Wednesday, May 29, 2019

Sinopsis J- Drama : Takane To Hana Episode 4 - part 1

0 comments
Network : Fuji TV, FOD
Malam hari di pemandian air panas. Pertandingan tenis meja diadakan. Mizuki berpasangan dengan Luciano, melawan Hikaruko yang berpasangan dengan Okamoto. Selama bermain Luciano jarang sekali memukul, dan hanya membiarkan Mizuki yang memukul.

“Kamu terlihat manis memakai Yukata, sehingga aku tidak fokus pada bolanya,” kata Luciano beralasan dan memuji.
“Diam! Tutup mulutmu,” balas Mizuki, acuh
Hana yang bertugas menjadi wasit. Dia tersenyum melihat kedekatan antara Luciano dengan temannya tersebut. 

Sementara Takane sendiri, dia tidak ikut bermain dan tidak ikut berkumpul. Takane tiduran di sofa.
“Kamu tidak mau bergabung dengan kami?” tanya Hana, mendekati Takane.
Dan dengan malas, Takane menjawab,”Aku tidak tertarik bermain bersama dengan kalian. Sebagai anak- anak kalian bermainlah saja. Dan anggap aku sebagai guru pengawas,” katanya, lalu dia melanjutkan tidurnya lagi.
Hana menyindir Takane sebagai seorang guru yang memandang rendah kepada murid. Dan Takane tidak peduli. Hana kemudian duduk di dekat Takane, dan dia mengatai Takane membosankan, datang ke sini karena terpaksa, tapi menurutnya itu tidak apa- apa, karena Takane adalah dinasourus tua yang tidak bisa bermain dengan mereka. Setelah mengatakan semua itu, Hana pun berdiri dan mau kembali bergabung dengan teman- temannya yang sedang bermain Tenis Meja.

Takane tidak terima perkataan Hana yang menyebutnya ‘dinasourus tua’. Jadi dia pun bangun dan menahan tangan Hana yang mau pergi. “Apa kamu segitu inginnya melihat ku bermain?” tanya Takane.
Hana menghela nafas capek. Lalu dia mendekatkan wajahnya kepada Takane, dan memberikan senyum manis. “Aku ingin melihatnya” Aku sangat ingin melihatnya!” kata Hana dengan bersemangat.

Dan mendengar itu, Takane merasa sangat senang. Dia langsung berdiri, dan membusungkan dadanya ke depan. “Jika begitu, aku akan menunjukannya padamu. Ayo!”kata Takane dengan penuh percaya diri. Dan Hana mengikutinya.


Pertandingan Tenis Meja berakhir dengan skors 0 : 11 .
Hana serta Takane berubah menjadi boneka kecil yang tidak perdaya sama sekali, karena mereka kalah dalam pertandingan. Sementara Okamoto serta Hikaruko bersorak kegirangan, karena mereka berhasil memenangkan pertandingan.
Hana serta Takane bangkit berdiri sambil saling menyalah kan satu sama lain. Dan Luciano yang sedari tadi menjadi penonton, dia mengatai Takane lemah. Mendengar itu, Takane tidak terima dan membalas bahwa jika dia bermain game ‘single’, maka dia akan bisa menunjukan kekuatan aslinya.

“Aku bisa menjadi lawan mu. Tolong tunjukan padaku bahwa kamu bisa membuktikan perkataanmu barusan. Aku akan bermain dengan serius,” kata Okamoto, tiba- tiba menantang Takane dengan percaya diri.
“Baiklah. Aku akan menunjukan pada mu kesenjangan antara kita,” balas Takane, menerima tantangan Okamoto.
*Dalam tenis meja. Single, maksudnya pertandingan satu lawan satu. Double, maksudnya pertandingan berpasangan, dua lawan dua sekaligus.

Takane vs Okamoto. Pertandingan antara mereka berdua berlangsung sengit, Takane berhasil membuat Okamoto kesulitan dan mendapatkan skors paling banyak. 10 : 8.
“Takane-san benar- benar bagus dalam bermain,” komentar Hikaruko, melihat pertandingan mereka berdua.
 “Dia mungkin bahkan lebih baik dalam olahraga daripada Okamoto,” kata Mizuki, setuju.
“Ini adalah pertandingan merebutkan Hana- chan,” kata Luciano, ikut mengobrol. Dan mendengar itu, Mizuki serta Hikaruko langsung memandang ke arah Hana.

“Cobalah untuk menghentikan servis ini,” kata Takane dengan serius. Lalu dia memukul bola tenis ke Okamoto. Dan Okamoto pun berusaha untuk memukulnya, tapi dia tanpa sengaja malah terjatuh.

Bola tenis yang berhasil dipukul balik oleh Okamoto mengenai dahi Takane, sehingga Takane pun merasa kesakitan dan menggosok-gosok dahinya. Namun tidak seorang pun yang menyadari hal itu, karena mereka semua sibuk mengkhawatirkan Okamoto yang terjatuh dan terkilir kakinya.
Apalagi Hana, dia sangat cemas, karena Okamoto adalah pemain sepak bola, jadi kaki adalah aset untuk Okamoto. Maka dari itu jika kaki Okamoto terluka, takutnya Okamoto tidak akan bisa ikut bermain di pertandingan besar.

Takane menghampiri Okamoto, dan mengendongnya seperti ‘Seorang Pangeran yang mengendong seorang Putri’. Dan tentu saja, Okamoto merasa sangat malu di perlakukan seperti itu. Tapi dengan tegas Takane menyuruhnya diam.
“Aku tidak melakukannya demi kebaikanmu,” kata Takane pada Okamoto. Lalu dia mendekati Hana, “Aku juga tidak melakukannya demi mu! Wajahku terpukul bola tenis barusan, dan membengkak. Jadi kami kebetulan searah,” jelasnya. Lalu dia berjalan melewati Hana.
Mendengar itu, Hana sempat merasa bingung. Tapi kemudian dia tersenyum, dan bergumam, “Tidak mungkin wajahnya bisa membengkak karena bola tenis,” katanya. Sementara kedua temannya, mereka sibuk mengikuti sambil memotret Takane yang menggendong Okamoto.

Tengah malam. Hana berjalan- jalan sendirian di dalam penginapan, dan ketika dia melihat Okamoto yang sedang duduk sendirian. Maka dia pun menghampirinya, dan menanyakan apakah Okamoto masih merasa sakit.
“Aku terlalu malu sekarang. Tapi aku tidak merasa sakit lagi,” aku Okamoto sambil tersenyum malu.
Hana duduk di sebelah Okamoto. Dia menjelaskan bahwa dia bersyukur, karena itu bukanlah luka yang serius. Dan kemudian dia membicarakan sikap Takane yang tidak bertingkah seperti orang dewasa.
Okamoto membalas bahwa dialah yang telah menantang Takane untuk bertanding, dan Takane hanyalah pria tua yang meladenin permainannya. Namun memang benar, Takane tidak tampak seperti pria dewasa ketika melawannya dalam pertandingan.

Flash back
Ketika Okamoto hanya berduaan dengan Takane didalam kamar.
“Jika teman sejak kecil nya ini (aku) menjadi lawanmu. Bukankah kamu merasa khawatir?”tanya Okamoto sambil menatap tajam Takane.
“Tidak masalah jika kamu mau melawan ku, tapi dia (Hana) sangat menantikan perjalanan ini. Jadi jangan rusak mood nya (Hana),” jawab Takane dengan serius dan tenang. Mendengar itu, Okamoto pun terdiam.
Flash back end

“Pria tua itu pasti sering mengatakan sesuatu yang kekanak- kanak kan terkadang, kan?” tanya Okamoto. Dan Hana membenarkan.
“Menurutku kamu lebih dewasa,” jawab Hana.
“Aku mungkin lebih kekanak- kanakan daripada yang kamu pikirkan,” kata Okamoto sambil tersenyum. “Aku tidak mau kalah darinya (Takane),” lanjut Okamoto. Lalu dia berdiri, dan berjalan pergi sambil menyeret kakinya yang terluka.
Hana merasa sedikit bingung dengan maksud perkataan Okamoto. Tapi dia tidak bertanya lebih lanjut. Dan dia membantu Okamoto yang kesulitan untuk berjalan.

Didalam pemandian air panas. Hikaruko menanyakan, apakah Hana sudah ada membuat kemajuan dengan Takane. Dan Hana pun menjawab bahwa dia sebenarnya tidak berpacaran dengan Takane.
Hana lalu menjelaskan kalau hubungannya dengan Takane hanyalah sekedar karena Takane ingin dirinya mengakui kekalahan, sebab dirinya telah mempermalukan Takane. Sementara dirinya sendiri, itu karena menurutnya menyenangkan mengganggu Takane.

“Tapi apa dia tidak membuat hati mu berdebar- debar? Dia kan tampan banget,” kata Hikaruko. Dan dengan terbata- bata Hana menyangkalnya.
“Ti… tidak mungkin! Tidak mungkin! Tidak mungkin!” kata Hana.

Didalam pemandian air panas yang berbeda. Takane berendam seperti orang yang sudah tua. “Ah, leganya,” katanya dengan keras.
“Kamu seperti Pria yang sudah tua,” komentar Luciano yang berendam disebelahnya.
“Kamu juga Pria tua, kan?” balas Takane, acuh.

“Bukankah tidak buruk bersenang- senang dengan semuanya? Kamu senang kan, karena Hana- chan menjebak mu untuk datang ke sini?” tanya Luciano. Karena jarang ada orang yang bisa membuat Takane mau ikut.
Dan Takane menjawab bahwa dia tahu, lalu dia mengingat saat Hana mengajaknya, saat Hana membuat dirinya dan Luciano berbaikan. Serta saat Hana tersenyum manis kepadanya.

“Kamu perlu menghargainya,” kata Luciano, memberikan saran dengan tulus. Dan Takane diam.

Hari terakhir. Didalam kamar. Hana membereskan barang- barangnya, karena hari ini mereka akan pulang. Dan selagi berberes, dia memperhatikan gantungan kecil yang dibelinya saat di toko oleh- oleh.

Kemudian disaat itu, tiba- tiba saja Luciano datang ke kamarnya dan mengatakan bahwa Takane ingin menemuinya.
Ketika Hana keluar dari dalam penginapan, Takane mengatainya telat. Dan Hana pun menjelaskan bahwa dia baru saja di beritahu.
“Untuk kamu membuatku menunggu selama ini setelah memanggil mu, kamu benar- benar berani, huh?” kata Takane. Lalu sebelum Hana sempat menjawab, Takane langsung menyela dan berjalan duluan. “Dinginnya! Ayo!”

“Huh? Kemana kita akan pergi?” tanya Hana, bingung.
“Kamu yang bilang kan? Bahwa kamu ingin pergi ke kuil untuk memperbaiki kesuksesan mu. Luciano bilang bahwa ada kuil di dekat sini,” jelas Takane.
“Aku tidak ada mengatakan itu…”

“Kamu tidak bagus dalam belajar, jadi kamu harus berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan. Supaya kamu menjadi sama seperti ku. Dalam ujian atau tantangan hidup apapun, aku bisa menghadapinya dengan tenang,” jelas Takane dengan bangga, lalu dia berjalan duluan.
Tapi karena masih bingung kenapa Takane tiba- tiba saja menjadi begitu perhatian kepadanya, maka Hana hanya berdiri diam saja di tempatnya.

Merasakan bahwa Hana tidak ada mengikutinya, maka Takane pun berhenti berjalan dan berbalik menghadap ke arah Hana, “Aku melakukan ini untuk kebaikanmu! Jadi cepat dan ikutlah!” katanya dengan tegas. Dan Hana pun segera mengikutinya.
Sepanjang perjalanan. Takane terus menceramahi Hana. Dia mengatakan bahwa ketika berdoa, Hana jangan hanya meminta di berikan ke suksesan, tapi Hana juga harus bekerja keras di kehidupan nyata agar Hana tidak berakhir menjadi orang yang malas.
“Apa kamu berencana menceramahi ku selamanya?” keluh Hana.
“Jika kamu mengatatakan malas selama kamu masih seorang murid. Maka ketika besar, kamu akan menjadi orang dewasa dengan sifat pemalas,” balas Takane.

Hana berhenti berjalan, dan memperhatikan gantungan kunci yang telah dibungkusnya. Kemudian tiba- tiba saja, Takane berteriak dengan keras, sehingga Hana pun merasa terkejut, dan dia menanyakan ada apa.
“Ah, tidak ada. Aku baru teringat ada sesuatu yang penting,” kata Takane dengan sikap tampak panik. Lalu dia mengajak Hana untuk mengikutinya kembali.
“Bagaimana dengan kuilnya?” tanya Hana, heran. Sambil berusaha melihat, apa yang sebenarnya Takane sembunyikan tentang kuilnya.
“Biarkan saja! Ayo kembali!” balas Takane. Sambil menghalangin Hana yang mau melihat kuil di belakang nya.


Hana merasa sangat penasaran, apa yang Takane sembunyikan darinya. Jadi dia pun mendorong Takane ke samping, lalu berlari menuju ke arah kuil. Dan ketika dia melihatnya, ternyata itu adalah kuil Dewa cinta. Bukannya kuil Dewa pendidikan.
“Bajingan itu… dia menipuku!” gerutu Takane. Lalu dia menarik tangan Hana untuk mengikuti nya kembali. Dan disaat itu, tanpa sengaja hadiah yang Hana pegang terjatuh dari pegangannya.

Takane memungut hadiah yang terjatuh itu, dan bertanya apa itu. Dan dengan sedikit gugup Hana pun menjawab bahwa itu adalah oleh- oleh untuk Takane. Mengetahui itu, Takane merasa bingung kenapa Hana harus membelikannya oleh- oleh, kepadahal mereka datang bersama- sama ke tempat ini.
“Perjalanan luar biasa ini adalah pengalaman yang sulit dilupakan untukku. Tapi ini pasti biasa saja untuk Takane- san. Jadi aku berpikir, jika aku tidak memberikan mu sesuatu untuk mengingat perjalanan ini, maka kamu akan melupakannya,” jelas Hana.
Takane memperhatikan gantungan boneka merah kecil yang tampak kekar tersebut. Gantungan pemberian dari Hana.
Hana menjelaskan bahwa dia memilih gantungan itu, karena dia memikirkan tentang Takane. Dan Takane diam, tidak merespon. Lalu karena Takane hanya diam saja, maka Hana pun merasa malu dan ingin merebut kembali gantungan itu.
“Hey, hentikan! Kamu sudah menyerahkannya padaku! Jadi ini milikku!” kata Takane sambil mengangkat tangannya tinggi- tinggi, supaya Hana tidak bisa merebut gantungannya.
“Apa yang kamu katakan? Kamu melihatnya dengan raut wajah menghina!” balas Hana sambil masih berusaha merebut gantungannya kembali.
“Tidak!” teriak Takane.
Karena sibuk berebutan, tanpa sengaja, Hana jatuh menimpa Takane. Dan selama sesaat mereka saling diam sambil bertatapan. Kemudian setelah itu, dengan canggung Hana menyingkir dari atas tubuh Takane. Dan disaat itu, dia menemukan sesuatu keluar dari dalam saku jaket Takane, jadi dia langsung mengambilnya.

“Mengapa?” tanya Hana, terkejut, ketika dia melihat kalau barang yang keluar dari dalam saku Takane adalah gantungan yang sama dengan yang diberikannya.
“Aku memperhatikanmu ketika kita berada di toko oleh- oleh. Aku pikir kamu menginginkannya,” jelas Takane dengan kaku.
Hana mengomentari bahwa ini pertama kalinya Takane memberikan sesuatu yang diinginkannya. Dan mendengar itu, Takane merasa malu, jadi dia ingin merebut kembali gantungan miliknya, tapi Hana langsung mengelak.
“E- eh… Kamu sudah menyerahkannya padaku! Jadi ini milikku sekarang!” kata Hana sambil melindungin gantungannya. “Terimakasih,” ucapnya.
“Kalau begitu, aku akan menerima nya kali ini,” balas Takane dengan sikap jaim seperti biasa. Sambil memperhatikan gantungannya.
Hana kemudian melihat ke arah kuil, dan mengajak Takane untuk berdoa bersama- sama, karena mereka sudah terlanjur berada di dekat sana. Dan Takane pun mengiyakan.
“Semoga kami semua bisa berada di kelas yang sama pada tahun kedua,” kata Hana, mengucapkan permohonannya. Dan mendengar itu, Takane mengetawainya. Tapi Hana mengabaikannya.
Takane memperhatikan Hana yang sedang berdoa, lalu dia tersenyum dan menutup matanya untuk berdoa.
Hana membuka matanya, dan memperhatikan Takane sambil tersenyum. Lalu dia menutup matanya kembali dan berdoa.
“Semoga Takane- san tidak akan pernah melupakan perjalanan ini.”

Dalam perjalanan pulang dari kuil. Takane dan Hana pergi berjalan- jalan bersama, dan berfoto berdua. Lalu ketika Hana meniup- niup tangannya karena kedingingan, Takane memberikan syal nya untuk membungkus tangan Hana supaya hangat.

“Ini hangat,” gumam Hana sambil tersenyum senang. Dan Takane ikut tersenyum.

Mereka berdua kemudian pulang bersama- sama menuju ke penginapan. Takane berjalan sambil menarik syal yang di bungkus kan di tangan Hana. Dan Hana berjalan mengikuti Takane dengan patuh.
“Kita masih bisa pergi ke pemandian air panas lagi kan?” tanya Hana dengan pelan.
“Kamu sangat hebat menjebak ku untuk datang ke sini. Kurasa aku akan mengingat untuk datang ke sini di musim dingin,” jawab Takane. Dan Hana tersenyum senang.
Takane kemudian tiba- tiba saja mengatakan bahwa masalah utamanya sekarang adalah kemana jalan kembali ke penginapan.
“Ternyata benar, kamu sama sekali tidak tahu jalan!” kata Hana, terkejut.

“Tidak apa,” balas Takane, singkat. 

No comments:

Post a Comment