Tuesday, May 7, 2019

Sinopsis J-Drama : Takane To Hana Episode 2 - part 1

0 comments


Network : Fuji TV, FOD
“Aku akan mengajari mu apa yang harus dilakukan setelah Kabedon*,” kata Hana dengan tatapan serius. Lalu setelah itu, dia mendekatkan wajahnya, dan mencium Takane.

*Menahan seseorang di dinding.

Hana terbangun, “Aku tidak bisa tidur sama sekali,” keluhnya. Lalu dia menyentuh bibirnya, memajukan bibirnya, dan membayangkan kembali kejadian semalam. Kemudian setelah itu, dia berbaring dan menggeliat diatas tempat tidur,” Padahal itu ciuman pertama ku juga,” katanya, malu.



Setelah Hana menjauh. Dan bibir mereka tidak lagi bersentuhan. Takane langsung merasakan seluruh tubuhnya lemas. Dengan perlahan, dia berjalan menjauh, tapi saking lemasnya, dia tidak bisa berjalan dengan benar dan terjatuh.



“Bibirnya,” gumam Takane sambil menyentuh bibirnya sendiri. Kemudian dia menggeliat diatas sofa, dan membenamkan wajahnya ke bantal. Malu, bingung, dan salah tingkah, ketika mengingat kembali kejadian semalam.


Saat tiba- tiba hape nya berbunyi, Takane mengeluh dengan kesal. Namun ketika mengetahui siapa yang menelponnya, dia langsung bersikap tenang dan mengangkatnya. Dan ternyata yang menelpon adalah Kakeknya.

“Minggu depan. Akan ada pesta Takaba grup. Datanglah!” kata Kakek, tegas.



Pagi hari. Keluarga Hana heboh, saat mendapatkan kiriman barang mewah dari Takane yang ditujukan untuk Hana. Dress putih, sepatu hitam, dompet hitam, produk kecantikan, produk make-up, dan semuanya itu adalah barang bermerk yang harganya sangat mahal. Melihat itu, seluruh keluarga Hana merasa ‘Wow’. Sementara Hana sendiri, dia merasa kebingungan, apa maksud untuk semua barang itu.



Hana kemudian membaca kartu memo yang Takane lampirkan juga. Isinya, Kenakan ini dan datang ke pesta hari ini! Semua orang penting dari Takaba akan ada disana. Untuk kebaikan pekerjaan Ayahmu, kamu harus datang dan memberikan penampilan yang baik.

“Apa ini ancaman?” gumam Hana, kebingungan dengan isi pesan Takane.

Sore hari. Diluar rumah, Takane berjalan mondar-mandir sambil memperhatikan jam di jam tangannya terus. Lalu ketika akhirnya, terdengar pintu rumah terbuka, dia langsung berbalik. “Telat. Berapa lama kamu akan membuatku menung...” perkataan Takane terhenti, ketika melihat betapa cantiknya Hana. Bahkan mulutnya sambil mengangga lumayan lebar.


“Mengapa kamu membuat wajah yang aneh?” tanya Hana. Mendekati Takane.

“Tidak terlalu buruk,” puji Takane. Maksudnya cantik.



Takane kemudian membuka kan pintu mobilnya. Lalu dia mempersilahkan Hana untuk naik. “Masuklah,” katanya sambil tersenyum.



Sesampainya didepan rumah Takaba. Hana merasa sangat kaget sekaligus takjub, karena ternyata rumah Takaba sangat besar seperti kastil. Dan sambil tersenyum bangga, Takane mengajak Hana untuk mengikutinya, masuk ke dalam rumah.



Didalam rumah. Takane mengulurkan tangannya, dan lalu dia menuntun Hana untuk menurunin tangga. Dan orang-orang yang melihat Hana, mereka berbisik- bisik membicarakannya. Mereka bertanya-tanya, siapa wanita yang bergandengan tangan dengan Takane tersebut. Dan betapa mudanya penampilan Hana, tidak seperti apa yang mereka bayangkan.

“Tidak apa- apa untuk menunjukan perasaan terima kasih mu sesekali kamu tahu? Bukankah ini adalah pertama kalinya kamu datang ke pesta seperti ini?” kata Takane, bertanya dengan nada bangga. Dan Hana diam, karena dia sibuk mendengarkan bisik- bisik orang tentangnya.


Setelah menurunin tangga, Hana langsung menarik tangan Takane untuk mengikutinya ke sudut. Dan dengan sikap narsis, Takane bertanya apakah Hana ingin mengatakan cinta padanya. Dan dengan cepat, Hana membalas tidak sama sekali. Lalu Hana bertanya, apakah dia terlihat seperti umur 20 tahunan.

“Kamu terlihat beneran tua,” jawab Takane.

“Beneran tua?”

“Untuk kamu yang telah melakukan ini demi kebaikan ku. Aku memuji keberanianmu,” puji Takane.



“Yeah. Sejak kamu terlihat sangat tua, makanya aku perlu untuk membuat diriku sendiri terlihat lebih tua,” balas Hana. Lalu dia menjulurkan lidahnya. Dan Takane merasa sedikit kesal, tapi dia tidak membalas.



Ketua (Kakek Takane) ditemanin oleh beberapa orang datang memasuki hall pesta. Dan melihat itu, Takane memberitahu Hana bahwa misi hari ini adalah untuk mendapatkan persetujuan dari kakek nya supaya mereka bisa melanjutkan perjodohan mereka. Yaitu berarti Hana harus berpura- pura menjadi Yukari.


“Jika kita tetap diam, maka kakek ku pasti akan mengatur perjodohan yang baru. Aku berterima kasih padamu hari ini. Jadi itu, um.. to...tolong,” kata Takane pelan.

Mendengar itu, Hana tersenyum. “Tidak ada yang kamu perlu khawatirkan, Takane-san. Hari ini, aku akan menunjukan padamu bakat akting ku sampai akhir,” balas Hana.

“Mohon bantuannya ya, Yukari-san,” balas Takane sambil mengulurkan tanganya. Dan Hana memegangnya.


Didalam ruangan pribadi. Hana meminta maaf dengan sopan kepada Kakek untuk sikapnya pada pertemuan mereka saat itu. Karena pada saat itu dia telah bersikap tidak baik dan tidak sopan.

Kakek memaklumin sikap Hana, karena dia tahu kalau itu juga merupakan kesalahan Takane, cucunya. Lalu dia menceritakan bahwa setiap kali dia mengaturkan perjodohan untuk Takane, Takane pasti akan bersikap dingin dan menolak, tapi kali ini dia tidak menduga kalau Takane akan jatuh hati kepada Hana.


“Setiap mereka memiliki niat jahat. Mengapa aku harus menikahi mereka?” kata Takane dengan ketus. “Ini pertama kalinya seseorang bersikap jujur dihadapanku. Jadi kamu tidak perlu memperkenalkan ku kepada siapapun lagi. Aku datang ke sini untuk memberitahu itu padamu,” jelas Takane, tegas.



“Yukari-san. Apa yang kamu pikirkan tentang si Aneh ini?” tanya Kakek pada Hana.

“Eh,”kata Hana terkejut. Lalu dia menjawab,”Ada masih banyak hal yang tidak ku ketahui tentang dia. Aku belum ada memikirkan apapun tentang masa depan. Tapi, aku ingin menggunakan waktu ini dan perlahan-lahan mengenal dan mengerti Takane-san. Ini perasaan ku yang sebenarnya,” jelas Hana, tegas.



Kakek tampak senang mendengar ketegasan Hana, dan dia pun menyetujui hubungan mereka berdua. “Itu mungkin akan sulit. Tapi aku akan menyerahkannya padamu, Yukari-san,” katanya. Dan Hana tersenyum mengiyakan.


Takane memuji kehebatan Hana, lalu sebagai hadiah, dia menyuruh pelayan untuk membawa kan semua makanan yang ada untuk Hana. Dan Hana pun mengeluh, karena dia tidak mungkin bisa menghabiskan semuanya. Namun Takane membalas agar Hana makan sepuasnya saja. Dan Hana pun tersenyum.



“Tapi ngomong- ngomong, kamu tidak bersikap hebat dan sombong, ketika kamu berada disekitar kakek mu ya,” kata Hana, mengomentari sikap kalem Takane dihadapan kakek.

“Kakek ku berhati baik padaku,” balas Takane dengan nada pelan.



Didalam kamar mandi. Hana merapikan dirinya sendiri didepan cermin. “Aku harus bekerja keras sampai akhir!” kata Hana sambil tersenyum, menyemangati dirinya sendiri.


Keluar dari dalam kamar mandi, Hana mencari Takane yang ntah berada dimana. Dan disaat itu, seseorang memanggilnya. Orang itu mengenali Hana sebagai pasangan Takane, dan dia menanyakan dimana Takane berada. Dan dengan jujur, Hana menjawab bahwa dia juga tidak tahu.



“Papa. Apa orang ini beneran pasangan Takane-san? Dia terlihat cukup muda seperti anak sekolah,” kata Putri (Yoshiko) dari Orang tersebut. Sambil menatap tajam Hana.

“Tidak mungkin lah pewaris Takaba akan berpacaran dengan anak sekolahan! Itu akan menjadi masalah besar!” balas Orang tersebut sambil tertawa pada Hana.

“Benar,” balas Hana sambil tertawa juga.




Orang tersebut pamit kepada Hana, dan pergi. Sehingga tinggalah Hana dengan Yoshiko. Dan tinggal berdua dengannya, membuat Hana merasa gugup, karena Yoshiko terus menatapnya dengan tajam. Kemudian beberapa teman Yoshiko mendekati mereka berdua. Dan dengan sengaja, Yoshiko memberikan segelas wine kepada Hana, dan mengajaknya untuk bersulang.



Hana ragu untuk meminum wine itu, karena dia masih di bawah umur. Namun karena teringat tentang Kakek yang telah mempercayakan Takane padanya, maka Hana pun berniat meminum wine itu. Tapi disaat itu, Takane datang dan menyelamatkannya. Takane menggatikan Hana untuk meminum wine itu.

“Yukari-san lemah terhadap wine. Jadi tolong jangan paksa dia meminumnya,” kata Takane dengan tegas, tapi lembut. Lalu dia merangkul bahu Hana dan membawanya berjalan menjauh.


Hana ingin berbicara, tapi tiba- tiba seseorang memanggil Takane dan memberitahu bahwa Takane dipanggil untuk mengikuti pertemuan Takaba. Dan karena itu, maka Takane pun terpaksa harus pergi meninggalkan Hana sendirian lagi.

“Menghabiskan waktu sendiri...” gumam Hana dengan pelan. Dan Takane mendengarnya, jadi dia kembali mendekati Hana.


“Jangan ceroboh. Jangan berbicara dengan orang aneh. Dan jangan mau dipaksa untuk meminum apapun yang berakohol. Juga... apapun yang terjadi, jangan pulang! Ini perintah!” jelas Takane. Dan Hana mengiyakan. Lalu Takane pun pergi meninggalkannya.


Takane memasuki satu ruangan, dimana orang- orang penting di Takaba berkumpul. Disana dengan hormat, Takane membungkuk dan memberikan salam kepada mereka semua, lalu dia duduk dan bertanya dengan tegas, ada apa mereka memanggilnya kesini.


Hana melihat keramaian orang dari atas, dan dia merasa bosan. Jadi dia pun memutuskan untuk berjalan- jalan. Dan tanpa sengaja, dia malah tiba di dekat ruangan Takane dan orang-orang penting di Takaba berkumpul.


Didalam ruangan. Takane diketawai memiliki selera yang unik, karena Takane berkencan dengan anak seorang pegawai. Mereka mengomentari bahwa seharusnya Takane mencari seorang pasangan yang lebih baik, cocok, dan bisa membantu. Bukannya seseorang seperti Hana yang hanyalah orang biasa, padahal Takane adalah calon pewaris Takaba.


“Jangan macam- macam denganku!” gumam Hana, kesal. Ketika mendengarkan pembicaraan mereka semua. Lalu dia berniat masuk ke dalam ruangan untuk marah kepada mereka, tapi langkahnya terhenti, ketika mendengar Takane berbicara.


“Kalian benar- benar suka berbicara sekelas lelucon anak SD, huh?! Aku tidak peduli apa yang kalian katakan padaku. Tapi jangan berbicara buruk tentangnya. Garis darahnya dan latar belakang keluarganya, tidak peduli apa, dia adalah seseorang yang memiliki hatiku. Dia lebih kuat daripada setiap orang di dalam ruangan ini,” kata Takane membela Hana.



Takane berdiri dan pamit kepada mereka semua. “Jika kalian bukan mau membicarakan tentang masalah Takaba, maka jangan habiskan waktu ku!” katanya, lalu dia berjalan pergi. Namun belum jauh dia berjalan, mereka malah mengetawainya dengan keras. Sehingga dia berhenti berjalan.

“Kelihatannya kamu sangat menyukai gadis ini,” kata seorang diantara mereka, sambil tertawa dengan keras. Dan yang lain ikut tertawa juga. Setelah mendengar kan itu, Takane pun berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.



Hana yang melihat itu dari jauh, dan mendengarkan semuanya. Dia berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu. “Dia begitu keren, kan? Shit!” gerutunya.

Ketika berjalan menaiki tangga, Hana merasa kakinya sangat sakit, jadi dia pun berhenti dan melepaskan sepatunya. Dan ketika dia melihat kakinya, ternyata jari jempol dan jari keliking kakinya sedikit lecet dan terluka, karena tidak terbiasa mengenakan sepatu hak tinggi.



Hana kemudian teringat tentang pembicaraan semua orang tentang dirinya. Jika Takane berpacaran dengan anak sekolah, maka itu akan menjadi sebuah masalah besar. Dan Jika Takane terlibat dengannya yang bukan siapa- siapa, tanpa latar belakang, maka itu tidak baik.


Hana mengeluarkan hape nya, dan mengirimkan pesan kepada Takane. Aku akan pulang ke rumah.

No comments:

Post a Comment