Saturday, April 13, 2019

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 03 – 2

1 comments

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 03 – 2
Images by : jTBC
In Ha dan Moo Jin berada di sekolah. Myung Sun meminta maaf karena terjadi pembullyan pada Sun Ho. Dia benar-benar minta maaf mewakili sekolah karena tidak tahu hal seperti ini terjadi.
“Kami datang bukan untuk menerima kata maaf. Kami ingin Anda mengatur komite untuk menangani masalah ini,” ujar In Ha.
“Kami berencana untuk melakukan yang terbaik untuk mengungkap masalah ini. Tapi… korban, Sun Ho, masih belum bisa memberikan pernyataan. Aku rasa akan ada kesulitan untuk menilai apa yang sebenarnya terjadi.”
“Anda melihat video itu!”
“Jangan salah paham. Aku tidak bermaksud lain. Masa depan para murid ini dalam bahaya. Bagaimana kalau kau mencoba bicara dengan ibu-ibu mereka terlebih dahulu?” saran Myung Sun.
“Itu setelah komite menilai hal ini,” balas Moo Jin.
Sang Bok membenarkan dan memberitahu kalau mereka sudah akan membentuk komite untuk menyelesaikan masalah ini.
--
Selesai bicara dengan Myung Sun dan Sang Bok, In Ha dan Moo Jin bicara dengan Jin Woo. Mereka memberitahu kalau mereka merasa kalau ini bukan hanya bully, tapi ada hal lebih. Mereka tidak mengatakannya tadi karena mereka yakin kalau Myung Sun dan Sang Bok hanya akan mengatakan hal yang sama.
“Jika Sun Ho tidak berada di atap atas keinginannya sendiri dan dia jatuh ketika mencoba lari dari yang lain, maka ini adalah kejahatan, percobaan pembunuhan,” lanjut In Ha.
“Kami sudah mengatakannya pada polisi yang bertugas di sekolah ini. Kami memberitahumu karena kami merasa kau seharusnya tahu,” lanjut Moo Jin.
“Anda kelihatannya… memikirkan sampai ke sana karena ponsel dan diary itu. Mereka ini hanyalah murid SMP. Remaja menghilangkan bukti? Aku tidak bisa membayangkan hal itu.”
“Aku juga seorang guru. Dan aku merasa buruk membuat para murid terlihat seperti kriminal. Aku berharap lebih dari apapun kalau ini bukanlah kebenarannya. Daripada terus mencurigai anak-anak dan marah, bahkan jika sekarang ini terasa berat, mengabaikan keraguan adalah ha yang benar yang harus dilakukan sebagai orang tua dan guru.”
“Aku mengerti yang Anda maksudkan,” ujar Jin Woo dan berkata akan mencoba berbicara dengan anak-anak walaupun dia tidak berada dalam komite. “Maafkan aku. Andai saja aku menyadari … aku bisa menghentikan hal itu. Aku benar-benar minta maaf.”
--
Jin Woo kembali ke ruang kerja usai bicara dengan In Ha dan Moo Jin. Young Joo menghampirinya dan bertanya, apa orang tua Sun Ho masih di ruang kepsek? Jin Woo menjawab kalau mereka sudah pulang. Kenapa?
“Soo Ho bolos. Tas-nya juga tidak ada.”
“Apa kau sudah menelponnya?”
“Ponselnya mati.”
Saat sedang berbincang, Sang Bok menghampiri Jin Woo dan bertanya, apakah Sun Ho adalah anak yang sensitif atau… ya tahulah ana-anak zaman sekarang ini.
“Maksud Anda, emosi tidak stabil?” tanya Kang Ho, ikut nimbrung.
“Ya, benar. Itu maksudku. Apa dia menunjukkan gejala itu?”
“Tidak. Dia itu anak yang tenang,” balas Jin Woo dengan nada kesal.
“Anak yang tenang bisa meledak hanya karena hal kecil dan membuat masalah besar!” balas Sang Bok juga. “Na Sung Jae mendapat nilai yang bagus dan dari keluarga terkemuka. Keluarganya kelihatan tidak punya masalah apapun. Lee Ki Chan tumbuh di keluarga yang cukup kaya juga. Jo Young Chul, bukankah dia di besarkan ibu tunggal kan?”
“Ya, tapi itu tidak berarti kalau Young Chul bermasalah…”
“Ini terjadi karena kau tidak memperhatikan murid-muridmu,” marahi Sang Bok.
Dia kemudian bertanya pendapat Kang Ho. Dan Kang Ho malah berpendapat kalau itu sepertinya di mulai dengan game, tapi mereka menjadi bersemangat dan menjadi sedikit kelewatan.
“Itu adalah game kasar, itu yang kau lihat kan?”
“Eh, jika itu yang ingin kau lihat, maka seperti itu,” jawab Kang Ho membenarkan dengan ragu.
“Sebagai kepala yang mengurus permasalahan sekolah dan Komite Kekerasan Sekolah, kau harus melakukan banyak hal sekarang,” ujar Sang Bok.
“Ya, pak.”
Dan dia menyuruh Young Joo untuk membantu Kang Ho. Tampak kalau para guru tidak begitu menyukai Sang Bok.
--
Kang Ho, Jin Woo dan Young Joo berjalan bersama di koridor kelas. Kang Ho mengeluh mengenai tugas yang di terimanya. Jin Woo tampak malas mendengarnya dan langsung berjalan cepat ke dalam kelas. Sementara itu, Young Joo ingin menelpon orang tua Soo Ho. Kang Ho dengan kepo bertanya, ada masalah apa?
--
In Ha lagi di toko kue-nya. Joon Ha bertanya dimana Moo Jin.
“Di kerja. Dia akan mencoba memperpanjang masa cutinya hingga komite berakhir.”
“Bahkan jika dia mendapatkan cuti, dia akan berakhir di sekolah.”
“Kau benar.”
“Orang-orang itu sangat menyeramkan. Mereka seharusnya sudah tahu sekarang. Kenapa tidak ada satupun yang menelponu untuk meminta maaf? Bahkan jika mereka berlutut atau memohon, aku mungkin tidak akan memaafkan mereka,” gerutu Joon Ha.
“Aku tidak berencana memaafkan mereka. Atau menerima maaf mereka.”
“Begitu. Tapi, kau cukup dekat dengan ibu Young Chul. Jika dia meminta maaf…”
Belum sempat Joon Ha menyelesaikan perkataannya, In Ha sudah menghindar dengan alasan ingin melihat tepung.
Saat itu, In Ha mendapat telepon dari Young Joo. Dan tentu saja dia terkejut mendengar Soo Ho bolos.
--
Soo Ho pergi ke toko bunga kemarin. Dia meminta ahjussi untuk membuatkan buket bunga yang sama seperti yang dia buatkan untuk oppa-nya terakhir kali.
--
In Ha menelpon ke ponsel Soo Ho, tapi tidak aktif. In Ha menjadi khawatir. Dia mulai takut dan berpikiran kalau Soo Ho mungkin sudah melihat video itu. Dia meletakkan ponselnya di meja tadi pagi.
“Dia tidak bilang kalau dia melihat video itu,” ujar Joon Ha.
“Aku pulang dulu. Dia mungkin sudah di rumah. Aku pergi ya.”

Tapi, baru dia keluar toko, dia malah bertemu dengan Eun Joo. Dia meminta waktu Eun Joo sebentar karena ada yang ingin dia bicarakan. In Ha berkata, lain kali saja. Eun Joo menawarkan diri untuk mengantar Eun Joo ke rumah.
--
In Ha menelpon Moo Jin dan memberitahu kalau Soo Ho tidak ada di rumah dan juga ponselnya di matikan. Moo Jin meminta In Ha untuk tenang karena Soo Ho pasti baik-baik saja. Soo Ho mungkin merasa tidak enak di sekolah dan dia akan kembali ketika sudah merasa lebih baik.
Selesai berteleponan dengan In Ha, Moo Jin melihat salah seorang muridnya di lapangan sekolah : Dong Soo, kakak Dong Hee. Dia menghampiri Dong Soo dan bertanya dari mana? Harusnya kan Dong Soo di kelas.
“Aku ke apotik karena sakit kepala.”
“Apa kau akan terus seperti ini?”
“Itulah kenapa kau seharusnya membiarkanku berhenti sekolah.”
“Kau serius? Mari bicara lain kali. masuklah ke kelas. Apa kau sudah makan? Kau belum makan?” tanya Moo Jin dan hendak memberikan uang makan untuk Dong Soo.
“Aku sudah makan,” jawab Dong Soo dan berjalan masuk ke sekolah.
“Jangan berkeliaran dan berkelahi dengan anak lain,” nasihat Moo Jin dan berjalan ke mobilnya.

Dong Soo memperhatikannya. Dia teringat ucapan adiknya kalau tidak ada alasa bagi Sun Ho untuk bunuh diri. Dia menghela nafas dan berkata pada dirinya sendiri untuk tidak terlibat.
--
Eun Joo menemani In Ha. In Ha tampak panik. Eun Joo memintanya untuk tenang, Soo Ho pasti baik-baik saja.
“Setelah yang terjadi pada Sun Ho, bahkan hal kecil saja membuatku sangat cemas. Aku rasa inilah yang dinamakan trauma.”
“Aku mengerti. Aku mungkin akan merasakan hal yang sama.”
“Aku hanya melihat hal seperti ini di berita. Aku tidak pernah mengira kalau hal ini akan terjadi pada putraku. Apa yang ingin kau katakan tadi?”
“Itu…,” gugup Eun Joo. “itu…”
“Apa itu terkait Sun Ho?”
--
Joon Seok sudah bicara dengan Jin Woo, sama seperti apa yang Jin Pyo katakan padanya. Jin Pyo berteriak kalau seharusnya Joon Seok menghentikan hal tersebut jika melihatnya!
“Saat itu, aku mengira kalau itu hanyalah candaan. Aku sempat berpikir kalau mereka sudah keterlaluan, tapi aku tidak berpikir kalau itu adalah kekerasan. Aku minta maaf.”
“Kenapa kau tidak mengatakannya saat di wawancarai saat itu?”
--
Eun Joo juga mengatakan hal yang sama pada In Ha. Apa yang di katakannya sama seperti yang Jin Pyo katakan. In Ha kecewa mendengarnya dan juga marah. Eun Joo menerima hal itu, dia juga marah saat mendengar hal itu dari Joon Seok.
“Tapi, aku tidak berpikir kalau Joon Seok akan bisa membuat penilaian yang benar. Awalnya itu hanyalah candaan, jadi aku rasa dia bingung harus bereaksi bagaimana.”
“Itu yang dia katakan? Apa dia bilang padamu kalau semua itu hanyalah candaan?”
“Tidak, bukan itu maksudku. Bagaimana bisa itu candaan? Aku bilang kalau dia bingung saat itu, tapi dia benar-benar tidak berpikir kalau itu adalah candaan di titik ini. Dia benar-benar menyesal tidak menghentikan mereka saat itu. Jika dia bisa memutar waktu… jika dia bisa melakukannya, dia akan membuat keputusan yang berbeda. Jika dia melakukannya…”
“Eun Joo-ah.”
“Maaf,” tangis Eun Joo. “Aku tahu ini tidak berguna untuk menyesali yang telah terjadi.”
In Ha menangis. “Apakah Joon Seok melalui masa sulit?”
“Ya, tentu saja. Itu bukanlah apa-apa jika di bandingkan yang terjadi pada Sun Ho. Tapi, dia benar-benar kesulitan. Dia merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Sun Ho. Aku tahu perintaan maaf tidak akan menyelesaikan hal ini, tapi aku merasa kalau meminta maaf padamu terlebih dahulu adalah hal yang benar.”
“Sejujurnya, aku benar-benar membenci Joon Seok atas apa yang dia lakukan. Tapi… kau membuatku memahaminya dan aku juga merasa bersyukur. Setelah yang terjadi pada Sun Ho, aku mulai menyadari kalau orang bisa sangat mengerikan. Dan aku juga belajar kalau sangat sulit memahami rasa sakit orang lain ketika kau tidak pernah melaluinya sendiri.”
Eun Joo terus meremas tangannya penuh kecemasan dan ketakutan. Entah apa yang dia sembunyikan.
“Jika aku menjadimu, aku rasa aku tidak akan bisa mampu mengatakan yang sebenarnya. Terimakasih,” ujar In Ha.
Eun Joo tampak semakin bersalah.
--
Sementara itu, Jin Woo juga berterimakasih pada Joon Seok karena sudah memberanikan diri untuk menceritakan hal tersebut. Dia juga membiarkan Joon Seok untuk kembali ke kelas. Kang Ho juga memuji Joon Seok yang telah melakukan hal yang benar.

Setelah keluar dari ruang guru, Joon Seok yang awalnya tampak cemas, perlahan mulai tersenyum. Langkah kakinya juga semkain ringan dan cepat. Dia sudah tidak takut akan apapun.
--

Ibu Ki Chan, Sung Jae dan Young Chul bertemu. Ibu Ki Chan memaki In Ha yang membuat anak-anak mereka masuk ke Komite Kekerasan Sekolah! ibu Sung Jae memberitahu kalau In Ha juga meminta petugas untuk mencari tahu alibi anak-anak mereka di hari Sun Ho bunuh diri.
“Apa?! Tidak bisa di percaya!” kesal ibu Ki Chan. “Apa kau yakin mentalnya tidak sakit?” tanyanya pada Seok Hee.
“Siapa yang memberitahumu hal itu?” tanya Seok Hee.
“Suamiku adalah pengacara untuk para kriminal. Jadi dia mengenal banyak orang di kantor polisi. Tapi, ini hanyalah investigasi kekerasan sekolah jadi mereka tidak akan bertindak jauh.”
Ibu Ki Chan mulai mengumpati In Ha lagi. dia bahkan berkata pantesan saja Sun Ho tumbuh menjadi anak yang lemah. Seok Hee tidak suka mendengarnya dan memperingatinya untuk tidak pernah berkata hal seperti itu lagi! coba bayangkan berada di posisi In Ha, apa masih bisa berkata seperti itu?!
“Jika kau sangat peduli pada ibu Sun Ho, kenapa tidak kau katakan kepadanya padahal kau yang pertama kali tahu hal ini!” marah ibu Ki Chan.
Seok Hee jadi terdiam.
“Ki Chan bilang padaku kalau Young Chul adalah orang yang paling banyak memukul Sun Ho! Dan Joon Seok yang memimpin hal itu!”
“Apa maksudmu, Joon Seok adalah ketuanya?” tanya Seok Hee.
“Mereka melakukannya karena Joon Seok yang menyuruh mereka. Young Chul tidak memberitahumu?”
“Tidak. Apa kau juga mendengarnya dari Sung Jae?”
“Aku rasa… kita harus lebih berhati-hati mengenai cerita itu.”
“Apa maksudmu?”
“Ayah Joon Seok adalah direktur yayasan.”
“Itu lebih baik! Jika dia tahu kalau putranya adalah ketuanya, dia akan melakukan sesuatu,” ujar ibu Ki Chan.
“Suamiku memberitahuku kalau Joon Seok tidak terlibat langsung dalam penganiayaan itu. jadi, dia bisa bebas. Anak kita harus sekolah, dan tidak akan ada hal baik yang kita dapatkan jika melawan yayasan.”
Ibu Ki Chan dengan tegas menegaskan kalau dia tidak akan tinggal diam jika anaknya di fitnah.
--
Soo Ho membawa buket bunga dan mencari jalan Geotop-dong, 627. Dan akhirnya dia menemukannya. Dia menekan bel rumah, tetapi tidak ada yang keluar.

Seorang wanita yang baru pulang melihatnya dan bertanya ada apa? Dia melihat pakaian sekolah Soo Ho dan melihat Soo Ho yang membawa buket bunga. “Apa kau teman sekolah Da Hee?”
“Tidak, oppaku yang sekelas dengan Da Hee eonni.”
“Siapa nama oppa-mu?”
“Park Sun Ho.”
Mendengar nama Sun Ho, wajah wanita itu berubah. Dia bertanya darimana Soo Ho mendapat alamat rumah ini? Soo Ho menjawab seorang teman yang memberitahunya.
“Apa Da Hee eonni ada di rumah?”
“Tidak. Kenapa kau ingin menemuinya?”
“Tolong berikan ini pada Da Hee eonni,” ujar Soo Ho dan memberikan buket bunga yang di bawanya. “Oppa ku ingin memberikan ini padanya tapi tidak bisa. Aku ingin membawakan ini mewakilinya.”


Dan wanita itu masuk ke dalam rumah. Saat Soo Ho berjalan pergi, dia melihat seseorang mengintip nya dari jendela. Itu adalah Da Hee. Tapi, Da Hee segera menutup jendelanya dengan tirai. Dan Soo Ho melihat kalau buket bunga yang di bawanya, di buang wanita itu (ibu Da Hee) di tong sampah depan rumah. Soo Ho kecewa.

Dia berjalan pergi. Tapi, kemudian berbalik dan mengambil kerikil kecil dan melemparnya ke jendela rumah. Tapi, lemparannya terlalu kuat hingga membuat kaca rumah malah pecah. Soo Ho kaget. Ibu Da Hee keluar, dan Soo Ho langsung kabur.
--
Jin Woo menelpon ke In Ha. Dia bertanya apa dia sudah mendengar dari Soo Ho? Ibu Da Hee menelponnya.
--

Moo Jin pergi ke rumah sakit. Dia bertanya pada suster, “Apa Soo Ho ada kemari?”
“Tidak. Apa terjadi sesuatu padanya?”
“Jika kau melihatnya, tolong telepon aku.”
--
In Ha mencari di sekitar rumah tapi Soo Ho tidak ada. Dia benar-benar panik dan menelpon Moo Jin. Moo Jin juga sama paniknya. In Ha takut kalau Soo Ho melakukan hal bodoh. Moo Jin menenangkannya dan terus mencari Soo Ho. Dia menyuruh In Ha untuk pulang ke rumah saja.
“Soo Ho tidak suka ketika pulang ke rumah tidak ada siapapun,” ujar Moo Jin.
In Ha mengerti dan berbalik pulang.
Moo Jin masih terus mencari In Ha.
--
In Ha sudah tiba di rumah, tapi Soo Ho masih belum ada. Dia menghela nafas khawatir. Dia mulai membayangkan Soo Ho yang pulang saat rumah dalam keadaan sepi dan duduk sendirian di meja makan. Membayangkan hal itu, hati In Ha merasa sakit.
Saat itulah ponselnya berbunyi. Dari Soo Ho.
“Soo Ho kau dimana?”
“Soo Ho, dia sedang di kamar mandi,” ternyata yang menelpon adalah ahjussi toko bunga. “Saya? Hallo, aku adalah pemilik dari toko bunga.”
Dan In Ha menuju toko bunga. Dia sudah memberitahu ke Moo Jin juga.
--
Soo Ho keluar dari kamar mandi dan heran melihat ahjussi yang sedang seperti menunggu seseorang. Dengan jujur ahjussi memberitahu kalau dia menunggu ibu Soo Ho. Dia sudah menelpon ibu Soo Ho.
“Kau melihat ponselku?”
“Maaf. Aku benar-benar tidak mau, tapi aku khawatir kalau kau mungkin akan pergi ke tempat lain. Aku tidak punya pilihan.”
“Kau terlalu dramatis.”
“Ini tanggung jawab dari orang dewasa untuk melindungi murid yang dalam masalah dan tidak punya tempat tujuan.”
“Aku punya banyak tempat tujuan.” 
“Soo Ho sejujurnya, kau sedikit lega karena kau menghentikanmu di sini kan?”
“Tidak,” bantah Soo Ho tapi wajahnya tidak seperti itu.
“Aku sudah memikirkannya dan ini terlalu mencurigakan. Kenapa wanita itu sangat membenci oppa-mu? Membuang buket bunga adalah emosi yang cenderung ke kebencian.”
Soo Ho tidak mau mendengar dan pamit pergi. Tapi, itu tepat dengan In Ha yang tiba di toko itu.
--
Mereka bicara berdua di kursi taman. Soo Ho minta maaf karena sudah membuat khawatir. In Ha bertanya apa yang terjadi? Kenapa Soo Ho ke rumah Da Hee? Kenapa memecahkan jendela rumah mereka?
Soo Ho hanya menunduk. In Ha berusaha membujuknya bicara.
“Buket itu mengingatkanku akan oppa. Itu membuatku merasa kalau oppa juga di buang seperti sampah. Jadi, aku tidak bisa menahan emosiku.”
“Apa maksudnya?”
“Aku marah. Kenapa ini harus terjadi pada oppa ketika dia tidak melakukan hal yang salah? Ini sangat tidak adil. Aku merasa sedih dan marah,” tangis Soo Ho.
“Ibu juga merasakan hal yang sama. Ibu juga sedih dan marah! Ibu benar-benar melalui waktu yang berat ketika melahirkan oppa-mu. Oppa-mu adalah bayi yang besar, jadi dokter menyarankanku untuk di operasi cesar. Tapi, aku terus menolak.”
“Kenapa?”
“Ibu ingin melahirkannya dengan kekuatan sendiri. Ibu terus keras kepala jadi dokter bilang jika ibu ingin melahirkan dengan kekuatan sendiri, ibu harus mendorong lebih keras. Dokter bilang kalau teriakan tidak akan membantu persalinan ibu. Ibu terus berteriak karena kontraksi, tapi itu membuat ibu tidak bisa mendorong dengan benar. Semarah dan sesedih apapun yang kau rasakan, kau harus lebih kuat. Itulah bagaimana kau akan bisa bertarung dengan caramu sendiri.”
In Ha memeluk Soo Ho, “Tidak apa-apa. Tidak apa-apa.” Dan Soo Ho menangis dalam pelukan In Ha.
--
Eun Joo duduk sendirian di ruang tamu. Joon Seok pulang dalam keadaan bahagia. Dia terus tersenyum. Dia melapor kalau dia sudah bilang pada pak Lee dan pak Lee memujinya karena sudah berani mengatakan hal itu. Dia tampak benar-benar senang dan bahkan meminta makan malam pada ibunya.

Eun Joo menatap Joon Seok dengan pandangan nanar. Dia tampak ketakutan sendiri melihat putranya itu.


1 comment: