Tuesday, May 7, 2019

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 15 – 4

0 comments

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 15 – 4
Images by : SET TV , TTV, iQiyi
Jammie menelpon Ke Ai dan memberitahu kalau dia akan melakukan live tour di Eropa dan mungkin akan memakan waktu lama. Mereka berbincang santai, layaknya sahabat. Setelah selesai menelpon Ke Ai, Jammie terlihat memikirkan sesuatu. Dia memutuskan untuk menelpon Zi Jie.


Zi Jie senang mendapat telepon dari Jammie dan bertanya ada apa? Jammie menelpon untuk memberitahu kalau dia akan pergi. Tapi, belum sempat Jammie menyelesaikan ucapannya, dia mendengar Zi Jie yang berteriak. Zi Jie berteriak karena dia melihat ayah Wen Wen yang berjalan di belakang Xiao Gang dan membawa sebuah pisau, dengan cepat Zi Jie berlari dan akhirnya dia yang terkena tusukan pisau itu. 
“Suara apa itu? halo?! Halo?!” panik Jammie.
Ayah Wen Wen panik karena salah menusuk orang dan langsung kabur. Satpam yang ada di sana segera mengejarnya. Mendengar suara ribut-ribut, membuat Jammie semakin panik.
--


Zi Jie di larikan ke rumah sakit dan masuk ke UGD. Xiao Gang juga ada di sana dan menunggu di depan ruang operasi. Jammie juga menuju ke rumah sakit sambil menelpon agency-nya agar menunda keberangkatan live tour-nya.
Fang Ru, Fang Yu dan Fang Jie tiba di rumah sakit. Fang Ru benar-benar panik dan bertanya pada Xiao Gang keadaan Zi Jie? Apa yang terjadi?
“Dia tertusuk dan kehilangan banyak darah. Dia sedang menjalani operasi,” beritahu Xiao Gang
“Tertusuk? Kenapa bisa?”
“Ini salahku. Maafkan aku. Dia berusaha menyelamatkanku. Ini semua salahku.”
Fang Jie berusaha menenangkan dan berkata kalau mereka harus menunggu penjelasan dokter. Dokter keluar dari ruang operasi dan berkata kalau Zi Jie dalam keadaan kritis dan butuh darah sekarang juga.
“Kami mengira kalau darahnya adalah A, tapi setelah di analisa, darahnya adalah ParaBombay A (golongan darah langka – sumber dan penjelasan silahkan cari di google),” jelas dokter.
“Bagaimana bisa? Mengapa tipe darahnya berbeda? Apa itu golongan darah ParaBombay?” bingung Fang Yu.

Dokter menjelaskan kalau itu adalah tipe darah langka dan mereka tidak memiliki golongan darah itu di penyimpanan darah mereka. Jammie segera berkata kalau golongan darah itu kan menurun dari orang tua, jadi dia bertanya golongan darah Fang Ru. Sayangnya, Fang Ru bergolongan darah O. Xiao Gang menyarankan agar mereka segera menghubungi ayah Zi Jie sekarang. Dan anehnya, Fang Ru malah tampak gugup.
“Dokter, kondisi pasien kritis. Kita perlu transfusi darah sekarang juga!” lapor suster yang keluar dari ruang operasi.

Fang Ru masih saja diam dan tampak gugup. Dan tiba-tiba saja, Paman Jia (supir) yang mengantarkan Zi Jie tadi dan dari tadi ada di sana juga, berdiri : “Aku akan mendonorkan darahku.”
Semua kaget. Dan tanpa menjelaskan apapun, Paman Jia menghampiri dokter dan memberitahu kalau golongan darahnya adalah Para Bombay A. Dokter segera membawanya ke dalam ruang operasi.
Semua semakin terkejut. Fang Ru sampai termundur dan menundukkan kepala dengan malu. Dan tiba-tiba dia pergi dari sana. Kedua saudaranya segera mengejarnya. Fang Jie juga langsung memarahi Fang Ru yang mau pergi padahal hidup Zi Jie dalam keadaan di ambang maut.

“Tertawai saja aku. Kalian sekarang punya kesempatan untuk menertertawakanku. Lakukan saja, aku tidak takut,” ujar Fang Ru.
“Tertawa? Apa yang lucu hingga harus di tertawakan? Zi Jie sekarang masih di ICU. Siapa yang bisa tertawa?!” marah Fang Jie.
“Kak Fang Jie benar. Hidup Zi Jie yang lebih penting. Hal lain tidak berarti apapun sekarang,” lanjut Fang Yu.
“Kita beruntung karena memiliki Paman Jia bersama kita. Jika kita harus mengharapkan suami-mu yang tidak berguna itu, Zi Jie pasti sudah mati sekarang,” ujar Fang Jie.
“Benar, kita beruntung sekarang ini,” setuju Fang Yu.
Fang Ru semakin menangis terisak-isak. “Kalian sudah tahu selama ini? Lalu kenapa kalian tidak mengatakan apapun?”
“Kami mana bisa bilang, saat kau tidak bilang apapun pada kami. Kak, kami tahu baik temperamenmu. Jika kami bilang mengenai hal ini, kau pasti akan pergi atau kau akan mengaborsi bayimu. Jadi, bagaimana bisa kami bilang,” jelas Fang Yu.
“Sudahlah. Apapun alasannya, kau tetap adalah adikku dan Zi Jie adalah keponakanku,” ujar Fang Jie.
“Benar. Jadi yang harus kakak lakukan sekarang adalah menceraikan orang itu setelah Zi Jie sembuh. Kakak juga harus mendapatkan kebahagiaan kakak. Kami akan selalu mendukung,” ujar Fang Yu.
(Jadi di episode 01 kan sempat di bahas kalau suami Fang Ru ini suka main wanita dan selingkuh, dimana semua orang mengira kalau dia adalah ayah dari Zi Jie. Dan di episode ini, terungkap kalau ayah Zi Jie sebenarnya adalah Paman Jia, supir mereka selama ini. Fang Ru menyembunyikan fakta itu selama ini, dan karena itu dia juga tidak menceraikan suaminya yang brengsek itu. Ternyata, Fang Jie dan Fang Yu selama ini sudah tahu, siapa ayah Zi Jie yang sebenarnya dan memilih diam karena takut kalau Fang Ru tahu mereka sudah tahu, Fang Ru akan pergi atau menggugurkan bayinya (Zi Jie) karena malu. Dan karena kebenaran sudah terungkap, dan tidak ada lagi yang perlu di sembunyikan, maka mereka menyuruh Fang Ru untuk menceraikan suaminya itu).
Xiao Gang terus menundukkan kepala dan nampak bersalah. Xiao Gang juga terus bergumam kalau Zi Jie harus bisa melewatinya dan hidup.
“Cai Xiao Gang, ini bukan salahmu. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri,” ujar Jammie.
“Aku harap akulah yang terkena tusukan itu. Kenapa dia harus menyelamatkanku? Mengapa tidak aku saja yang terluka?” ujar Xiao Gang, masih tetap menyalahkan dirinya. “Ketika aku masih kecil, aku tidak memiliki siapapun yang peduli padaku. Tidak ada satupun yang memerintahku. Aku selalu sendirian. Ketika aku terkena masalah, tidak akan ada yang peduli untuk membantuku. Aku selalu sendirian. Aku sudah terbiasa. Tidak ada yang menyanyangiku. Tidak ada yang peduli. Dia seharusnya tidak menyelamatkanku,” tangis Xiao Gang.
“Itu karena kau layak untuk di selamatkan. Aku percaya, jika dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanmu, itu tandanya kau layak di selamatkan. Kau berarti baginya. Jangan pernah memandang rendah dirimu sendiri. Kau tidak sendirian. Kau punya Zi Jie, Ke Ai dan Wen Wen di sisimu. Karena mereka, kau sekarang memiliki aku, Yang Zi Hao dan Li Jian juga di sisimu. Kau tidak sendirian. Zi Jie melakukan apa yang menurutnya benar. Kita juga harus percaya padanya, dia akan bisa melewatinya.”
Mendengar ucapan Jammie, membuat tangis Xiao Gang semakin keras.
Tidak lama, operasi selesai. Dan dokter keluar. Semua langsung berkumpul dan menanyakan hasil operasi. Dokter menghela nafas berat dan menggeleng-gelengkan kepala.
Fang Ru langsung lemas.
--

Zi Hao berada di balkon rumahnya, menatap bintang di langit. Wajahnya tampak muram.
“Liang Zi Jie, tidak di sangka akan seperti ini. Chang Ke Ai, janjilah padaku, kau akan selalu menjaga dirimu sendiri dengan baik. Tetap sehat dan baik-baik saja, demiku. Tolong.”
--
Zi Jie sudah sadar (lah, kirain dia kenapa-napa, nah ternyata selamat toh). Xiao Gang yang baru datang sangat lega karena Zi Jie sudah sadar.
“Kau tahu, betapa takutnya kami saat dokter keluar dan menggelengkan kepala. Dia menggelengkan kepala karena segalanya berjalan baik. Aku berharap bisa meninjunya (karena sudah buat takut). Terimakasih. Kalau bukan karena kau, akulah yang akan berbaring di ranjang ini.”
Zi Jie tersenyum, “Kita kan sudara. Tapi, aku tidak pernah belajar ilmu bela diri. Jika tidak, aku bisa saja melemparkan tinjuku kemarin, jadi aku tidak akan tertusuk,” candanya. “Tapi, setelah ku pikirkan lagi, jika aku mati seperti ini, bagus juga. Aku seperti pahlawan, mengorbankan diriku untuk menyelamatkan orang lain.”
Mendengar ucapan Zi Jie yang terakhir, membuat Xiao Gang marah, “Dengar baik-baik, jika kau sempat berpikir seperti itu, aku tidak akan memaafkanmu seumur hidupku.”
Zi Jie tampak takut juga dan akhirnya berkata kalau dia hanya bercanda. Dan Xiao Gang berkata kala dia sudah tahu rahasia yang tidak bisa Zi Jie beritahu padanya, mengenai Paman Jia yang sebenarnya adalah ayah kandung Zi Jie.
“Aku sudah tahu sejak SMA. Orang tua dengan golongan darah O, tidak akan bisa punya anak dengan golongan darah A. Di tahun pertama kuliah, aku mencuri sehelai rambut dari ayahku yang hampir tidak pernah pulang. Setelah test DNA, aku anak haram.”
“Karena kau, aku masih hidup. Siapa dirimu tidak ada hubungannya dengan orang tuamu.”
Zi Jie tersenyum mendengar ucapan Xiao Gang.
--

Malam hari,
Ke Ai belajar dengan giat agar bisa lulus tes masuk universitas. Zi Hao ada di rumahnya dan memakai celemek, dia menyuruh Ke Ai untuk ke ruang makan. Dia sudah membuatkan makan malam. Tapi, Ke Ai terlalu fokus belajar hingga mengabaikan Zi Hao.
Melihat Ke Ai yang belajar dengan giat, Zi Hao memberikannya hadiah. Lampu dengan tangan sedang menggambarkan bintang. Dia berharap agar Ke Ai akan selalu melalui lucky day. Ke Ai sangat senang dan memuji lampu itu yang cantik. Zi Hao senang dan menunjuk pipinya, kode agar Ke Ai menciumnya.
“Aku harus menunjukkan lampu ini pada Kak Gang,” ujar Ke Ai.
Zi Hao kesal mendengarnya, “Kak Gang lagi! sampai sekarang kau masih saja memikirkan kak Gang! Aku melewati banyak kesulitan untukmu, dan sekarang masih juga kak Gang yang mendapatkan semua perhatianmu. Tidak, Zi Jie benar. Aku harus menjodohkan pengacara itu dengan orang lain, semakin cepat, semakin baik!” tekad Zi Hao.
--

Jammie datang menjenguk Zi Jie, tapi saat masuk, dia heran karena tirai pembatas tempat tidur terpasang. Dan dari tirai itu dia malah melihat bayangan Zi Jie bersama Xiao Gang. Dan percakapan mereka yang ambigu, dimana Zi Jie berkata kalau dia malu dan Xiao Gang menjawab kalau Zi Jie tidak perlu malu dan cukup menikmati saja.
Jammie penasaran dan langsung membuka tirai, bertanya sedang apa kalian? Xiao Gang ternyata hanya sedang membantu mengelap badan Zi Jie.

“Kenapa kau masuk?” protes Zi Jie.
“Kenapa aku tidak bisa masuk? aku sudah melihat tubuhmu seluruhnya,” ujar Jammie.
Xiao Gang kaget mendengarnya.
“Aku juga sudah melihatmu juga,” timpal Zi Jie.
Xiao Gang double kaget.
“Diam. Kau juga jangan sok terkejut. Aku juga sudah pernah melihat punyamu,” ujar Jammie pada Xiao Gang.
Gantian Zi Jie yang kaget. Xiao Gang jadi gelagapan, apalagi Zi Jie melotot padanya.
“Sudahlah, aku hanya bercanda,” ujar Jammie. “Aku membawakan soup ayam untukmu. Silahkan di makan,” ujarnya dan keluar kamar.
Saat keluar, dia bertemu dengan Paman Jia. Paman Jia datang membawakan makanan untuk Zi Jie. Mereka masih canggung. Paman Jia berkata kalau ibu Zi Jie memintanya mengantarkan makanan itu. paman Jia hendak menanyakan keadaan Zi Jie, tapi dia tidak berani dan berbalik pergi.
“Aku…,” ujar Zi Jie.
           



Bersambung
--
NB : drama ini tayang hanya 1 episode dalam seminggu. Dan video-nya serta subtitle sangat lama baru di keluarkan. Aku akan usahakan secepatnya untuk posting jika video dan sub sudah keluar. Be patient, guys. And happy reading! Semoga hari kalian selalu menyenangkan. Jangan lupa tinggalkan jejak dan pendapat! Baca juga sinopsis yang lainnya.  
Regards,
Chunov 😊

No comments:

Post a Comment