Sunday, June 16, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 05-2

0 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 05-2
Images by : TvN
Part 1 : The Children of Prophecy
Eunseom kembali ke tempat persembunyiannya bersama dengan Dotti. Dan di sana sudah ada Chae-Eun. Begitu melihat Eunseom, Chae-Eun langsung bertanya, apa yang terjadi? Eunseom tidak menjawab dan malah balik tanya, dimana Tagon tinggal?

Chae-Eun tidak menjawab pertanyaan Tagon dan berteriak menanyakan apa benar Eunseom membunuh Sanung Niruha?! Dotti yang melihat mereka bertengkar, menggenggam tangan mereka dan meminta mereka untuk tidak bertengkar.
Eunseom sedikit tenang dan memberitahu kalau dia tidak membunuh Sanung.
“Jadi siapa?
“Menurutmu siapa?” balik tanya Eunseom.
“Tidak mungkin. Terserah kau percaya atau tidak. Katakan dimana Tagon tinggal.”
Chae-Eun tentu tidak mau memberitahu apalagi Eunseom bilang ingin menemui Tagon dan bicara padanya. Eunseom memohon agar Chae-Eun memberitahunya karena dia mempunyai cara menyelamatkan suku Wahan.
--
Taealha bertanya alasan Tagon membiarkan Eunseom hidup. Dia tahu kalau Tagon pasti bisa menangkap Eunseom meskipun Eunseom itu tangkas. Tapi, kenapa Tagon membiarkannya kabur? Apa Tagon mempunyai rencana lain?
“Tidak ada. Aku hanya tidak bisa mengejarnya,” jawab Tagon.
“Kenapa?” bingung Taealha.

Dan dia teringat, saat mereka berciuman tadi, dia sempat melihat paha Tagon yang terluka, dan darahnya berwarna ungu! Taealha segera memeriksa, dan benar, paha Tagon terluka dan warna darahnya ungu!
--
Chae-Eun tidak percaya kalau Eunseom memiliki jalan keluar. Tidak ada yang mempercayai Eunseom setelah Eunseom mengacaukan semuanya.
“Kau tahu kami sebut apa sukumu? Dujeumsaeng. Hewan hina yang bisa jalan, tapi tak bisa terbang. Ayam dan sukumu. Apa kau bodoh? Tak bisa berpikir? Kau mau temui Tagon? Kau pikir dia akan mengampuni nyawamu?”
“Aku tahu rahasianya,” beritahu Eunseom. “Aku bisa menjatuhkannya.”
“Rahasianya?”
“Katamu aku orang bodoh yang tak bisa berpikir. Tidak. Aku bisa dan sedang berpikir. Kau yang bilang, aku asing di sini, tak paham tempat ini. Namun, kukatupkan gigiku dan mencakar tanah dengan kukuku karena aku bisa berpikir keras untuk menemukan solusi menyelamatkan sukuku. Aku harus selamatkan mereka.”
“Lalu apa? Apa rahasia Tagon?” tanya Chae-Eun.
“Aku melihat kelemahannya.”

Flashback
Saat dia bertarung dengan Tagon, dia sempat mengiris paha Tagon dan darah dari pisau-nya mengenai kain pembalut pergelangan darahnya. Darah ungu Tagon, bukan darahnya!
Dan itu mengingatkannya atas ucapan Tagon kalau Sanung tahu kelemahannya dan itu juga adalah kelemahannya.
End
“Apa yang kau lihat?” tanya Chae-Eun, lagi.

“Tagon adalah…,” ujar Eunseom tersenyum senang menatap kain di tangannya, “Tagon adalah… Igutu. Sama sepertiku.” (Dia tidak mengucapkannya pada Chae-Eun, tapi bicara dalam hatinya).
--


Taealha terkejut dan bertanya apakah Eunseom melihat ini? (Waoh, berarti Taealha tahu kalau Tagon adalah Igutu). Tagon juga tidak begitu yakin, apakah Eunseom melihatnya atau tidak. Taealha panik dan menyuruh Tagon untuk mengingatnya.

Flashback
Saat Eunseom kabur dan dia hendak mengejarnya, saat itu dia baru sadar kalau pahanya terluka dan darah ungunya terlihat. Tagon panik dan segera memeriksa sekitar ruangan, dia mengoyak baju prajurit dan mengikatkannya pada pahanya untuk menutupi lukanya tersebut. Dia juga melihat pisau Eunseom yang tertinggal dan segera menyembunyikannya.
Saat itu, terdengar langkah kaki, jadi Tagon langsung berlutut di samping Sanung dan berpura-pura menangis.
End
“Pisaunya ada padaku. Pertanyaannya, dia lihat darahku atau tidak dalam momen singkat di tengah kekacauan itu,” ujar Tagon.
--
Eunseom duduk sendirian. Dia masih melihat kainnya yang berbecak darah biru.
“Jadi, ternyata, Igutu bukan hanya aku,” ujar Eunseom dalam hati. “Jadi, beginilah dua anak monster bertemu.”
--
Kuil Gunung Puncak Putih
Mubaek pergi ke kuil gunung puncak putih dimana klan Asa berada. Dia ingin menemui Asa Sakan. Dia memperkenalkan dirinya kepada Asa Sakan sebagai ksatria dari Suku Mulgil, Mubaek. Dia datang untuk menanyakan sesuatu. Tapi, belum dia bertanya, Asa Sakan sudah bertanya terlebih dahulu.
“Kau tahu tentang Cheonbuin?” tanya Asa Sakan.
“Konon, Airuju kirim Cheonbuin, tiga benda langit, dan menciptakan dunia ini,” jawab Mubaek.
“Apa tiga benda langit itu?”
“Pedang, lonceng, dan cermin, benar?”
“Benar. Dia juga bilang akan mengirim tiga benda langit itu saat ingin mengakhiri dunia. Pedang untuk membunuh dunia, lonceng untuk bergema di seluruh dunia, dan cermin untuk menerangi dunia. Tiga benda itu akan mengakhiri dunia. Sekitar dua dekade lalu, tiga benda ini muncul bersama di dunia. Dan semalam, lima bintang sejajar di langit. Lalu komet muncul, menabrak bintang terbesar dalam batasan Ungu yang Terlarang,” beritahu Asa Sakan.
“Aku tak mengerti.”
“Semalam, di Arthdal, pasti ada pria yang membunuh ayahnya sendiri. Pria pembunuh ayahnya ini akan melawan benda langit, memastikan dunia tak berakhir. Temukan dan bantu dia. Jika tidak, dunia akan berakhir.”
“Dunia akan berakhir? Apa tepatnya maksudmu?”
“Dunia Saram. Tiga suku jadi Saram karena Klan Asa bisa berkomunikasi pada para dewa. Begitulah peradaban ini dan Serikat kita terbentuk. Jika dunia ini berakhir, kita akan kembali hidup seperti orang biadab di zaman kuno. Pergi cari dia,” perintah Asa Kan.
“Bisa beri tahu aku… apakah Kepala Suku, Asa Sin dan Risan menuju selatan?” tanya Mubaek.
“Ya, mungkin ke selatan.”
“Di selatan mana… Mungkinkah Iark, di atas Tebing Hitam Besar?”
“Mungkin saja. Kenapa kau bertanya?” tanya Asa Sakan, balik.
“Benda di sana…,” tunjuk Mubaek kepada Totem yang ada di sana. “Apa Kepala Suku, Asa Sin, meninggalkannya?”
Mubaek keluar dari gua dengan langkah lunglai. Dia teringat jawaban Asa Kan kalau Asa Sin menghilang bersama totem yang di wariskan langsung kepada klan Asa dan totem yang ada di mereka hanyalahnya totem palsu yang mereka buat setelah Asa Sin pergi. Tidak ada yang tahu dimana aslinya.

Mubaek mengeluarkan totem yang di temukannya di Iark, milik Suku Wahan. Totem yang sama seperti yang di miliki klan Asa, tapi yang di miliki oleh klan Asa adalah palsu karena yang asli di bawa pergi oleh Asa Sin. Mubaek juga ada bertanya, apa di balik Totem itu ada tertulis sesuatu juga? Asa Kan menjawab tidak ada. Dan totem yang ada di suku Wahan, memiliki gambar di baliknya.
(Wuaoaah. Tunggu. Jika Asa Sin, kepala suku dari klan Asa pergi dan menuju Iark, dan bahkan meninggalkan totem di sana. Apa mungkin, suku Wahan adalah klan Asa baru yang di bentuk oleh Asa Sin dan Risan? Bukankah suku Wahan juga melakukan ritual tarian seperti yang di lakukan oleh Choseol dan di ajarkannya pada Tanya? Dan Asa Moo juga melakukan tarian untuk berkomunikasi dengan dewa.)
--
Prajurit mengumumkan kepada seluruh rakyat. Siapapun yang bisa menangkap Eunseom akan di hadiahi delapan batang perunggu, sepuluh pot jawawut dan juga gandum.
Danbyeok juga bertekad untuk menangkap Eunseom yang telah membunuh ayahnya.
--

Tagon masih cemas mengenai Eunseom yang entah melihat lukanya atau tidak. Taealha menghampirinya dan menunjukkannya seragam putih yang akan di kenakan Tagon dalam Ollimsani hari ini. Sayangnya, Tagon tidak terlihat antusias.
“Tagon. Aku sudah berpikir. Kau tahu dia dujeumsaeng. Cukup menakjubkan dia bicara bahasa kita. Mungkin dia keturunan leluhur kita. Namun, dia tetap dujeumsaeng. Sekalipun melihat lukamu, dia tak akan tahu tentang Igutu. Mereka dari Iark. Mereka biasa tinggal di ujung selatan. Pasti tak pernah lihat Neanthal. Tak mungkin mereka tahu soal Igutu. Sekalipun melihat darahmu, dia hanya bisa takjub. Kurasa itu mustahil. Sekalipun tahu soal Igutu, dia tetap tak tahu artinya jadi Igutu di sini. Apa yang diketahui dujeumsaeng? Benar?”
Tagon sedikit tersenyum dan berterimakasih karena Taealha begitu berusaha keras untuk menghiburnya.
“Tagon. Apa arti hari ini bagi kita? Ini hari penting bagi kita berdua. Kau… Kau akan menjadi dewa. Karena itu aku memilihmu, kau lakukan langkah pertama hari ini. Jangan biarkan dia alihkan perhatianmu. Dia hanya dujeumsaeng,” ingati Taealha. “Ulat bulu unguakan menjadi kupu-kupu. Katakan bait berikutnya.”
“Di tengah badai hujan pun, dia merentangkan sayap.”
Tagon kemudian mengaitkan jarinya dengan erat pada Taealha.
--
Hae Mihol memarahi anak buahnya karena belum juga menemukan Taealha. Dia yakin kalau Taealha merencanakan sesuatu, jadi mereka harus segera menemukannya.
Tidak lama, Danbyeok tiba dan langsung bertanya tujuan Hae Mihol mencarinya. Hae Mihol memberitahu dugannya, kalau mungkin bukan Eunseom yang membunuh Sanung, tapi Tagon. Apalagi, Tagon saat itu memiliki kambing hitam (Eunseom) dan tidak ada yang bisa menjadi saksi. Danbyeok tidak yakin karena jika Tagon kemarin memilih menyelamatkan ayah mereka, Tagon kan bisa menjadi pahlawan.
“Dia sudah jadi pahlawan.  Kau lihat bagaimana orang menatap Tagon kemarin? Jika begini, dia bisa jadi pemimpin Serikat. Jika itu terjadi, apa kau bisa pertahankan posisimu? Kau pikir Suku Hae akan selamat? Kita harus menghentikannya.”
“Aku tak bisa menuduh kakakku tanpa bukti.”
“Benar. Maka kita harus temukan dujeumsaeng itu secepatnya. Dia satu-satunya saksi.”
Danbyeok kemudian tersadar kalau dia belum melihat Taealha. Kemana Taealha? Hae Mihol gugup and berbohong kalau Taealha sakit dan tidak bisa menjalankan perintah Sanung.
--
Danbyeok memerintahkan pengawalnya untuk mulai mencari Eunseom. Mereka tidak tahu wajah Eunseom, jadi mereka harus menanyai setiap orang yang mencurigakan. Dan tanyakan hal yang dujeumsaeng tidak tahu jawabannya. Dan juga, cari Taealha dan pelayannya, Haetuak!
--
Pengawal Hae juga merasa ini adalah situasi genting. Situasi mereka berbeda dari Danbyeok. Jika Tagon menjadi pemimpin serikat, dia akan meminta rahasia teknologi perunggu suku Hae. Sekarang, mereka juga sudah kehilangan Sanung dan tidak bisa mencegah Tagon.
“Ada satu yang bisa. Hanya satu orang,” ujar Hae Mihol.
Tanpa menunggu lama, Hae Mihol langsung pergi menuju kediaman Asa Ron.

Dia tidak sadar kalau Gilseon adalah mata-mata Tagon. Gilseon segera melapor pada Tagon kalau dugaan Tagon benar. Hae Mihol pergi ke Kuil Agung. Taealha malah berkata kalau ayahnya memang mudah di tebak.
“Sekarang giliranku,” ujar Tagon.
--

Asa Ron heran melihat Hae Mihol menemuinya. Apalagi Mihol berkata dia ingin mengakui sesuatu.
--

Tagon menemui Danbyeok. Melihat Tagon, Danbyeok bertanya-tanya, apakah benar Tagon membunuh ayah mereka atau tidak?
“Aku kemari untuk meminta persetujuan.”
--
Asa Ron masih bersikap sombong melihat Mihol yang tampak tunduk kepadanya. Dan Mihol langsung berkata kalau Asa Ron sudah berbohong mengenai Tagon yang di anugerahi kemampuan cenayang para dewa. Itu semua ide Tagon kan? Asa Ron menyangkal hal itu.
Mihol tidak bisa di bodohi. Dia sudah tahu kalau malam sebelum sidang keramat, Tagon menemui Asa Ron secara rahasia.
“Niruha. Awalnya, kukirim putriku, Taealha, kepada Tagon sebagai yeomari. Namun, dia pun tertarik padanya. Dengan kata lain, Tagon mempermainkan kita.”
“Jadi, apa maksudmu?”
--
Danbyeok bertanya persetujuan apa yang ingin di minta Tagon. Tagon meminta agar dia di izinkan melakukan Ollimsani (ritual pra atau pasca kematian untuk membimbing roh ke dewa – sama seperti di episode 01) untuk Sanung. Tapi, jika Danbyeok tidak mengizinkannya, dia tidak akan melakukannya.
“Aku yakin perasaanmu sama. Ayah baru meninggal, aku hanya bisa bahas ini bersamamu.  Ayah paling percaya padamu. Kau kepala Suku Saenyeok. Aku kakakmu, tapi aku beogeumbari (anak haram) yang tak kenal ibunya. Aku bukan putra yang baik, tapi aku...”
“Ollimsani bagi pemimpin Serikat harus dilakukan Pendeta Tinggi,” ujar Danbyeok.
“Aku akan minta izinnya.”
“Apa kau… membunuh ayah?” tanya Danbyeok (laelah, mana ada yang ngaku kalau di tanya begitu langsung).
“Apa? Apa katamu?” tanya Tagon balik, berpura-pura kaget.
“Kesatria Daekan menyerang ayah setelah Sidang Keramat.”
“Aku harus tahu faktanya. Aku mau tahu apa ayah menyewa orang untuk melaporkanku. Aku mau bicara padanya. Aku mau tanya kenapa ayah lakukan itu.”
“Aku selalu memihakmu. Bahkan saat kau masuk sendirian. Harapanku besar karena percaya padamu, juga pada kemampuanmu. Kupikir, "Jika Tagon selamatkan ayah, konflik tahunan antara mereka mungkin berakhir. Ayah akan membuka diri padanya." Apa aku salah? Apa kau membunuh ayah?”
“Untuk apa aku...”
“Sebab kau muak dan bosan akan hal itu! Aku yakin kau benci ayah. Apa kau membunuhnya?”
“Aku mau membunuh. Kau, bukan ayah. Kau, Danbyeok. Aku ingin kau mati. Kupikir ayah akan sayang aku jika kau tiada. Kukira itu bisa buat ayah sayang dan memperlakukanku seperti kepadamu. Sampai batuan putih runtuh dan karang biru hancur, baik aku di Dataran Bulan atau di atas Tebing Hitam Besar, kupikir sudah cukup perbuatanku bagi ayah untuk mengakuiku. Namun, kini, aku tak akan dapat pengakuan itu. Kau pikir aku membunuhnya?”
“Taealha.  Ayah mencuri Taealha darimu. Apa aku salah?”
“Benar. Aku memang mau membunuh… Mihol. Aku pertama terbuka pada Taealha saat umurku 17 tahun. Mihol jadikan dia yeomari untuk mengawasi ayah. Pria itu, Mihol, mengambil Taealha dariku. Bagai ular licik bertaring, dia memisahkan aku dan ayah,” ujar Tagon.
Dia memutarbalikkan semua faktanya. Memanfaatkan hati Danbyeok yang polos.
--
“Tagon ingin menjadi raja,” beritahu Mihol.
Asa Ron tidak tahu apa itu raja. Dia bahkan bertanya apa itu yang di miliki suku Hae di dataran jauh di barat, Remus? (ingat suku Hae adalah pendatang di Arthdal).
“Raja itu pemimpin segala, yang paling berkuasa di bawah langit,” jelas Mihol. “Karena itu, kau harus menjadi pemimpin Serikat. Akan kubantu.”
“Tak ada pendeta yang jadi pemimpin Serikat,” ujar Asa Ron.
“Kansareu Niruha pernah. Akan kubujuk tiap kepala suku. Dalam rapat suku, tuntut Tagon atas kematian Sanung Niruha dan usir dia, lalu jadilah pemimpin Serikat,” pinta Hae Mihol.
Dan tentu saja Asa Ron yang tamak, sangat tertarik dengan tawaran tersebut.
--
Tagon selesai menemui Danbyeok. Dia bahkan berpura-pura goyah hingga harus di bantu Moogwang. Moogwang kemudian bertanya pada Tagon, apa yang harus mereka lakukan pada suku Wahan?

No comments:

Post a Comment