Thursday, November 28, 2019

Sinopsis Lakorn- Drama : Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 8 - part 3/5

0 comments

Sinopsis Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 8 – part 3
Network : Channel 3
Didalam kamar. Unthiga menangis sambil mempersiapkan dirinya sendiri.
Arm berterima kasih banyak kepada kedua Paman Anik yang sudah mau datang ke rumah mereka. Dan dengan ramah, paman Anik mengiyakan. Lalu Arm pun menyuruh Ting untuk segera memanggil Unthiga turun, karena ini sudah terlalu lama. Dan Ting pun mengiyakan.
Kemudian Arm meminta maaf kepada kedua Paman Anik. Dia meminta pengertian mereka untuk menunggu sedikit lama, dengan alasan Unthiga mungkin masih sedang bersiap- siap. Dan mereka mengerti.
Ting mendekati Unthiga yang tampak sangat sedih. Dia memberitahu kan tentang keluarga Anik yang sudah menunggu lama. Dan Unthiga mengerti, dia menyuruh Ting untuk turun duluan dan dia akan menyusul nanti.

“Baiklah,” jawab Ting sambil dengan lembut memegang tangan Unthiga. Dia menepuk pelan tangan Unthiga untuk memberinya ketabahan. Lalu dia pun keluar dari dalam kamar.
Unthiga menatap cermin dirinya di depan cermin. Dan bersiap- siap.





Unthiga akhirnya turun, tapi dia mengenakan pakaian pendek yang cukup ketat. Dan itu sangat tidak sopan. Sehingga Nopamat pun menegurnya. Tapi Unthiga tidak peduli dan duduk di tempat nya sambil menatap kedua paman Anik.
“Cepatlah berbicara. Aku punya janji malam ini. Aku akan keluar bersama teman ku,” kata Unthiga dengan sikap tidak sopan.
“Tidak apa. Khun Oun memang suka bercanda,” kata Anik, berusahan untuk menenangkan Paman nya supaya tidak khawatir. Dan mereka pun memakluminnya.
Dengan tidak senang, Arm dan Nopamat menatap ke arah Unthiga yang tidak sopan. Dan kepada Anik yang sudah begitu berbesar hati memaklumin Unthiga.

Paman Anik kemudian mulai membahas tentang masalah pernikahan. Tapi Unthiga malah tertawa. Dan Non pun mempertanyakan, kenapa Unthiga tertawa, dia ingin tahu.
“Ketika kalian bilang ‘kami sudah lama saling mengenal’,” jelas Unthiga sambil tertawa. “Hey mereka mungkin belum tahu bahwa kita jauh dari saling menyukai satu sama lain, benar kan?” tanya nya kepada Anik. “Oh. Tapi jangan khawatir. Lagian pernikahan akan tetap terjadi,” jelas Unthiga kepada kedua Paman Anik. Lalu dia kembali menatap ke arah Anik. “Kamu harus nya tahu kenapa kan,” katanya dengan nada sinis.

Unthiga kemudian meminta mas kawin kepada keluarga Anik. Dengan terkejut, Arm bertanya pelan, apa maksud Unthiga. Dan Unthiga berpura- pura kaget, dia bertanya apakah dia tidak akan mendapatkan mas kawin. Kepadahal seharusnya keluarga Anik memberikan mas kawin kepada mereka. Dan Non pun menjelaskan kepada Arm untuk jangan khawatir, karena ini memang adalah tradisi, jadi dia akan memberikan mas kawin kepada mereka.

“Kalau begitu, aku minta 50 juta. Bagaimana?” tanya Unthiga. Dan suasana pun langsung menjadi hening, karena  mereka tidak menyangka. “Oh, kalian semua terlihat pucat. Aku hanya bercanda, siapa yang akan meminta mas kawin sebanyak itu? Apalagi dari keluarga petani biasa,” sindir Unthiga dengan sikap tidak sopan kepada keluarga Anik.
Mendengar itu, Non merasa tidak senang. Arm serta Nopamat pun jadi merasa tidak enak kepada kedua paman Anik. Tapi tanpa memperdulikan itu, Unthiga pamit kepada mereka dan langsung pergi darisana.

“Aku minta maaf, ya,” pinta Arm kepada kedua paman Anik. “Candaan Oun sedikit keterlaluan hari ini,” jelas nya.
“Tapi kelihatannya, putrimu tidak sedang bercanda,” balas Non. “Atau orang kaya memang begini? Mungkin ada banyak hal yang belum aku tahu. Jadi aku akan bertanya kepada Anik nanti,” jelas Non.
Mendengar itu, Anik merasa tidak enak kepada paman nya, karena telah mempermalukan dan mengecewakan mereka berdua. Arm juga merasa demikian, jadi dia memberitahu kalau masalah mas kawin, dia tidak terlalu memikirkannya, jadi dia akan ikut terserah bagaiman keluarga Anik. Dan Non pun mengiyakan.
Lalu kedua paman Anik pamit kepada Arm serta Nopamat, karena mereka sudah akan mau pulang. Dan Anik meminta mereka untuk duluan saja.
“Cepat dan pulanglah nanti. Karena aku punya masalah yang harus dibicarakan denganmu,” jelas Non dengan tegas. Lalu dia pun pergi duluan.
Ketika Anik melihat kalau Unthiga sedang minum sendirian diruang tamu, dia pun menghampiri nya. “Bukankah kamu bilang mau pergi bersama dengan teman mu?”
“Aku berubah pikiran. Hari ini aku sudah cukup berlakorn nya.”
“Mempermalukan paman ku dan aku, apakah itu menyenangkan bagimu?”
“Sangat menyenangkan. Tapi jika kamu masih pantang mundur tentang pernikahan ini, maka bersiaplah untuk merasakan lakorn yang baru,” ancam Unthiga.
Sayangnya, Anik tidak pantang mundur. Baginya masalah sekecil ini tidak bisa membuat nya mundur. Bahkan walaupun Unthiga banyak menghina dirinya. Karena nanti nya, dia akan membuat hidup Unthiga serasa dineraka. Dan ini belum mencapai gerbang neraka.

Anik kemudian bertanya, apakah Unthiga bebas siang ini, karena dia akan membawa Unthiga untuk menemui WO (Wedding Organizer). Dan Unthiga menolak untuk pergi, karena dia tidak ingin menikah dengan Anik. Bahkan dia bisa datang telanjang ke acara pernikahan, karena baginya, tidak ada yang lebih buruk daripada menikah dengan Anik.
Mendengar itu, Anik hanya diam saja dan tersenyum. Lalu Unthiga pun pergi.


Kong* membantu Urawee dan Ampu dalam hal mengatur pernikahan. Dan kemudian Unthiga datang, dengan ramah dia menyapa Kong, lalu bertanya kenapa Kong datang ke kantor. Dan Pam langsung menjawab untuk Unthiga.
“P’Kong akan mendesign kan gaun pernikahan untuk Wee,” jelas Pam. Dan Unthiga merasa tidak senang mendengar itu,.
“Wee bilang kamu juga akan segera menikah. Selamat ya,” kata Kong, tulus. Dan Unthiga pun berterima kasih. Lalu dia menjelaskan bahwa sebenarnya dia juga ingin Kong mendesign kan gaun pengantinnya, tapi karena Kong sedang sibuk, maka dia pun tidak jadi. Dan Kong membalas bahwa lain kali dia akan mendesign kan pakaian untuk Unthiga.
“Apakah itu berarti aku perlu menikah untuk kedua kalinya nanti?” tanya Unthiga sambil menatap ke arah Ampu. Dan menyadari itu, dengan canggung Kong menjawab bahwa itu terserah kepada Unthiga, lalu dia meminta maaf.

Unthiga kemudian dengan sengaja menyindiri Urawee. Dia mengatakan bahwa untuk gaun pernikahannya, dia akan menggunakan brand dari luar negri. Karena dia punya banyak pilihan, tidak seperti Urawee yang terbatas pilihan nya. Mendengar itu, Kong merasa tidak senang. Dan Unthiga lanngsung tertawa.
“Aku tidak bermaksud meengatai mu,” jelas Unthiga kepada Kong. “Aku membicarakan tentang Urawee yang tidak memiliki pilihan,” jelas nya. Lalu dia pun berjalan pergi.
Dengan pengertian, Ampu langsung memeluk bahu Urawee untuk menenangkan nya supaya tidak mudah tersulut emosi. Sementara Kong, dia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri supaya bersabar pada orang seperti Unthiga.

“Wee, apa kamu sudah punya WO untuk pernikahan mu? Apa kamu ingin rekomendasi?” tanya Kong, perhatian. Dan Unthiga mendengar itu, lalu dia pun berhenti.
“Tidak apa. Kamu tidak perlu mempekerjakan siapapun. Aku hanya ingin pernikahan yang sederhana saja,” jawab Urawee. Dan mendengar itu, Unthiga tampak tidak senang.


Unthiga masuk ke dalam ruangan dengan kesal. Lalu Sunisa datang menemuinya. Sunisa memberikan daftar list tamu undangan Arm yang akan diundang ke pernikahan Unthiga. Tapi ketika memberikan, Sunisa malah salah memberikan kertas kepada Unthiga. Yang diberikannya adalah list acara dan tamu undangan milik Urawee Dan menyadari itu, Sunisa pun segera mengeluarkan kertas list yang benarnya.
“Kamu membantu pernikahan Wee juga?” tanya Unthiga, tidak senang. Dia melihat kertas baru yang berisikan list tamu undangan.
“Khun Wee tidak mempekerjakan WO untuk acara nya, jadi aku hanya menawarkan sedikit bantuan saja,” jelas Sunisa.
“Dia akan menikah, tapi tidak menggunakan Wo. Dia bersikap seperti dia tidak ingin menikah,” komentar Unthiga. Dan Sunisa dengan cepat pamit kepadanya, lalu dia pun pergi.

Ketika Sunisa telah keluar dari ruangannya, Unthiga baru melihat kalau Sunisa meninggalkan sesuatu di meja nya. Jadi dia pun memanggil Sunisa, tapi Sunisa sudah ke buru pergi. Lalu karena penasaran apa itu, Unthiga pun membaca dokumen yang tertinggal di atas meja nya tersebut. Dan itulah adalah list acara milik Urawee. Setelah membaca dokumen itu, dia tersenyum memikirkan sebuah ide.
Anik merasa heran, ketika Unthiga mengirimkan pesan kepadanya. Unthiga mengatakan bahwa dia yang akan mengurus WO untuk pernikahan mereka. Dan membaca pesan itu, Anik memang merasa heran, tapi dia malas untuk banyak berpikir. Jadi dia pun membiarkan nya saja, dan tidak membalas pesannya.
Ampu membawa Urawee melihat- lihat rumahnya. Dan Urawee merasa cukup senang melihat rumah Ampu yang tampak nyaman.
“Sekarang ini rumahku, tapi segera, ini akan menjadi rumah pengantin kita,” jelas Ampu. Dan Urawee tersenyum senang mendengar itu. “Sebenarnya, aku membawamu kesini hari ini adalah karena mana tahu ada yang ingin kamu ubah.”
“Aku orang yang sederhana. Aku tidak pemilih.”

“Tidak. Segera ini akan menjadi rumah mu juga. Aku ingin kamu menjadi bagian didalam nya,” jelas Ampu, tegas.
Mendengar itu, Urawee tertawa pelan. Sebab Ampu tampak sangat serius dengan pernikahan ini. Dan Ampu menjawab bahwa tentu saja dia serius, lalu dia bertanya, apakah Urawee tidak serius dengan pernikahan mereka ini. Dan Urawee langsung menjawab bahwa dia serius, tapi dia hanya belum terbiasa dengan yang namanya pernikahan. Dan Ampu mengerti.

“Kamu ingin minum apa? Bagaimana dengan kopi? Aku akan membuat nya untukmu.”
“Apa kamu punya orange juice? Aku mau orange juice,” jawab Urawee.
“Eh, barusan ada yang bilang, kalau dia tidak pemilih?” canda Ampu. Lalu dia pun menyuruh Urawee untuk menunggu sebentar. Dan Urawee tersenyum mengiyakan.

Ampu kemudian menyiapkan orange juice untuk Urawee. Dan di belakangnya, Urawee menatap nya dengan pandangan seolah dia merasa bersalah kepada Ampu.
Unthiga membahas tentang acara pernikahan nya dengan seorang Wo terbaik. Anik kemudian datang, dan mendengar semua pembicaraan Wo tentang acara pernikahan yang akan diadakan. Anik berkomentar bahwa itu semua tampak terlalu mewah.
“P’Note. Ini Khun Anik. Calon suamiku,” kata Unthiga memperkenalkan Anik.
“Sangat tampan,” puji Note. “Sangat cocok sebagai calon suami dari Ratu salju.”
“Ratu salju?” tanya Anik.
“Ya. Ratu salju. P’Note menggunakan legenda Ratu salju sebagai tema pernikahan kita.”
“Benar. Dan aku bisa menjamin hasil koleksi ku. Aku bisa mencarikan mu sebuah gaun pernikahan senilai 10 jutaan dolar,” jelas Note dengan riang.

Mendengar harga yang disebutkan oleh Note itu, Anik langsung menarik tangan Unthiga untuk berbicara. Dia mengeluhkan cara Unthiga mengatur acara pernikahan, karena Wo yang Unthiga pekerjakan tampak sangat mudah menghabiskan uang.
“Harga ini bukan apa-apa untuk seseorang dengan status seperti ku. Beda dengan mu yang tidak punya banyak uang,” jelas Unthiga, menghina Anik.

“Kamu menghina ku.”
“Yah. Dan aku tidak merasa bersalah sama sekali. Kamu sendiri yang bilang, kamu akan membawa ku ke neraka. Dan harga tour ke neraka, itu tidak murah. Jika kamu tidak bisa menanggung nya, maka mundur lah,” balas Unthiga, kasar.
Anik merasa tidak senang. Tapi Unthiga tidak peduli. Menurutnya, dia tidak sekejam itu, karena dia bahkan telah merendahkan dirinya sendiri kepada Anik di hotel itu. Kualitas hotel seperti itu, biasanya dia gunakan sebagai perberhentian nya saat ingin menggunakan toilet saja.

Mendengar itu, Anik cuma bisa diam saja. Dan tanpa memperdulikan hal itu, Unthiga kembali kepada Note dan melanjutkan pembicaraan nya dengan Note.
Tepat disaat itu, Arm pulang. Dan melihat Anik disana, dia pun memanggil Anik.

Ampu dan Urawee membagikan undangan mereka kepada para kenalan. Dan seorang kenalan mereka, ketika dia menerima undangan itu, dia merasa heran, karena waktu, hari, tanggal, dan tempat pernikahan Ampu serta Urawee, itu sama persis dengan undangan yang sebelumnya dia terima dari orang lain. Dan dia pun mengecek undangan tersebut.
Saat si kenalan mengeluarkan undangan yang lain itu, Ampu merasa terkejut melihat sampul pada undangan itu, jadi dia pun meminta izin untuk melihatnya. Lalu setelah melihat undangan itu, dia memberikan nya kepada Urawee untuk dilihat juga. Dan dengan heran, Urawee pun melihat nya, dan dia tampak merasa kesal setelah melihat nya.

Dikantor. Para karyawan sibuk membahas tentang pernikahan Urawee dan Unthiga yang di adakan secara bersamaan dan di tempat yang sama juga. Mereka menebak kalau para tamu pasti nantik bakal kebingungan harus hadir di acara pernikahan yang mana. Dan pastinya tidak ada cukup uang untuk diberikan kepada keduanya.
“Tidak sulit untuk memilih. Pilih saja pernikahan paling megah. Dengan hadiah yang mewah. Itu lah yang harus di hadiri,” komentar Suam. Mendengar itu, mereka setuju.

“Kemudian itu tidak akan sulit untuk memutuskan. Karena hadiah di pernikahan ku adalah dari Marc Jacobs,” kata Unthiga, ikut masuk ke dalam obrolan mereka semua. Dan mendengar itu, mereka semua langsung menjawab kalau mereka pasti akan menghadiri pernikahan Unthiga.
Lalu ketika mereka melihat majalah terkenal ICONIC yang sedang dipegang oleh Unthiga, mereka semua pun langsung merasa tertarik. Dan Unthiga dengan bangga menunjuk kan foto nya bersama Anik yang berhasil masuk ke dalam majalah tersebut.


Saat Unthiga menyadari kalau Fai sedang membantu Urawee dan Ampu untuk mengeditkan foto pernikahan . Dia langsung menyindir Ampu dengan suara keras. Sehingga Ampu yang berada di dalam ruangan bisa mendengar.
“Yah ampun. Untuk mengambil foto pernikahan, mereka seharusnya memperkerjakan seorang profesional. Lihat ini. Cahaya nya tidak terlalu bagus. Apa mereka benar- benar ingin menikah?” sindir Unthiga dengan sengaja. Dan mendengar itu, Ampu tidak mau peduli.

Tepat disaat itu Urawee datang. Dan ketika dia melihat foto Anik serta Unthiga yang berada di sampul majalah, dia pun langsung meminjam nya dan melihat nya. “Bahkan jika kamu memperkerjakan seorang fotografer profesional dan penata rias terbaik di kota. Tapi jika tidak ada perasaan dan emosi. Maka wajah mu hanya akan terlihat seperti mayat saja,” kata Urawee, balas menyindir Unthiga.



“Kamu mengatakan ini karena kamu memang benar berpikir seperti itu atau itu hanya  karena kamu merasa iri?” balas Unthiga. Dan sambil tersenyum, Urawee mengabaikan nya dan berjalan pergi begitu saja.
Dengan tidak senang, Unthiga pun langsung mengikuti nya. Melihat itu, Ampu merasa cemas akan terjadi bertengkaran antara mereka berdua seperti biasanya.

Unthiga duduk di dalam ruangan Urawee. Dan dia kembali menyindir Urawee, kali ini tentang tamu undangan yang sama- sama mereka undang ke acara pernikahan.
“Aku dengar kamu mengundang Khun Charerm, ketua perusahaan iklan sebagai ketua di acara pernikahan mu? Tapi aku minta maaf ya, aku sudah mengundang nya duluan. Saudara memang memiliki pemikiran yang sama,” jelas Unthiga, tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Benar. Kita berpikiran sama untuk segalanya. Hari, waktu, dan lokasi. Segalanya sama. Sebenarnya, mengapa kamu melakukan ini? Apa kamu sakit?” balas Urawee.

“Tidak. Aku hanya ingin mengingatkan mu, kalau kamu tidak akan pernah bisa menjadi di atas ku. Bahkan pernikahanmu akan terkubur oleh pernikahan ku. Tidak akan ada seorang pun yang memperhatikanmu,” jelas Unthiga penuh kebencian.
Tapi mendengar itu, Urawee sama sekali tidak merasa kesal, malahan dia merasa lucu, jadi dia pun tertawa. “Jika kamu ingin membuktikan nya dengan pernikahan ini. Maka aku pikir, kamu lah yang telah kalah. Kamu memperkerjakan WO nomor 1 untuk mengatur pernikahanmu. Dan mengenakan gaun mahal. Tapi itu tidak berharga di mataku. Kamu tahu mengapa?” tanya Urawee. “Karena aku mendapatkan Khun Ampu. Dia lebih berharga,” tegas Urawee sambil tersenyum.

Mendengar itu, Unthiga merasa marah dan langsung berdiri. Dengan senang, Urawee tertawa dan menyuruh Unthiga untuk melanjutkan saja pesta pernikahan yang Unthiga banggakan itu. Karena itu tidak bisa dibandingkan dengan apa yang telah di dapatnya.

Dengan kesal, tanpa bisa membalas apapun, Unthiga pun berbalik untuk pergi saja. Tapi Urawee langsung berbicara lagi. “Dan seragam pesawat itu. Aku sudah mengirimkan nya  sesaat yang lalu. Apa kamu sudah selesai? Fokus lah pada pekerjaan mu juga Oun. Jangan hanya beromong kosong dan tergila- gila pada pria saja setiap hari nya.”
Dengan sangat kesal, karena memang tidak tahu harus menjawab apa. Maka Unthiga pun berjalan pergi darisana. Dan Urawee tersenyum puas melihat itu.

No comments:

Post a Comment