Sunday, March 15, 2020

Sinopsis J- Drama : Doctor X Season 1 Episode 1 - 1

0 comments

Original Network :  TV Asahi

Di tepi laut. Seorang wanita berdiri di depan sebuah klinik tua yang tampak sudah hancur. Dia berdiri disana dengan ekspresi wajah cemberut.


Di klub. Dr Hikaru Morimoto (Asisten Bedah). Dia menemani kedua temannya melakukan kencan buta dengan tiga orang gadis cantik. Tapi dia sama sekali tidak tertarik dengan kencan buta tersebut. Dia fokus memakan makanan nya. Lalu dia pamit kepada mereka semua karena dia harus bekerja jam 5 besok pagi.
Tiba- tiba dilantai 1 klub. Seorang pria ambruk ke lantai ntah karena apa, dan seorang wanita menjerit terkejut. Mendengar itu, Morimoto melihat dari atas.


Di rumah sakit medis Universitas Teito. Kaneko Terayama (Manajer Rumah Sakit). Dia mencoba untuk membujuk tiga orang dokter bedah yang berhenti mendadak secara sekaligus pada hari yang sama. Namun tiga dokter bedah tersebut menolak.

Di restoran. Makan malam Profesor Universitas Kedokteran Teito. Para profesor makan steak bersama sambil membahas tentang keputusan kementerian yang tidak bijaksana. Kemudian mereka membahas tentang siapa yang akan menjadi kepala rumah sakit berikut nya. 90% mereka menebak Prof Busujima yang akan menjadi direktur berikut nya.


Dr Close Busujima (Profesor Medis). “Kita tidak tahu sebelum pemilihan usai. Jadi, tolong bantu saya mengumpulkan suara,” pintanya.
Dr Kubo (Kepala Rumah Sakit). “Dr Torii cocok sekali menggantikan saja,” katanya. Dan Dr Busujima langsung menatap ke arah Dr Torii.
Dr Torii (Kepala Bedah). “Tidak. Saya tidak layak,” katanya dengan cepat. Kemudian dia menawarkan diri untuk menuangkan minuman.

Tiba-tiba Dr Torii mendapatkan telpon masuk yang mengejutkan. Yaitu telpon masuk dari Terayama yang mengabarkan tentang tiga orang dokter ahli bedah yang mengundurkan diri sekaligus.

Di klub. Morimoto ingin membantu pria yang ambruk. Tapi kedua temannya langsung menahannya dan mengingatkannya untuk jangan ikut campur atau jika tidak maka Morimoto yang akan dituntut untuk tanggung jawab. Tapi Morimoto tidak peduli.


Morimoto mendekati pria yang ambruk tersebut dan memeriksa nya. Seorang wanita cantik melihat itu dan berjalan mendekat. “Hei, kamu. Itu dapat membunuh nya. Berdirikan dia,” perintah nya. Dan Morimoto dibantu seorang pria lain langsung membantu pria tersebut untuk berdiri. Kemudian wanita cantik itu membuka celana pria tersebut di hadapan banyak orang. Dan memegang sesuatu di bagian paling bawah nya.


“Apa yang Anda lakukan?” tanya Morimoto terkejut. Tapi wanita cantik itu diam, dan memeriksa pria tersebut dengan serius.
“Pembengkakan parah dan tekanan di daerah pangkal pahan kanan. Itu tidak bisa didorong kembali ke tempat nya,” jelas wanita cantik itu. Dan Morimoto bingung siapa dia. “Dinding perut ambruk. Penyumbatan saluran pencernaan yang menyebabkan herniasi femoralis. Dia perlu segera di operasi,” jelas wanita cantik itu tampak memperdulikan kebingungan Morimoto.


Wanita cantik itu kemudian mendorong Morimoto untuk masuk ke dalam ambulans bersama pasien yang sudah di bawa masuk terlebih dahulu. Sebab Morimoto adalah dokter. Lalu setelah itu wanita cantik tersebut berbalik dan berjalan pergi.
“Kamu siapa?” teriak Morimoto.
“Cuma penari dansa,” jawab wanita cantik tersebut sambil melambaikan tangan.


Pada tahun 2012. Sistem universitas kedokteran yang begitu sakral sedang mengalami krisis. Rumah sakit pendidikan berjuang mempertahan kan staff. Sistem lama senioritas telah runtuh. Sistem dimana kehidupan bergantung telah di kembalikan ke hukum rimba. Dulu, bedah bidang yang banyak di minati. Sekarang, sedikit dokter yang bercita- cita menjadi ahli bedah. Karena anggaran RSU remuk, banyak dokter keluar.


Rumah sakit sangat kewalahan sebab tiga dokter ahli bedah yang berhenti mendadak dengan alasan masing- masing, seperti di tawari gaji yang lebih tinggi dari rumah  sakit lain dan mengolah rumah sakit sendiri yang lebih menguntung kan.
Dr Kaji (Instruktur Bedah) dan Dr Hara (Asisten Bedah) serta Morimoto. Mereka bertiga bersiap untuk melakukan operasi.
 “Cepat ambil alih klinik ayah mu,” kata Kaji menyarankan Morimoto.
“Tidak. Sekarang mereka sudah berhenti, aku akhirnya mendapatkan kesempatan,” balas Morimoto, menolak. Sambil masih sibuk mencuci tangan nya.
“Jadilah tukang pel yang baik,” komentar Dr Jonouchi (Anestesi. Asisten ketiga ahli bedah) sambil berjalan lewat. Dan Hara tertawa.


Terayama dengan bersemangat memberitahu Torii serta Kubo bahwa mereka telah menemukan seorang dokter baru yang akan bekerja tiga kali lipat lebih giat.
Satu generasi baru dokter telah muncul untuk mengisi kekosongan dalam sistem kedokteran Jepang.



Para staff medis berlari menaiki tangga dan berkumpul di depan lift untuk menyambut kedatangan Kubo yang akan melakukan inspeksi keliling. Torii berdiri di belakang Kubo dan keluar bersama- sama dengan nya dari dalam lift.
Dokter berpraktek sendiri atau mereka bekerja di rumah sakit. Sebelumnya, dokter di kendalikan oleh almameter medis mereka. Baru- baru ini, beberapa telah mulai menolak pembatasan itu. Orang yang suka bekerja sendirian, freelance yang di kontrak bermunculan.
Wanita ini misalnya. Dia benci birokrasi, otoritas dan pembatasan. Satu-satunya senjata dia adalah linsensinya dan keterampilan yang dia peroleh.

Wanita cantik di klub. Dia mengenakan pakaian hitam yang minim. Dia datang ke rumah sakit dan berjalan dengan sikap percaya diri. Saat dia bertemu para profesor dan staff rumah sakit di dekat lorong rumah sakit. Dia berjalan melewati mereka semua begitu saja. Dan dengan bingung mereka semua menyingkir dan memberikan jalan bagi nya.
Dr Michiko Daimon (Ahli Bedah). Kadang kala dia di kenal sebagai Dokter X.


Ayi Okumura (Asisten Torii). Dia menatap Daimon dengan curiga. Dia banyak bertanya kepada Daimon, karena dia mengira Daimon ada hubungan dengan Torii. Sebab tas merah yang Daimon bawa sama dengan tas merah miliknya.

Saat Torii keluar dari ruangan, Okumura langsung bertanya kepada nya siapa Daimon. Dan Torii tidak tahu, namun karena melihat pakaian yang di kenakan oleh Daimon, dia mengira kalau Daimon adalah hostess di klub.
“Saya Michiko Daimon,” kata Daimon, memperkenalkan diri.
“Dokter bedah baru?” tanya Torii terkejut. Dia memperhatikan Daimon dari bawah ke atas. Dan dengan tidak nyaman, Daimon mengalihkan wajah darinya.
Hara datang dan memberitahu Torii tentang pertemuan. Torii pun mengiyakan serta dia mengajak Daimon untuk ikut bersama dengannya dengan memakai jas lab.


Diruang pertemuan. Para dokter memandangin Daimon dengan rasa penasaran. Morimoto merasa pernah melihat Daimon di suatu tempat. Tapi sayangnya dia tidak bisa ingat dimana. Lalu setelah berpikir lama, dia akhirnya mengingat dimana dia bertemu dengan Daimon.
“Dia penari dansa,” kata Daimon dengan berbisik kepada Kaji dan Hara. Tapi mereka berdua tidak percaya karena menurut mereka itu tidak mungkin.


Pertemuan di mulai. Para dokter membahas tentang kondisi seorang pasien dan mengumumkan dokter yang akan membedah si pasien. Dokter yang akan membedah si pasien adalah Dr Kubo. Dan Dr Kubo menunjuk Morimoto untuk membantunya. Dengan bersemangat Morimoto mengiyakan.
“Siapapun yang tidak sibuk boleh mengamati,” kata Kubo. Dan Torii serta yang lainnya langsung mengiyakan dengan bersemangat.


“Saya keberatan,” kata Daimon sambil mengangkat tangannya.
Daimon berjalan ke depan dan melihat hasil pemeriksaan pasien dengan lebih dekat. Kemudian dengan percaya diri, dia memberikan saran tentang metode operasi yang menurutnya jauh lebih tepat daripada metode operasi yang Kubo katakan.

“Keluar!” bentak Torii.
“Sekarang! Tinggalkan ruangan ini,” kata Terayama sambil menarik Daimon untuk segera keluar dari dalam ruangan. Dan Daimon tidak memberontak.

Saat melakukan operasi. Kaji mengeluhkan manajemen rumah sakit mereka kepada para rekannya. Karena manajemen rumah sakit mereka telah lalai dengan memperkerjakan seorang ahli bedah freelance seperti Daimon.
Para dokter menggosipi tentang manajemen rumah sakit mereka yang telah lalai dengan memperkerja kan seorang dokter ahli bedah freelance seperti Daimon.

Terayama merasa sangat stress karena Daimon. Dia menghubungin agensi dokter freelance dan memberitahukan keluhannya kepada Dr Kanbara.

Dirumah Agensi Kanbara Locums.
“Dia kasar kepada Kepala Rumah Sakit Anda? … Dia banyak omong, tapi dia ahli bedah yang sangat baik … Saya yakin dia akan berhasil … Bulan pertama uji coba dan diskon besar- besaran … Anda bebas meminta ganti dokter, tapi berikan kesempatan padanya … Ya, terima kasih. Selamat tinggal,” jelas Kanbara. Lalu dia mematikan telpon.
“Menjengkelkan sekali, orang- orang itu,” keluh Kanbara kemudian. Lalu dia mengambilkan makanan untuk kucing tersayang nya.

Pasien merasa terhomat dan senang karena Dr Kubo yang akan langsung mengoperasi nya. Morimoto memberikan surat persetujuan kepada pasien dan meminta pasien untuk menanda tangani nya. Dan pasien pun menanda tangani nya langsung. (Pasien - Jiro Ichinose).
“Saya khawatir, ini adalah persembahan yang buruk,” kata Istri Ichinose. Dia memberikan sesuatu kepada Kubo. Dan Kubo menolak nya dengan sopan. “Mungkin ini tidak sesuai dengan selera Anda. Saya bersikeras, Pak,” kata Istri Ichinose memaksa.
“Anda tidak seharusnya bersikeras,” balas Kubo sambil mengambil hadiah tersebut.

Di dalam ruangan kantor. Kubo memeriksa hadiah yang diberikan padanya. Dia berharap ada uang didalam kotak hadiah tersebut. Namun ternyata isi kotak itu hanyalah kue saja. Dan dia tampak sangat kecewa. “Morimoto, berikan ini kepada staff kantin,” kata nya dengan lemas.
“Baik,” jawab Morimoto.
Morimoto mengantarkan surat izin untuk operasi Ichinose besok ke ruangan Torii. Dan Torii mengiyakan sambil makan. Lalu Okumura datang ke ruangan Torii juga.




Okumura membawakan resume dan surat pengantar Daimon kepada Torii. Dan membacakan untuk nya. “Lulus Universitas Kedokteran Meiei pada tahun 2001. Magang, di Rumah Sakit Universitas Totei Unit Bedah. Pada tahun 2002 dia pergi belajar di Kuba. Spesialisasi di daerah terpencil dan bedah medan perang. Sekembalinya ke Jepang, terdaftar sebagai dokter bedah freelance. Bidang keahlian : Bedah. Hobi : Bedah.”
“Apa kamu serius?” tanya Torii terkejut. Dan tepat disaat itu, Daimon datang.


Torii segera memberitahu Daimon, tujuannya memanggil Daimon ke ruangan. Dia menugaskan Daimon untuk membantu Morimoto dalam mengurus dokumen klinis dan persiapan pra operasi.
“Tidak satupun dari itu yang memerlukan lisensi medis,” protes Daimon. “Jadi mengapa?”
“Sudah cukup itu saja,” jawab Torii. Tidak ingin dibantah. Dan Daimon pun mengerti. Morimoto segera mengikuti Daimon keluar dari ruangan.

Didalam ruangan. Para dokter memperhatikan Daimon yang sedang bekerja menginput data pasien ke komputer. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang mau mengajak nya untuk berbicara. Morimoto memberanikan dirinya dan berbicara dengan Daimon, dia bertanya untuk memastikan apakah Daimon benar wanita dari klub hari itu. Dia ingin tahu kenapa Daimon menari di klub. Dan Daimon hanya diam saja, tidak menanggapi.


Kaji dan Hara datang. Mereka mendengarkan pembicaraan Morimoto.
“Apa kamu tidak akan menjawab?” tanya Morimoto dengan canggung.
“Oke. Dengarkan dengan baik. Aku tidak membutuhkan lisensi medis untuk bertukar gosip dengan kamu,” jawab Daimon. “Jangan bicara padaku,” tegasnya.


Morimoto serta para dokter yang lainnya terkejut mendengar perkataan ketus Daimon.
Daimon tidak peduli. Dia fokus membaca rincian data Ichinose dengan serius. (Ichinose pekerja karet). Melihat itu, Hara pun mencoba untuk mengajak nya berbicara.
“Dia dijadwalkan di operasi besok. Dia seorang pemilik pabrik kecil. Tidak ada orang yang dapat menggantikannya. Itu sebab nya dia memilih Prof Kubo,” jelas Hara dengan ramah. Dan Daimon menanggapi dengan ketus.

Saat jarum jam menunjukkan waktu tepat jam 5. Daimon pun mematikan komputer nya dan bersiap untuk pulang. Melihat sikap nya, para dokter terkejut. Kaji protes, tapi Daimon tidak peduli.

Ketika keluar dari rumah sakit, Daimon melihat Ichinose sedang merokok. Ichinose menjelaskan bahwa dia hanya akan merokok sebatang saja, sebab jika besok dia tidak bisa bertahan hidup, maka ini akan menjadi rokok terakhirnya.
“Sudah berapa lama Anda bekerja karet?” tanya Daimon, mendekatinya.
“40 tahun. Semua saya lakukan sendiri. Mengapa kamu bertanya?” balas Ichinose.


“Anda dapat membatalkan operasi besok?” tanya Daimon. Dan Ichinose tidak mengerti. “Anda diperboleh kan untuk menunda nya,” jelas nya.
Ichinose tidak paham dengan maksud Daimon. Dia mempertanyakan apakah Daimon adalah seorang dokter. Lalu dia menjelaskan tentang batu empedu nya. Dia tidak ingin menunda operasi nya besok sebab jika dia tidak di operasi, maka dia bisa kehilangan bisnis nya. Setelah mengatakan itu, Ichinose pun masuk kembali ke dalam rumah sakit. Dan Daimon hanya diam saja.

No comments:

Post a Comment