Sunday, May 5, 2019

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 10 – 1

0 comments

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 10 – 1
Images by : jTBC
Semua karakter, organisasi, tempat, kasus, dan insiden dalam drama ini fiktif
“Istriku dan aku berpikir Sun Ho jatuh karena ada yang mendorong dia dari atap. Tapi kami tidak punya bukti atau saksi mata. Jadi, sulit rasanya untuk membuktikan apa pun. Kami pasti bisa tahu apa yang terjadi seandainya CCTV di sana berfungsi. Tapi hari itu sedang rusak. Dan itulah yang membuatku kesal. Aku tahu ini memang mengada-ada. Tapi bagaimana jika CCTV-nya tidak rusak? Jika memang ada yang sengaja menghapus rekaman itu, aku mulai berpikir siapa yang bisa menghapusnya. Saat itulah terlintas olehku orang yang tidak pernah aku duga. Sepertinya dia baik. Aku tidak punya anggapan buruk terhadapnya. Tapi aku sadar hanya dialah yang bisa menghapus rekaman CCTV hari itu. Itu hanya spekulasiku, dan aku tidak punya bukti. Jadi, tidak mungkin aku bisa membuktikannya. Dan pada saat ini, aku masih merasa dia bukan orang jahat. Aku yakin dia punya alasannya. Pasti dia punya alasan pelik hingga terpaksa harus seperti ini. Bisakah kamu memberitahuku alasannya?” tanya Moo Jin.
Dae Gil terdiam.

Flashback
Anak Dae Gil, Mr. Ice menemui Dae Gil dan memohon bantuan ayahnya untuk membayarkan hutangnya. Jika dia tidak membayar hutangnya kali ini, para rentenir itu akan membunuhnya. Dia benar-benar takut dan berjanji akan berhenti berjudi dan memakai narkoba, jika ayahnya membantunya. Dia menangis dan memohon. Sebagai seorang ayah, Dae Gil tidak tega.
Dan di saat itulah, Eun Joo memohon padanya dan berjanji akan memberikannya uang sebanyak apapun. Itulah kenapa Dae Gil membantu Eun Joo untuk tutup mulut.
End
Dae Gil melihat kalau orang suruhan Jin Pyo yang mengawasinya, juga berada di dalam restoran itu juga, mengintainya.

“Aku punya seorang putra. Dia kecanduan judi dan narkoba. Dia sudah rusak sampai ke akarnya. Aku tidak tahu apapun mengenai putraku, karena aku selalu keluar untuk menangkap para penjahat selama lebih dari 20 tahun. istriku dan anakku terluka, tapi aku tidak tahu apapun. Semua sudah terlambat ketika aku menyadari yang telah terjadi para mereka. Tapi, aku tidak bisa menyerah terhadap putraku begitu mudahnya. Meskipun aku tahu kalau dia sudah tidak tertolong lagi, aku terus berharap dan akhirnya kecewa. Lalu kembali berharap lagi.”
“Karena kita adalah orang tua. Bagaimana bisa orang tua menyerah terhadap anaknya?”
“Kau benar. Karena aku orang tua. Karena dia adalah anakku. Mengenai kasus Sun Ho, aku benar-benar minta maaf, tapi aku takut tidak akan bisa membantu apapun.”
“Aku percaya kalau kau mengirimkan video itu karena kau ingin membantu.”
“Kau punya bukti kalau aku yang mengirimkan video itu?”
“Aku yakin.”
Dae Gil tetap berusaha berbohong, mungkin semua demi kebaikan Moo Jin. Tapi, Moo Jin tetap percaya pada Dae Gil. Dia juga yakin kalau Dae Gil tahu sesuatu, mungkin In Ha atau Jin Pyo lah yang menyuruh Dae Gil untuk tutup mulut dan menghapus CCTV. Tapi, dia yakin kalau kebenaran akan terungkap suatu hari nanti.
“Aku sudah memberitahu semua nya kepada polisi yang ku ketahui,” ujar Dae Gil dan beranjak pergi. Tidak ingin membahas lebih lanjut.
“Aku akan menunggu. Aku tidak akan menyerah tapi menunggu hingga kau mendapat kebenaran untuk melakukan hal yang benar,” ujar Moo Jin.
“Kau sama seperti kaktus. Kaktus dapat bertahan dari kerasnya padang pasir. Tapi, aku tidak pecaya kalau aku akan bisa menjadi oasis.”
“Aku akan menunggu,” ulang Moo Jin.
Dae Gil tidak mengatakan apapun dan pergi. Saat dia pergi, orang yang mengawasinya, pun ikut pergi.
--
Sung Jae, Young Chul dan Joon Seok sudah pulang akademi. Sung Jae merasa kesepian karena Ki Chan tidak datang ke akademi. Joon Seok langsung sinis dan bertanya emangnya kenapa? Sung Jae langsung membuat alasan kalau itu karena ibunya tidak bisa menjemputhnya karena ada janji. Jadi, dia mengajak mereka untuk bermain game. Young Chul langsung setuju. sementara Joon Seok menolak karena ibunya akan segera datang menjemputya.

Saat itu, In Ha datang dan meminta waktu untuk bicara sebentar dengan Joon Seok. Dia membawa Joon Seok ke café yang ada di dekat sana. Sebelum mulai bicara, In Ha melihat ke arah sepatu Joon Seok, dan melihat caranya mengikat tali sepatu. Joon Seok menyadari tatapan In Ha tersebut dan sedikit memundurkan kakinya ke belakang.
Sebelum bertanya ke intinya, dia berbasa basi terlebih dahulu. Menanyakan keadaan Joon Seok dan sejenisnya. Joon Seok tampak gugup, tapi berusaha keras menyembunyikannya.
“Dapatkan kau menjawab pertanyaanku dengan jujur?”
“Ya.”
Dan In Ha langsung bertanya, apa yang terjadi di malam itu? Malam di saat Sun Ho mengalami insiden itu. Mereka berdua bertemu kan?
--
Eun Joo tiba di akademi dan malah mendengar dari Sung Jae dan Young Chul kalau In Ha membawa Joon Seok. Mereka tidak tahu In Ha membawa Joon Seok kemana. Dan Young Chul langsung menyuruh Eun Joo untuk segera menelpon Joon Seok. Eun  Joo tampak panik.
--
“Kami tidak bertemu,” ujar Joon Seok.
“Lalu, mengapa kau pergi ke sekolah di jam itu?” tanya In Ha lagi. “Kau masuk lewat gerbang belakang. Bukankah kau pergi menemui Sun Ho?”
Joon Seok sudah bingung, dan dia teringat ucapan ibunya untuk menekankan di dalam pikirannya kalau di malam itu, dia menjemput Joon Seok dan membawanya pulang langsung. Dan karena ingatannya itu, Joon Seok menjawab dengan tegas kalau dia tidak ke sekolah dan langsung pulang ke rumah hari itu.
“Joon Seok. Aku rasa itu kecelakaan. Itu bukan kesengajaan, itu adalah kecelakaan. Aku tahu kau merasa stress dan takut. Tapi, ini terlalu berat untuk kau tanggung. Beritahu kebenarannya dan lepaskan bebannya. Hanya dengan begitu, kau bisa terus melangkah maju,” nasihat In Ha.
Dan Joon Seok teringat ucapan ayahnya untuk mengabaikan segalanya, dan kalau ada yang menghalangi jalannya, ayahnya yang akan menyingkirkan penghalang tersebut. Dan karena teringat akan hal itu, Joon Seok dapat dengan tegas berkata kalau dia sudah mengatakan kebenarannya.
In Ha frustasi dengan Joon Seok yang terus berbohong dan menyangkal segalanya. Dia tahu kalau semua orang dewasa berbohong, dan karena dia berharap kalau Joon Seok akan jujur, makanya dia mencari Joon Seok. Dia percaya kalau hati Joon Seok lebih baik daripada orang – orang dewasa.
Eun Joo mencari Joon Seok dengan panik. Dia menelpon tapi Joon Seok tidak mengangkat teleponnya. Dan saat itulah, dia tanpa sengaja menemukan mereka yang sedang bicara di dalam sebuah café.

In Ha masih terus membujuk Joon Seok untuk jujur. Dia bahkan sampai menangis dan memohon. Joon Seok hanya diam menatap In Ha.
“Apa yang kau lakukan?!” marah Eun Joo yang sudah masuk ke dalam café. Dia segera menyuruh Joon Seok untuk keluar dan masuk ke dalam mobilnya yang di parkir di depan akademi.
“Aku peringati kau! Jangan mengganggu putraku lagi,” tekan Eun Joo. “Aku sudah bilang, aku harus melindungi putraku juga.”
“Kau hanya ingin melindungi dirimu sendiri, bukan Joon Seok. Kau ingin melindungi segala yang telah kau nikmati selama ini.”
“Jangan bicara seolah kau tahu segalanya!”
“Apakah kau akan membiarkan Joon Seok hidup dalam rasa bersalah seumur hidupnya?”
“Berhenti bicara omong kosong. Kenapa dia harus merasa bersalah ketika dia tidak melakukan hal apapun yang salah?”
“Kau sungguh berpikir begitu? Lihatlah ke cermin. Lihat refleksi dirimu dan lihatlah betapa tidak tahu malunya kau sekarang!” teriak In Ha.
“Jika kau ingin bicara, bicarakan saja ke polisi.”
“Ini bukan hal yang benar untuk Joon Seok. Tidakkah kau lihat kalau kau sedang menggalikan sebuah lubang untuknya? Eun Joo!”
“Temanmu Seo Eun Joo tidak ada. Aku adalah ibu Joon Seok.”
“Menjadi ibu tidak membenarkan tindakan kriminal.”
“Itulah yang ingin ku katakan. Berhenti menekan Joon Seok hanya karena kau adalah ibu korban. Aku sudah cukup menghadapimu,” ujar Eun Joo dengan tegas dan meningggalkan In Ha.
--

Di dalam mobilnya, Eun Joo dan Joon Seok sama-sama diam. Saat dalam perjalanan, Joon Seok bingung karena Eun Joo membawanya melalui jalan sekolah. Dan Eun Joo terus saja mengedarai mobilnya menuju arah sekolah.
“Kita terkadang melalui jalan ini. Di sini tidak ada lampu merah dan juga sepi, jadi terkadang kita melalui jalan ini untuk pulang ke rumah. Malam itu juga, kita lewat jalan ini,” ujar Eun Joo. Dan bahkan memutar mobil ke arah gerbang belakang sekolah.
Joon Seok benar-benar bingung, apalagi saat Eun Joo hanya memutar di belakang gerbang sekolah.
“Kita tidak pernah berhenti di gerbang. Aku menyetir ke gerbang belakang karena salah. Kita sedang membicarakan mengenai ujianmu, dan aku malah berbelok ke kiri padahal harusnya ke kanan. Jadi, kita memutar ulang. Malam itu, kau juga mengejek ibu karena tidak tahu mana kiri dan kanan. Itulah yang harus kau katakan pada polisi jika mereka bertanya, okay?” dikte Eun Joo saat mereka sudah sampai di rumah.
“Ibu menakutiku.”
“Jawab saja.”
“Ya,” ujar Joon Seok takut. Saat Eun Joo mau keluar dari kamarnya, “Ibu, apa kau marah padaku? Ibu bertingkah aneh sejak kemarin. Cara ibu melihat dan bicara padaku, membuatku takut. Ini tidak seperti ibu.”
“Di situasi seperti ini, akan aneh jika tidak merasakan apapun,” ujar Eun Joo dengan suara keras.
“Aku tidak bilang kalau aku tidak merasakan apapun. Ini juga berat bagiku. Dan aku juga menderita.”
“Tahanlah!” perintah Eun Joo. “Ibu juga tidak bisa membantumu mengenai hal itu,” tegasnya dan keluar dari kamar.
Di bawah tangga kamar, Jin Pyo sudah menunggunya. Dia menyuruh Eun Joo untuk tidak terus menyalahkan diri dan kuatlah. Jangan buat Joon Seok juga terjatuh.
“Jangan khawatir. Bahkan jika aku hidup dalam penderitaan, aku akan pastikan tidak merusak hidupmu,” jawab Eun Joo dan masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamarnya, Eun Joo bertukar baju. Dan tampak jelas, dia sangat tertekan dan menderita karena semua kejahatan dan kebohongan yang harus di tutupinya. Dia menangis.
Sementara itu, Jin Pyo masuk ke dalam kamar Joon Seok. Dia memberitahu Joon Seok kalau dia sudah tahu semuanya dari Eun Joo, dan baginya itu adalah kecelakaan. Dia juga tidak kecewa dengan Joon Seok karena semua itu kan hanya kecelakaan, bahkan jika Joon Seok langsung melapor ke polisi hari itu, hasilnya tetap akan sama saja.
“Kau tidak bisa menghilangkan perasaan mu yang merasa buruk pada Sun Ho, tapi jangan pernah merasa bersalah. Saat kau melakukannya, kau akan menjadi bersalah,” tekan Jin Pyo. “Hal buruk dapat terjadi dalam hidup ini. Dan kau mendapatkannya sekarang, kau hanya sial. Begitu juga dengan Sun Ho.”
“Aku merasa ibu tidak percaya kalau itu adalah kecelakaan.”
“Itu tidak benar. Ibu hanya stress karena dia mengkawatirkanmu. Mulai dari sekarang, jangan menyembunyikan apapun dariku. Ibu dan ayah adalah satu-satunya orang yang bisa menolongmu. Jangan percaya pada teman atau gurumu. Kau tidak bisa mempercayai siapapun, mengerti? Jangan khawatir, semua nya akan berlalu. Semua akan berakhir seolah tidak ada yang  pernah terjadi,” ujar Jin Pyo. Dan Joon Seok tersenyum mendengar ucapan ayahnya tersebut.
--

In Ha dalam perjalanan pulang dan dia melewati toko sepatu. Melihat toko itu, In Ha teringat setiap kali dia mengajak Sun Ho untuk membeli sepatu baru, Sun Ho selalu menolak. Dia selalu berkata akan membeli nanti saja. Mengingat hal itu, membuat In Ha semakin sedih, karena pada akhirnya dia tidak juga membelikan Sun Ho sepatu baru.
--

Dong Hee dan Soo Ho masih berada di depan rumah Da Hee. Jam sudah lewat jam 9, dan karena itu Dong Hee menyuruh Soo Ho untuk menyerah dan pulang saja. Tapi Soo Ho menolak, dan berkata akan menunggu sebentar lagi karena dia yakin Da Hee akan keluar.

Benar, tidak lama kemudian, mereka melihat Da Hee yang keluar dari dalam rumah. Soo Ho dan Dong Hee langsung menghampirinya. Soo Ho menyapa Da Hee, dan dia yakin Da Hee pasti mengenalnya. Da Hee mengiyakan.
“Kenapa kau kemari?”
“Kau mendengar apa yang terjadi pada oppa-ku, kan?”
“Ya.”
“Aku tahu kalau oppa-ku datang menemuimu di hari kejadian itu.”
“Aku tidak bertemu dengannya.”
“Kenapa tidak? kenapa tidak bertemu dengannya?”
“Tidak ada alasan.”
“Dia datang ke rumahmu dengan membawa buket bunga. Dan kau tidak menemuinya? Okay, kita lupakan hal itu. Kenapa oppa-ku menelponmu berulang kali? Aku menyadari kalau kau menjawab teleponnya sekali. Apakah oppa-ku ada mengatakan sesuatu?”
“Aku tidak ingat,” jawab Da Hee dengan takut.
“Oppa-ku tidak mungkin bunuh diri. Aku yakin dia bertemu seseorang malam itu. Dan aku pribadi, merasa kalau orang itu adalah Oh Joon Seok. Eonni tahu sesuatu kan? Itulah kenapa Eonni menghinadri kami.”

Tangan Da Hee bergetar, seolah ketakutan. Dan Dong Hee menyadari hal tersebut. Da Hee terus berkata kalau dia tidak tahu apapun dan tidak ingat. Soo Ho berusaha terus meminta Da Hee mengingatnya dan bahkan bertanya kenapa Da Hee terus menghindar? Apa dia menyembunyikan sesuatu?
Da Hee mundur dengan ketakutan. Dong Hee menanyakan keadaannya. Soo Ho juga jadi cemas. Dan itu membuat Da Hee jadi teringat saat Sun Ho datang menemuinya dengan sebuket bunga. Saat itu, Sun Ho memanggilnya dan tersenyum padanya. Mengingat hal itu, Da Hee menjerit keras.
Suara jeritannya terdengar ibunya yang baru pulang. Melihat putrinya ketakutan dan menangis, dia langsung menatap pada Soo Ho. Soo Ho juga panik dan meminta maaf sambil menjelaskan kalau dia hanya ingin mencoba bicara pada Da Hee.
Dan … Plak!!! Ibu Da Hee menampar Soo Ho dengan keras.
-Rahasia dan Kebohongan-
Dong Soo sedang bekerja part time di minimarket, dan dia melihat Dong Hee yang berdiri di depan mini market. Dengan panik, Dong Soo keluar dan menghampirinya. Dia bertanya, kenapa kau kemari? Ada apa? Apa mereka membully mu?
“Tidak.”
“Lalu, kenapa? Beritahu aku jika ada sesuatu.”
“Soo Ho…”
“Ada apa padanya?” tanya Dong Soo, panik.
“Orang-orang berubah menjadi monster.”
“Apa yang kau bicarakan?”
“Orang-orang sangat mengerikan,” ujar Dong Hee lagi.
--
Di rumah, In Ha dan Moo Jin cemas karena Soo Ho belum pulang dan saat di telepon, tidak di angkat. In Ha memutuskan untuk keluar mencari Soo Ho. Moo Jin melarang, dia yang akan keluar dan In Ha biar terus mencoba menghubungi Soo Ho. Dia menenangkan In Ha untuk tetap tenang.
Saat mau keluar, Joon Ha kebetulan datang. Dan dia ikutan panik saat tahu kalau Soo Ho belum pulang. Moo Jin pamit keluar. Joon Ha jadi cemas terjadi sesuatu pada Soo Ho.
Moo Jin berkeliling dengan cemas mencari Soo Ho.
“Apa wanita itu gila? Bagaimana bisa dia menampar Soo Ho?” marah Joon Ha setelah mendengar cerita In Ha. “Setidaknya dia bisa menenangkan Soo Ho yang berusaha sangat keras untuk oppa-nya. kenapa dia menamparnya? Emang dia kira dia siapa?!”
“Jangan membuat semuanya semakin buruk, dan dia saja,” ujar In Ha dan kembali mencoba menelpon Soo Ho.
Joon Ha tidak bisa tenang dan terus mengomel. Dia benar-benar tidak terima, dan mengajak In Ha untuk pergi ke rumah Da Hee. In Ha sudah pusing dan berteriak, untuk apa dia ke sana? Untuk menampar Da Hee? Haruskah dia melakukan hal yang sama seperti yang ibu Da Hee lakukan pada putrinya?
“Ya, itu setidaknya yang eonni harus lakukan!” teriak Joon Ha dan mulai menangis. “Kenapa kita selalu di perlakukan seperti ini?”
“Putri-nya sakit. Da Hee bahkan berteriak.”
“Jadi kenapa? Apa itu memberinya hak untuk menampar Soo Ho?!”
In Ha menghela nafas, “Kau tetap di sini. Dan hubungi aku jika Soo Ho sudah pulang,” perintah In Ha dan pergi keluar.
--
In Ha menaiki mobil sambil menelpon suaminya. Dia memberitahu Moo Jin, kalau dia sepertinya tahu Soo Ho berada dimana.
--

Soo Ho ada di rumah sakit, di kamar rawat Sun Ho. Dia menatap Sun Ho dan mulai curhat. Selama ini, dia hanya melihat orang di tampar dalam drama, tapi sekarang dia merasakannya sendiri. Dan dia merasa sangat bodoh! Dia bahkan menyuruh Sun Ho untuk membuka mata dan melihat bekas tamparan di pipinya yang masih memerah dan terasa sangat sakit.
Tapi, tentu saja Sun Ho masih belum juga sadar.
“Itu juga pasti terasa sangat sakit pada oppa juga, kan?” Soo Ho mulai menangis. “Oppa seharusnya memberitahuku. Aku satu-satunya adik oppa. Oppa seharusnya berbicara padaku. Oppa seharusnya mengirimkan sinyal padaku yang menunjukkan kalau oppa melalui waktu yang sulit. Semua yang oppa lakukan hanyalah tersenyum seperti orang bodoh.”

Flashback
Sun Ho berdiri di depan kamar Soo Ho dan menyuruhnya untuk berhenti memakai make-up. Baginya, Soo Ho terlihat lebih cantik tanpa make up. Ibu juga tidak suka Soo Ho memakai make up.
“Berhenti bersikap sangat membosankan dan keluar,” usir Soo Ho.
“Apa aku membosankan?”
“Tidak tahu? Oppa sangat membosankan dan katrok.”
Sun Ho tidak marah dan terus mengajak Soo Ho bicara. Soo Ho semakin kesal dan menyuruh oppa-nya berhenti mengganggu. Sun Ho jadi bertanya kenapa Soo Ho terus marah padanya?
“Karena oppa sangat mengganggu. Aku sudah kesal karena ujianku gagal.”
“Apa itu salahku?”
“Oppa selalu membawa Joon Seok oppa ke rumah. Dan itu menggangguku yang sedang belajar.”
“Kau tidak suka pada Joon Seok?”
“Ah, entahlan. Keluar saja!” usir Soo Ho lagi.
Sun Ho menyuruh Soo Ho untuk tidak usah sedih karena ujian yang gagal, karena Soo Ho bisa melakukan yang lebih baik di ujian selanjutnya. Soo Ho jadi semakin kesal dan mendorong Sun Ho keluar dari dalam kamarnya.
“Baiklah, maafkan aku.”
“Jangan terus bilang maaf, aku bosan mendengarnya,” gerutu Soo Ho.
End
“Aku minta maaf oppa. Aku benar-benar minta maaf karena bersikap jahat pada oppa,” tangis Soo Ho. “Aku minta maaf karena menyebut oppa membosankan. Aku minta maaf karena bersikap menjengkelkan. Aku minta maaf karena tidak tahu apapun. itu tidak akan terjadi lagi. Aku akan bersikap baik pada oppa. Jadi, tolong sadarlah. Bangunlah sekarang. Tolong!” tangis Soo Ho semakin histeris.
In Ha yang baru tiba, melihat hal itu. Dia menghampiri Soo Ho dan melihat pipi Soo Ho yang membengkak.
“Darimana ibu tahu?”
“Dong Soo menelpon ayahmu. Itu pasti sangat sakit kan?”
“Tidak apa-apa.”
“Ibu akan ke sana besok dan meneriaki mereka.”
“Jangan berteriak pada Bibi. Da Hee eonni kelihatan benar-benar sakit. Karena putrinya sakit, bibi pasti merasa sangat marah. Biarkan saja hal ini.”
In Ha terkejut dengan jawaban Soo Ho yang sangat bijak. Dia merasa tidak terima karena Soo Ho disakiti, dan tidak sepantasnya Soo Ho di tampar. Soo Ho berkata kalau dia merasa marah dan frustasi juga, tapi dia tahu kalau ibunya pasti akan sedih jika dia sakit. Ibunya sedih dan marah karena oppa-nya sakit.
“Meskipun aku tidak berniat melakukannya, tapi aku merasa seperti aku mengganggu Da Hee eonni. Itulah kenapa bibi merasa marah.”
“Apa kamu tidak merasa ini tidak adil?”
“Aku merasa, tapi aku memutuskan untuk membiarkannya. Jadi, ibu juga bisa membiarkannya kali ini. Aku merasa kasihan pada bibi dan Da Hee eonii. Aku merasa dia benar-benar sakit.”
In Ha semakin sedih mendengar ucapan Soo Ho. Dia memeluk Soo Ho dan meminta Soo Ho jangan terlalu cepat dewasa, karena itu membuatnya merasa bersalah. Orang-orang bilang kalau anak cepat dewasa, itu karena orang tuanya tidak cukup baik. Dia meminta Soo Ho agar bertumbuh dengan sedikit pelan.

Dari luar, Moo Jin mendengar pembicaraan mereka. Dia juga ikut merasa sedih. Tidak lama, dia mendapat pesan dari reporter Choi yang mengatakan kalau dia sudah mengedit part yang Moo Jin berikan. Dan artikel nya akan terbit besok.
--

Esok hari,
Berita mengenai apa yang terjadi pada Sun Ho telah menyebar. Berita itu tidak menyebut nama SMP Seah, melainkan SMP Swasta terkenal. Dan juga seorang siswa yang jatuh dari atap gedung, yang sepertinya ada hubungannya dengan kekerasan yang di alami di sekolah. Dan terduga kekerasan ada hubungannya dengan putra Direktur Yayasan Sekolah Oh. tn. Oh bahkan tidak mendapatkan hukuman apapun.
Semua masyarakat mulai tahu mengenai kejadian tersebut. Berita itu menyebar melalui media online dan juga offline. Dong Soo menunjukkan berita itu pada Dong Hee
Di rumahnya, Jin Pyo benar-benar kesal membaca berita tersebut. Eun Joo juga sama terkejutnya.
Soo Ho melihat petisi yang di tulisnya, dan sudah ada 15.121 tanda tangan. Hal ini membuat Soo Ho sangat senang.

In Ha protes karena Moo Jin tidak memberitahunya kalau menerbitkan artikel tersebut. Dia juga memberitahu kalau rep. choi juga sudah pernah menemuinya, dan dari info yang di dapatnya, Rep. choi pernah terlibat kasus pelecehan. Moo Jin dengan tenang berkata kalau dalam kasus itu, Rep. Choi dinyatakan tidak bersalah. Dia merasa kalau Rep. Choi tampak tulus dan juga artikel yang di tulisnya juga benar.
“Tapi, aku merasa tidak benar,” cemas In Ha.
Soo Ho keluar dari kamarnya dengan senang, dan memberitahu kalau petisi yang di tulisnya sudah di tanda tangani lebih dari 15.000 orang. Mereka jelas senang mendengarnya. Mereka kemudian sarapan bersama.
“Aku akan mulai memasak besok,” ujar In Ha.
“Jangan khawatir,” ujar Moo Jin.
Mereka sarapan sambil bercanda, tapi tentu saja itu hanya untuk menutupi kesedihan mereka.


No comments:

Post a Comment