itu kan tidak mati. Dia masih hidup dan baik-baik saja.
Sun Ho sangat marah mendengar ucapan Joon Seok yang tanpa rasa bersalah dan memukul pipi-nya. Joon Seok jadi emosi juga.
“Kau bukan manusia. Kau gila!” umpat Sun Ho.
“Jangan kelewatan batas!”
“Aku akan mengatakan yang sebenarnya.”
Dan kembali ke adegan Joon Seok yang berjalan dalam keadaan linglung.
“Aku bilang yang sebenarnya! Tidak kah kau percaya padaku?! Tidakkah kau percaya pada temanmu?!” teriak Joon Seok.
“Teman? Aku bukan temanmu. Kau menganggapku remeh. Kau mengira aku penurut karena aku tahan padamu.”
“Kau tahan padaku?”
“Ya, aku bertahan padamu. Kau tahu kenapa aku melakukan itu padamu? Karena aku mengira kita adalah teman. Yang lain mungkin tidak mengerti kau, tapi aku bisa. Aku ingin percaya kalau kau bukanlah yang terburuk.”
Joon Seok menangis.
“Kau pengecut. Pengecut yang terburuk. Kau… sampah!” ujar Sun Ho.
“Benar! Aku melakukannya. Itu yang ingin kau dengarkan?!” teriak Joon Seok.
End
Joon Seok menangis semakin keras.
--

Det. Kim memberitahu det. Park kalau dia sudah memeriksa CCTV sebisanya, tapi tidak ada hal baru apapun. Dan dia merasa sudah cukup. Det. Park masih memeriksa CCTV itu lebih detail, karena di sudut CCTV yang tidak terekam, ada terlihat kalau Sun Ho bicara dengan seseorang.
--

Moo Jin dengan In Ha masih di ruang rawat Sun Ho. Moo Jin bertanya, apa In Ha ingin bicara dengan anak-anak itu. In Ha mengiyakan karena hanya itu satu-satunya jalan. Polisi dan sekolah tidak mau mendengarkan mereka.
Moo Jin tidak setuju. Dan In Ha makin emosi, bukankah mereka sudah melihat tali sepatu itu. Mereka mulai berdebat lagi.
“Jadi apa intinya? Kau menyuruhku untuk tetap diam saja? Dan aku harus tetap diam dan menunggu hingga Sun Ho sadar?!”
“Apa yang kau lakukan hanya menghabiskan energi kita. Itu hanya akan membuatmu dan Soo Ho kesulitan!”
“Kau salah paham, sayang. Kau kira aku melakukan ini untuk balas dendam pada anak-anak itu kan?”
“Bukan itu maksudku. Aku hanya berkata pengajuan ulang akan tidak berarti…”
“Kenapa tidak berarti?! Kita harus mengajarkan mereka kalau apa yang mereka lakukan itu salah. Mereka harus tahu apa yang mereka lakukan sangat kejam. Jika kita hanya membiarkan ini saja, mereka akan melakukannya lagi. ‘ah, aku rasa aku boleh melakukan ini. Ini bukanlah perkara besar.’ Mereka kita mereka akan bisa menyelesaikan hal ini hanya dengan kerja sukarela di sekolah selama 3 hari. Apa aku salah di sini?! Kau bilang ini menghabiskan energi, dan semua ini tidak berarti. Tapi, kau hanya membuat alasan. Kau hanya ingin menghindari ini. Kau hanya ingin berbalik. Kau selalu seperti itu. Kau tidak pernah menyukai konflik. Jadi, kau selalu berkata kau baik-baik saja dengan segalanya. Tapi, dengarkan aku, kau tidak bisa seperti ini untuk hal ini. Kita harus berjuang demi Sun Ho. Kita harus berjuang deminya sebagai orang tuanya. Itu hal yang benar,” ujar In Ha.
Dan Joon Ha mendengar semuanya dari luar. Dia hendak pergi, memberikan waktu bagi In Ha dan Moo Jin, tapi ternyata Moo Jin sudah keluar. Di luar, Joon Ha menyemangati Moo Jin dan berkata kalau Moo Jin sangat melengkapi kakaknya. Walau sudah bertengkar dengan In Ha pun, Moo Jin masih meminta Joon Ha untuk memastikan agar In Ha makan.

Joon Ha masuk ke dalam. Seperti biasa, dia berusaha tampak bahagia. Dia memuji wajah tampan Sun Ho dan senang karena Sun Ho sudah mulai menunjukkan perkembangan. Kemudian, dia mulai bicara dengan In Ha. 
Joon Ha memeluk In Ha dan berusaha membuat In Ha tidak stress. Dia berkata kalau Sun Ho sudah memberi tanda dengan jarinya seolah bilang kalau dia akan sadar, jadi mereka tidak boleh khawatir.
“Kakak ipar juga berjuang. Hanya saja caranya berbeda dari eonni. Tapi, kau tahu lebih baik dari siapapun… kalau dia berjuang dengan segenap kekuatannya. Itu bukan seperti dia tidak punya pendapat sendiri. Dia hanya khawatir kalau kau dan Soo Ho akan terluka dan itu mungkin akan melukai anak-anak yang mencelakai Sun Ho.”
“Kenapa dia harus mengkhawatirkan mereka? Dia harus memikirkan apa yang sudah mereka lakukan pada Sun Ho.”
“Itulah bagaimana kakak ipar. Dia hanya sangat terlalu baik. Eonni yang bilang sendiri kan, kalau menikahinya karena dia terlalu baik.”
--
Dalam perjalanan pulang, hati Moo Jin juga tidak tenang.

Flashback
Sun Ho meminta izin agar ayahnya membiarkannya belajar tinju. Moo Jin jelas heran dengan permintaan Sun Ho yang tiba-tiba. Dan Sun Ho beralasan kalau dia hanya ingin menjadi lebih kuat. Seorang lelaki kan harus tahu caranya bertengkar. Tapi, Moo Jin malah berkata kalau Sun Ho sudah kuat, karena Sun Ho memiliki kebaikannya. Kekuatan sejati adalah datang dari menjadi orang baik seperti Sun Ho.
“Kekuatan sejati datang dari… hati. Dan sini. Menjadi baik dan berpikir baik.”
“Tapi bukankah Issac Newton juga menghajar orang yang membully-nya?” tanya Sun Ho.
“Seseorang membully-mu? Siapa? Ayah akan memberinya pelajaran…”
“Tidak. Aku hanya merasa kalau belajar tinju akan berguna suatu hari nanti.”
Tapi, Moo Jin masih belum mengerti tujuan Sun Ho sebenarnya waktu itu, dan malah menyarankan agar Sun Ho lari pagi saja bersamanya besok pagi. Saat itu, Sun Ho tampak kecewa.
End
Moo Jin menghela nafas mengingat hal itu. Saat di lampu merah, dia melihat Joon Seok yang berjalan sendirian. Dan dia pun menghampirinya. Joon Seok tampak takut melihat Moo Jin. Tapi, Moo Jin tidak menyadari hal itu dan bertanya kenapa Joon Seok sendirian di luar padahal sudah hampir jam 10. Dia menawarkan diri untuk mengantar Joon Seok pulang. Joon Seok menolak karena dia bisa pulang sendiri.
Tapi… entah bagaimana, dia akhirnya di antarkan oleh Moo Jin. Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam.
“Kau harus menjenguk Sun Ho. Kau berhutang maaf padanya,” ujar Moo Jin.
“Aku minta maaf.”
Suasana kembali hening.
Moo Jin akhirnya tiba di depan rumah Joon Seok. Joon Seok berterimakasih atas tumpangan Moo Jin padanya. Joon Seok sudah mau keluar, ketika Moo Jin memanggil namanya lagi.
“Joon Seok-ah. Tidak ada satupun yang sempurna. Setiap orang pernah membuat kesalahan di hidup mereka. Yang paling penting adalah apa yang mereka lakukan setelah itu. Bagaimana kau memilih untuk hidup setelahnya. Ada beberapa yang benar-benar menyesali kesalahan mereka… dan mencoba keras mejadi orang yang lebih baik. Dan ada juga yang tidak melakukannya. Ahjussi harap kau adalah orang yang akan mencoba menjadi orang yang lebih baik,” nasihat Moo Jin. “Jari Sun Ho bergerak hari ini. Itu pertanda bagus. Dia mungkin bisa sembuh. Sun Ho berusaha yang terbaik untuk sembuh. Aku harap kau berusaha juga.”
Joon Seok tidak tahu harus berkata apa karena terlalu terkejut mendengar perkataan Moo Jin. Dia keluar dari mobil Moo Jin dengan perasaan kacau. Dan setelah mobil Moo Jin pergi, pas sekali dengan Eun Joo yang tiba.
Dia segera berlari mengampiri Joon Seok dengan khawatir. Dia mencari Joon Seok dari tadi. Dia meminta maaf karena itu salahnya.
“Sun Ho… jari Sun Ho bergerak hari ini,” beritahu Joon Seok dengan ketakutan. “Bagaimana jika Sun Ho bangun, ibu? Bagaimana jika dia memberitahu semuanya?”
“Itu tidak mungkin. Itu perlu keajaiban.”
“Bagaimana jika keajaiban terjadi? Lalu apa? Aku harus mengaku pada ayah Sun Ho. Mungkin dia akan mengerti. Dia bilang padaku kalau setiap orang membuat kesalahan. Apa yang penting adalah setelahnya. Jika aku minta maaf dengan tulus, dia mungkin akan memaafkanku.”
“Jangan! Jangan Joon Seok! Kau tidak bisa memberitahu siapapun. Janji. Janji tidak akan pernah memberitahu siapapun.”
“Aku takut.”
“Dengarkan ibu. Apa yang terjadi hari itu, itu tidak pernah terjadi. Kau datang ke rumah bersama ibu setelah akademi. Ingat itu di dirimu, dan percayai hal itu. Tidak ada apapun yang terjadi. Itu yang benar.”
“Bagaimana jika polisi tahu?”
“Tidak mungkin. Karena kau pulang ke rumah dengan ibu. Benar? Tidak ada satupun yang mencurigaimu.”
“Siapa yang mengirimkan video itu? Jika orang itu punya ponsel Sun Ho, maka orang itu tahu segalanya.”
“Jika seseorang tahu hal itu, dia pasti sudah melakukan sesuatu. Sun Ho pasti menghilangkannya di suatu tempat.”
“Tidak. Sun Ho memiliki ponselnya. Aku mendengar ponselnya berbunyi. Aku jelas mendengarnya!”
Dan Eun Joo jadi takut.
--

Moo Jin sudah pulang dan masuk ke dalam kamar Soo Ho. Dia melihat Soo Ho yang tertidur dengan laptop yang menyala di pangkuannya. Jadi, Moo Jin memindahkan laptop itu ke atas meja. Saat itulah dia melhat petisi yang di tulis oleh Soo Ho.
--
Jin Pyo menelpon seseorang dan bertanya apa sudah di periksa? Orang yang di telepon menjawab kalau tidak ada apapun di rumah orang itu.
Dan tidak lama, Joon Seok dan Eun Joo masuk ke dalam rumah.
“Ikuti dia. Siapa yang dia temui, dan apa yang di lakukannya dan keluarganya. Selidiki setiap detail-nya,” perintah Jin Pyo. “Dia punya mata yang tajam. Jangan membuat kesalahan apapun.”
Setelah mematikan telepon, Jin Pyo menatap tajam ke Eun Joo.
--
Moo Jin membaca petisi yang di tulis oleh Soo Ho.
Hallo. Aku adalah murid kelas 8 SMP. Oppa-ku yang adalah murid kelas 9 SMP suka bermain sepak bola. Dia menyukai teman-temannya, mencintai keluarga dan suka tteokbokki pedas. Oppa-ku adalah orang yang baik dan murid biasa. Dia juga kutu buku. Suatu hari, di malam gerhana bulan, aku mendapat telepon yang mengatakan oppa-ku jatuh dari atap sekolah. Hingga hari ini, oppa terbaring koma di rumah sakit. Sekolah dan polisi memutuskan dia bunuh diri karena nilai yang buruk. Itu bukan hal benar.
Oppa adalah korban kekerasan sekolah. Si pelaku tidak lain adalah orang yang dia anggap sebagai sahabatnya. Ada 4 pelaku. Satu dari mereka tidak memukuli oppa-ku, tapi dia ada di sana sebagai penonton.
Jika bukan karena seseorang yang mengirimkan video kekerasa itu pada kami, sekolah dan polisi akan tetap mengatakan dia berusaha bunuh diri karena nilai yang buruk. Pelaku masih menyatakan kalau mereka hanya bermain dan itu hanyalah permainan. Mereka tidak menyesal dan tidak pernah meminta maaf. Sebaliknya, mereka mengejek oppa-ku dan tidak menunjukkan penyesalan apapun. Tapi, Komite Kekerasan Sekolah menghukum mereka dengan hukuman ringan yaitu 3 hari kerja suka rela. Dan untuk si penonton, tidak pernah menerima hukuman apapun. Dan mereka berkata kalau mereka sudah mendapat ganjaran, sebaliknya kami tidak percaya kalau oppa bunuh diri. Sekolah dan polisi berkata kalau semua sudah berakhir.
Tapi keluargaku baru akan mulai. Tolong bantu kami menyelesaikan dendam oppa-ku. Tolong tanda tangani petisi ini dan sebarkan pada semuanya jadi semakin banyak orang yang melihat dan memberikan kami kekuatan.
Berikan kami kekuatan jadi kami tidak akan menyerah dan dapat melaluinya.
Eun Joo menelpon seseorang dan berkata pada orang yang di teleponnya kalau mereka harus bertemu.
Joon Seok menelpon Da Hee, tapi tidak di angkat. Dan karena marah, Joon Seok membanting ponselnya.
Ahjussi toko bunga melihat petisi yang Soo Ho buat, dan dia menandatangani petisi tersebut. Sudah ada 5 orang yang tanda tangan.
Moo Jin pergi ke kamar Sun Ho dan melihat setiap sudutnya. Soo Ho terbangun dan mengampiri Moo Jin.
“Apa baik-baik saja?”
 “Hah? Tentu saja, ayah baik-baik saja.”
“Bagaimana bisa ayah selalu baik-baik saja? Ayah selalu berkata baik-baik saja.”
“Itu karena ayah baik-baik saja. Kau sangat pandai menulis.”
“Kau membacanya? Maafkan aku karena tidak memberitahu. Tapi, itu terlalu tidak adil. Aku merasa seperti aku harus melakukan sesuatu.”
“Kau berani kau seperti ibumu. Mungkin di sekolah besok hal akan jadi heboh. Kau akan baik-baik saja?”
“Apakah itu akan baik-baik saja jika aku tidak? Ayah tidak perlu berpura-pura baik-baik saja. Menjadi tidak baik-baik saja bukan berarti ayah tidak punya keberanian,” ujar Soo Ho dan memeluk Moo Jin. “Kuatlah. Oppa juga tetap kuat. Jadi, ayah juga harus tetap kuat.”
“Kau sudah dewasa,” puji Moo Jin.
Soo Ho tersenyum dan berkata dia sudah dewasa dari dulu. Dia kemudian pamit untuk tidur.

No comments:

Post a Comment