Sinopsis K- Drama : Train Episode 6 part 3


Original Network : OCN

Di klinik. Seorang remaja pria menjalani proses terapi hinoptis. Dia menceritakan kisah nya kepada Dokter psikolog nya (Ini adalah Dokter psikolog Seo Kyung juga).


“Seluruh lantai berlumuran darah. Ibuku tidak sadarkan diri. Aku mendengar pintu depan terbuka. Aku pergi ke ruang tamu, dan aku melihat pelakunya melarikan diri.”
“Kamu melihat wajahnya?” tanya si Dokter.
“Sepatunya…” jawab si remaja. “Aku hanya melihat sepatunya.”
“Sepatu apa itu?” tanya si Dokter.

“Yang aku beli untuk ayahku pada hari ulang tahunnya.”


Setelah sesi hinoptis selesai, si remaja menceritakan bahwa dia sangat ingin membunuh Ayah nya. Dan si Dokter menjawab bahwa si remaja bisa membunuh, lalu dia memberikan sebuah buku kepadanya, itu adalah buku yang sering di bacanya sejak kecil. Judul buku itu "'My Sweet Orange Tree' oleh Jose Mauro de Vasconcelos".


"Ya, aku akan membunuhnya. Aku sudah memulainya. Membunuhnya tidak berarti mengambil pistol Buck Jones dan dor! Bukan begitu. Kamu bisa membunuh seseorang di hatimu. Berhentilah mencintai mereka. Suatu hari mereka mati.”

Setelah si remaja membaca satu paragraf penting di buku tersebut. Si Dokter menasehatinya, “Selama kamu terus membenci seseorang, orang itu tidak akan pernah menghilang dari hatimu. Tapi dengan melakukan itu, kamu hanya menyiksa dirimu. Jadi, berhentilah melampiaskan kebencianmu. Itu cara terbaik untuk membunuh seseorang. Mengerti?”


Si Dokter membahas kasus si remaja kepada seniornya. Si remaja tampaknya harus di rawat dalam waktu yang lama, dan karena Seo Kyung meminta bantuannya, jadi dia akan berusaha untuk merawat si remaja dengan baik.

Lalu tepat disaat si Dokter dan si Senior sedang mengobrol. Berita tentang Jin Woo yang kabur dari sel tahanan muncul di berita TV. Dan dengan serius, si Dokter menonton berita tersebut.


Didalam mobil. Seorang pria dengan bekas luka di bawah matanya, dia membaca berita tentang Jin Woo yang ada di internet.

Tim Do Won A membahas tentang kasus Jin Woo. Petugas yang diserang oleh Jin Woo telah sadarkan diri di rumah sakit, dan gunting kuku yang hilang di temukan di dalam sel tahanan. Untuk pendeteksi logam yang berbunyi, itu di karenakan Jin Woo ada menelan sebuah koin sebelumnya. Namun koin itu tidak akan membahayakan tubuh Jin Woo.

“Jika dia tidak membunuh Jung Kyung Hye, kenapa dia berusaha keras untuk kabur seperti ini?” tanya Seo Kyung, heran.

“Meski begitu, dia melakukan pembakaran. Kamu tahu mantan narapidana sangat benci kembali ke penjara. Mungkin itu alasannya,” jawab Joon Young, menjelaskan.


“Lalu kenapa dia melakukan pembakaran? Kenapa dia membeli mesin pemotong daging?” tanya Detektif Woo.

“Bagaimana jika ini sebenarnya kasus lain? Bagaimana jika dia membakar paviliun itu dan membutuhkan mesin pemotong daging untuk alasan yang sangat berbeda?” kata Do Won A, berpikir.

Do Won A kemudian teringat tentang perkataan Jin Woo yang demi Nenek nya, dia akan melakukan apapun. Dia akan membalas setiap orang yang menyakiti Nenek nya. Dan mengingat itu, dia menyuruh Detektif Woo, Joon Young, dan Seo Kyung, untuk mencari tahu bagaimana Nenek Jin Woo meninggal.

Joon Young dan Detektif Woo pergi ke pasar untuk mencari informasi.

Seo Kyung memeriksa paviliun yang terbakar untuk mencari tahu tujuan Jin Woo membeli penggiling daging. Dan disana, dia menemukan sebuah koran lama tanggal 3 september. Dan menemukan itu, dia pun langsung mencari beritanya di Internet.

"Harian Myungjin, Rabu, 3 September 2019". "Sulitkah membuktikan seseorang bersalah jika tidak ada jasad?". Itu lah isi artikel pada koran tersebut.


Do Won A : “Alasan dia melakukan pembakaran agar bisa menyembunyikan sesuatu.”

Seo Kyung : “Targetnya. Siapa yang ingin dibunuh Kim Jin Woo?”

Seo Kyung teringat akan kamera didalam mobil Jin Woo yang ada diperiksa oleh Joon Young. Dan teringat itu, dia pun langsung memeriksa isi kamera tersebut.



Do Won A pergi ke tempat Jin Woo bekerja, dan bertanya- tanya. Dan pemilik toko pun memberitahu, Jin Woo baru bekerja sekitar sebulan ditokonya, dan Jin Woo mulai bekerja ditokonya, saat ada seorang klien mereka yang meminta mereka untuk menyelesaikan sesuatu secepat mungkin.


Pemilik toko lalu menunjukkan kartu nama klien nya kepada Do Won A. Dan Do Won A menerima kartu nama tersebut, lalu dia menghubungi Detektif Woo.

Detektif Woo melaporkan informasi yang didapatnya. Beberapa tahun lalu, sebuah perusahaan konstruksi memaksa orang- orang dipasar untuk pindah. Dan orang- orang dipasar pun melakukan demo untuk menentang nya.


Pada saat demo berlangsung, Nenek Jin Woo terjatuh karena seorang pegawai konstruksi. Nenek Jin Woo lalu dibawa ke rumah sakit, tapi karena Jin Woo sedang di penjara, maka pengobatannya pun tertunda, dan pada akhirnya Nenek Jin Woo meninggal. Nama perusahaan konstruksi tersebut adalah "Manajemen, Gunhyung Development".


Didalam kamera Jin Woo, ada banyak foto rumah Ibu Tiri Seo Kyung.



Jin Woo datang ke rumah Ibu tiri Seo Kyung dan memotret keadaan disana. Lalu tepat disaat itu, sebuah mobil perkebunan datang. Melihat itu, dia pun mendapatkan sebuah ide. Dan sejak saat itu, dia mulai bekerja diperusahaan perkebunan tersebut supaya dia bisa dengan mudah masuk ke dalam rumah Ibu tiri Seo Kyung serta memeriksa keadaan CCTV disana.


Jin Woo mengambil data CCTV yang ada di rumah Ibu tiri Seo Kyung.


Ketika Seo Kyung datang ke paviliun, Jin Woo merasa panik. Jadi karena itu dia pun segera membakar semua yang ada di dalam paviliun nya.


Do Won A memerintahkan Detektif Woo dan Joon Young untuk menghubungi divisi patroli terdekat dan pergi ke alamat yang di kirimnya barusan.


Seo Kyung merasa ragu untuk mengbubungi Ibu tirinya, saat dia teringat tentang bagaimana Ibu tirnya sering menyiksa nya hingga membuat nya ingin bunuh diri. Tapi pada akhirnya, diapun tetap mencoba untuk menelpon.


Detektif Woo menelpon Do Won A dan melapor bahwa sedang ada kecelakaan mobil yang serius, jadi divisi patroli terdekat tidak bisa mengirimkan bantuan. Mendengar itu, Do Won A langsung menyetir mobil nya dengan buru- buru.

Jin Woo masuk ke dalam rumah Ibu tiri Seo Kyung sambil memegang pisau.


Do Won A sampai didepan rumah Ibu tiri Seo Kyung. Dan Detektif Woo serta Joon Young yang sudah berada disana duluan, mereka melapor bahwa mereka baru saja tiba dan pintu rumah terkunci, mereka mencoba menelpon pemilik rumah, tapi tidak ada jawaban.


Jin Woo masuk ke dalam kamar Ibu tiri Seo Kyung yang sedang tertidur. Dia berniat untuk menusuk si Ibu tiri dengan pisau, tapi dia merasa sedikit ragu dan tidak berani. Sehingga diapun berdiam diri di sana cukup lama.


Tepat disaat Jin Woo sudah siap dan ingin menusuk, Do Won A datang dan menghentikan nya. “Tidak, Jin Woo. Jangan lakukan itu,” pintanya.

“Lepaskan, dasar gila. Lepaskan. Kubilang lepaskan!” bentak Jin Woo.



Dengan sekuat tenaga, Do Won A mendorong Jin Woo ke dinding dan menahan nya. “Jin Woo. Tenanglah,” pintanya.
“Kamu kemari untuk mati?” geram Jin Woo sambil mendorong Do Won A dengan keras. “Baiklah. Aku akan membunuhmu lebih dahulu.”
“Tidak, Jin Woo. Jika kamu melakukan ini sekarang, tidak ada jalan kembali!” kata Do Won A, menasehati sambil memegang pisau Jin Woo.

“Hentikan omong kosongmu,” geram Jin Woo.


Tepat disaat itu, Detektif Woo datang. Dia menembak Jin Woo dan menyelamatkan Do Won A. Lalu Joon Young segera memborgol tangan Jin Woo dan menahan nya di lantai.

Seo Kyung kemudian datang. Dia menyalakan lampu kamar yang mati dan kemudian berjalan mendekati tempat tidur Ibu tiri nya. Dan mengejutkan nya, Ibu tirinya, Jo Young Ran, telah meninggal.



Melihat Jo Young Ran, Do Won A sangat terkejut, karena dia mengingat Jo Young Ran yang berada di Dunia A. (Jo Young Ran adalah Ibu tiri Seo Kyung, dan putra kandung Jo Young Ran adalah Sung Wook).



Di leher Young Ran ada sebuah kalung. Dan kalung itu adalah milik Ibu kandung Seo Kyung. Seo Kyung mengingat jelas kalung tersebut, karena dia pernah memakainya.



“Bagaimana kalung ibuku...” gumam Seo Kyung, sangat heran.
“Itu dia,” pikir Do Won A, teringat ancaman si pria hitam.

Post a Comment

Previous Post Next Post