Sinopsis K- Drama : Law School Episode 5/3

 

Original Network : jTBC Netfix

“Bagaimana aku membuktikan dia melakukannya demi kepentingan umum?” gumam Kang Sol A, berpikir keras.


Tepat disaat itu, Kang Sol B pulang. Dan dengan bersemangat, Kang Sol A menyambutnya. Tapi Kang Sol B hanya diam serta masuk ke dalam kamar mandi.


Wakil Dean Ju merasa sangat stress dan terus minum- minum untuk meluapkan perasaan stress nya.


Jong Hoon memperhatikan bungkus gula yang Joon Hwi temukan.


Flash back

Joon Hwi melihat Kang Sol B membuang sesuatu ke dalam tempat sampah. Dan sikap nya tampak agak mencurigakan. Jadi karena penasaran, Joon Hwi memeriksa ke dalam tempat sampah dan menemukan bungkus gula tersebut.


Joon Hwi kemudian pergi ke ruangan Byung Ju dan memeriksa tempat kejadian sambil mengingat kesaksian Jong Hoon pada hari reka adegan.

“Awalnya, kemasan gula itu ada di lantai,” gumam Joon Hwi sambil membayangkan. “Setelah dia pakai… kemasan itu tertinggal di atas meja.”





Lalu Joon Hwi melemparkan sebuah tissue, dan tissue tersebut jatuh tepat di dekat kaki meja. Seperti gula yang Jong Hoon temukan. “Kemasan gula itu. Siapa yang menjatuhkannya dan kenapa dijatuhkan?” gumam Joon Hwi, berpikir keras.

Flash back end


Bok Gi dan Ye Beom mengira Penjaga Dong sedang tidak ada ditempat. Jadi mereka berniat untuk menggunakan kesempatan itu untuk menfotocopy buku yang mereka bawa, setelah itu mereka akan meninggalkan bayaran, dan pergi. Tapi sebelum mereka sempat menfotocopy buku mereka, tiba- tiba mereka mendengar suara aneh. Dan ketika mereka menatap ke bawah, mereka bertemu dengan mata Penjaga Dong yang tersenyum aneh dan disinari dengan lampu biru. Dengan terkejut, mereka berdua langsung melompat ke belakang sambil menjerit.


“Hakim dan jaksa masa depan. Kalian masuk ke toko kosong dan menyalin hasil kerja orang sebagai bahan belajar?” tanya Penjaga Dong dengan serius. “Tidak akan kubiarkan itu terjadi. Pergi!” usirnya sambil menyemprot mereka dengan air.

Dengan panik, Bok Gi bersembunyi dibelakang Ye Beom. Dan Ye Beom berusaha untuk menjelaskan bahwa mereka melakukan ini, karena harga buku cetak mereka terlalu mahal, dan mereka memohon agar Penjaga Dong membantu mereka, mahasiswa miskin.


“Tak peduli semahal apa pun itu, kau melanggar Hak Cipta dari buku Undang-undang Hak Cipta. Haruskah kuabaikan kisah ironis ini?” tanya Penjaga Dong.

“Itu bukan buku cetak wajib, hanya tambahan. 50.000 won untuk buku itu adalah pemerasan,” kata Ye Beom, menjelaskan dengan sikap menyedihkan.

“Apakah aku pemerasnya?” balas Penjaga Dong. “Jika butuh sebagian, salin saja bagian itu,” katanya, menyarankan.

“Kami tak diberi tahu bagian yang diperlukan agar kami membelinya,” balas Bok Gi dengan sikap takut- takut.

“Itu tidak adil,” komentar Penjaga Dong. “Protes ke profesor kalian,” teriaknya, kemudian. Lalu dia kembali menyemprotkan air kepada mereka berdua.


Dengan panik, Bok Gi dan Ye Beom langsung berlari pergi. Tepat disaat itu, Eun Suk datang. Dan tanpa sengaja, Penjaga Dong menyemprot wajahnya.

“Kau mau mati?” tanya Eun Suk dengan sikap mengintimidasi. Dan dengan ngeri, Penjaga Dong langsung berjalan mundur.


Penjaga Dong menceritakan apa yang terjadi kepada Eun Suk. Menurutnya Prof. Jung yang menggantikan posisi Jong Hoon, dia terlalu memanfaatkan para murid. Prof. Jung bermain curang dengan menyuruh para murid untuk membeli buku Istrinya. Kepadahal Prof. Jung bisa saja menyalinkan untuk para murid.



Dalam kelasnya. Eun Suk membahas tentang Kompensasi Hak Cipta. Sebelum mulai, dia membagikan salinan dari buku Prof. Jung kepada para murid dan menyarankan para murid, kalau Prof. Jung hanya akan mengajar menggunakan sebagian isi buku saja, jadi karena itu mereka tidak perlu membelinya. Mendengar itu, setiap murid merasa senang, karena Eun Suk berpihak kepada mereka.

“Dia menyayangi muridnya. Profesor Kim! Aku mencintaimu,” teriak Bok Gi. Dan semua nya juga ikut berteriak. “Aku mencintaimu!”



Eun Suk kemudian mulai mengajar. Dia membahas topik tentang Plagiarisme tesis, yang diajukan oleh Ji Ho.

“Plagiarisme tesis. Itu topik yang seru,” kata Eun Suk dengan bersemangat. “Anggap saja, aku menjiplak tesis milik Kang Sol B, yang duduk di sini. Apa itu pelanggaran?” tanyanya.

“Jika dijiplak, seharusnya iya,” jawab Bok Gi.


“Plagiarisme tidak sama dengan pelanggaran. Pelanggaran hak cipta harus disertai dengan faktor subjektif dan objektif. Biasanya plagiarisme adalah isu etis, tapi itu bukan pelanggaran hak cipta yang melibatkan hukuman dan kompensasi,” kata Kang Sol B, menjawab juga.

“Ya, batas antara plagiarisme dan pelanggaran hak cipta sangatlah samar,” kata Eun Suk, membenarkan.

“Kau punya contoh pelanggaran hak cipta yang sempurna barusan. Mereka mendapatkan salinan ilegal buku cetak,” kata Kang Sol B, menyindir Eun Suk.

Mendengar itu, Eun Suk sulit menjaga senyum di wajahnya.


Jong Hoon menasehati Eun Suk untuk sabar, karena Kang Sol B memang seperti itu. Dan Eun Suk pun bersabar. Lalu dia membahas tentang kasus ‘Ortu Jahat’. Dan Jong Hoon menjelaskan bahwa dia sedang menulis surat tanggapannya, tapi yang nantinya akan mengurus kasus ini, bukanlah dia, tapi Kang Sol A.

“Dia akan kesulitan,” komentar Eun Suk, kasihan. “Hanya kau yang mampu.”


Kang Sol A mengaku pada Jong Hoon bahwa dia tidak mampu mengurus kasus ‘Ortu Jahat’, dan dia meminta maaf karena sudah mengecewakan Jong Hoon yang mempercayai nya.

“Aku belum memercayaimu, cobalah lagi,” kata Jong Hoon.


Mendengar itu, Kang Sol A langsung menggelengkan kepalanya dan menolak. “Aku tak tahu caranya membuktikan bahwa aksinya untuk publik, bukan dendam pribadi. Itu situs pribadinya. Dia pernah dituntut atas pencemaran nama baik oleh orang tua lain yang gagal membayar tunjangan anak dan datanya dibocorkan di situsnya, sampai dia didenda,” gumamnya, menjelaskan.

“Apa itu masalah?” tanya Jong Hoon.

“Itu artinya ada kemungkinan besar untuknya didenda lagi…” gumam Kang Sol A dengan pelan. Lalu tiba- tiba dia berhenti, karena mendapatkan pencerahan. “Klien ini telah dituntut oleh begitu banyak orang yang menolak membayar tunjangan anak, bukan hanya oleh suaminya! Artinya, tindakannya bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi agar suaminya bertanggung jawab. Dia juga bekerja sama dengan informan untuk mendatangi MOGEF demi mempublikasi kasus ini dan protes di hadapan Lembaga Dewan Nasional,” katanya dengan bersemangat.

Mendengar itu, Jong Hoon hanya diam dan tersenyum saja. Lalu tiba- tiba perut Kang Sol A berbunyi karena lapar. Dan Jong Hoon pun menyarankan nya untuk makan dulu.


“Apa kau sudah makan? Kalau kau traktir jjajangmyeon…” kata Kang Sol A.

“Aku tak pernah makan dengan muridku,” sela Jong Hoon sambil tersenyum geli.


Keluar dari ruangan Jong Hoon, Kang Sol A memukul kepalanya sendiri dengan buku, karena merasa malu. Lalu dia menghubungi Ye Seul untuk menanyai, dimana dia. Sebab selama beberapa hari ini, Ye Seul tidak ada kabar.


Kelas Wakil Dean Ju diliburkan. Dan semuanya merasa tidak menyangka.


Kang Sol B menghampiri Asisten Wakil Dean Ju,dan menanyai dengan cemas, kenapa kelas Wakil Dean Ju diliburkan. Dan si Asisten memberitahu bahwa Wakil Dean Ju tidak masuk, karena sakit.

“Kau sudah ambil laptopmu dari profesor?” tanya si Asisten, teringat.

“Ya, petugas keamanan memberikannya padaku,” jawab Kang Sol B, pelan.


Seung Jae tidak sengaja mendengarkan pembicaraan antara mereka berdua. Lalu ketika si Asisten berjalan melewatinya, dia memanggil si Asisten. “Ada yang ingin kutanyakan.”

Pengacara Park datang ke tempat Penjaga Dong sambil membawakan makanan untuknya. Lalu dia mengeluh supaya Penjaga Dong berhenti meminta makanan padanya, karena dia sudah membayar semua utangnya. Tapi Penjaga Dong mengabaikan keluhannya itu dan menyuruhnya untuk mulai menyalin. Dan Pengacara Park menolak serta ingin pergi saja.

“Boleh kuceritakan pada istrimu tentang gadis yang kau incar?” ancam Penjaga Dong.

“Lakukan,” jawab Pengacara Park, pura- pura berani. Lalu ketika Penjaga Dong mengertak nya sedikit, dia langsung takut sendiri. “Maksudku, akan kulakukan,” katanya.

Pengacara Park mengerjakan tugas Penjaga Dong sambil mengomel kalau Penjaga Dong melakukan hal ilegal. Dan Penjaga Dong menjelaskan bahwa ini tidak ilegal, tapi pemegang hak ciptanya yang meminta nya untuk memberikan salinan buku ke para murid.

“Pemegang hak cipta?” tanya Pengacara Park, ingin tahu.


Tepat disaat itu, Jong Hoon datang. Ternyata itu adalah buku milik Jong Hoon. Dia yakin dia akan segera dibebaskan, jadi dia akan memakai buku itu nantinya untuk mengajar.

“Dia menyuruhmu membantunya memenangkan persidangan,” kata Penjaga Dong, menjelaskan maksud Jong Hoon.

“Sudah menemuinya?” tanya Jong Hoon.

“Siapa?” tanya Penjaga Dong, ingin tahu.

“Sudah. Tapi dia memilih untuk bungkam, meski ada yang menyuruhnya. Dia akan bicara jika tuntutan akhirnya berbunyi kekerasan fisik,” jawab Pengacara Park.

“Orang gila yang menusuk Prof. Yang?” gumam Penjaga Dong.

“Dia sangat skeptis dan licik,” keluh Pengacara Park.


“Kuminta kesediaannya. Tunjukkanlah dan katakan aku akan datang,” kata Jong Hoon, bersikap murah hati.

“Baik,” kata Pengacara Park dengan senang. “Dia membayar jasaku menggunakan uang tunai,” katanya, bercerita. “Oh ya. Aku datang untuk itu. Ayo bersiap untuk sidangnya. Aku punya dakwaan dan daftar bukti penyelidikan, lalu aku pergi ke Kantor Kejaksaan, dan menyalin catatan investigasi,” katanya, memberitahu dengan bangga.

Jong Hoon menfotocopy semua data kasus nya yang dibawa oleh Pengacara Park. Lalu dia membawa Pengacara Park ke ruangan kelompok belajar dan membagikan semua salinan tersebut. Melihat salinan tersebut, Bok Gi merasa kagum, karena itu berasal dari dokumen asli. Sementara Kang Sol A merasa terkejut, karena ada banyak bukti yang tertulis di dokumen tersebut.

“Kalau begitu aku akan tamat, berkat semua bukti ini,” kata Jong Hoon, mengomentari perkataan Kang Sol A.


Dengan bingung, Kang Sol A menatap Joon Hwi. Dan Joon Hwi pun menjelaskan. “Pasal 318.1, Tindak Prosedur Kejahatan. Dokumen atau artikel yang disetujui oleh jaksa dan pihak tertuduh dapat jadi bukti bila bersifat murni. Jaksa tak bisa gunakan seluruh bukti. Pihak tertuduh harus setuju,” jelas nya.


“Jika dia tak menyetujui apa pun, bukti dianggap tidak ada?” tanya Kang Sol A.

“Kenapa tidak ada…” keluh Pengacara Park. Dan semuanya menatapnya. “Aku tak punya waktu untuk menjelaskannya…” katanya, ingin menghindar.

“Kami punya. Satu menit 30 detik,” kata Jong Hoon sambil melihat jam nya.

“Penolakan bukti biasanya menyangkal keabsahannya, tapi untuk apa pihak tertuduh menyangkal senjatanya?” jelas Pengacara Park.



“Lalu kenapa kita lakukan ini?” tanya Kang Sol A, tidak mengerti.

“Bukti disahkan secara tertulis. Pernyataan kita kepada jaksa, laporan pemeriksa medis, dan catatan pamanku. Dengan semua itu, kita berkesempatan untuk berkata, "Orang itu berbohong.",” jawab Joon Hwi, menjelaskan. Dan Pengacara Park  membenarkan dengan rasa kagum kepada Joon Hwi.


“Jika kita abaikan dokumennya?” tanya Kang Sol A, lagi. Dan Jong Hoon menyuruh Pengacara Park untuk menjawab nya lagi.

“Kita akan panggil saksi atau si penulis ke pengadilan untuk bersaksi. Lalu kita akan menilai keaslian dokumen tersebut,” jawab Pengacara Park dengan suara kesal.

“Kenapa kau marah padaku?” keluh Kang Sol A.


Jong Hoon kemudian menyuruh para murid untuk memutuskan bukti mana saja yang harus dia setujui. Dan Pengacara Park tidak setuju, karena ini masalah penting. Lalu Penjaga Dong datang dengan salinan rekaman investigasi serta membagikan itu kepada para murid. Melihat itu, Pengacara Park merasa stress, karena Penjaga Dong dan Jong Hoon sama gilanya. Sebab itu semua adalah dokumen asli, jadi tidak seharusnya dibagikan begitu saja kepada pihak yang tidak bersangkutan.

“Laporan autopsinya hilang. Pemeriksanya hilang, sehingga tak bisa diselidiki,” kata Joon Hwi, saat membaca dokumen tersebut.

“Ini akan mudah diabaikan. Menguntungkan Prof. Yang, bukan?” balas Pengacara Park dengan sikap santai.


Jaksa Jin menanyai asistennya, apakah pemeriksa tidak bisa di panggil. Dan si asisten menjawab bahwa dia sudah meminta kedutaan dan asosiasi korea untuk mencari si pemeriksa, tapi mereka tidak bisa menemukan si pemeriksa.

“Karena dia tinggal di luar negeri dan tak bisa dilacak, maka Pasal 314, Pengecualian…” gumam Jaksa Jin, berpikir.


Pasal 314, Tindak Prosedur Kriminal. "Apabila pemberi pernyataan tak mampu bertugas karena meninggal dunia, sakit, pindah alamat, atau alasan serupa, maka laporan terkait dan dokumen lainnya harus diserahkan sebagai barang bukti."

“Akui saja catatan tangannya sebagai klaim bunuh diri,” kata Ji Ho, berpendapat.

“Bagaimana pernyataan saksinya?” tanya Jong Hoon.

“Mereka semua adalah saksimu!” teriak Pengacara Park, menunjuk semua yang berada didalam ruangan.


“Kau benar. Semua tersangkanya ada di sini. Jika bukan dia, berarti salah satu dari kalian berbohong,” komentar Penjaga Dong. “Sangkal semuanya.”

“Sangkal semuanya? Lalu berapa banyak saksi yang harus kupanggil?” keluh Pengacara Park. Lalu dia menunjuk semuanya satu persatu. “Dia, dia, dia, dan dia. Mereka sudah bersaksi. Kau tahu cara kerjanya. Sidangnya akan terlalu lama. Hakim tak akan panggil mereka semua,” jelasnya.


“Aku mau jadi saksi,” kata Kang Sol A, mengangkat tangannya. Karena dia yakin kalau Jong Hoon bukanlah pelaku nya.

“Aku tak ingin dipanggil,” kata Kang Sol A, menolak menjadi saksi.

“Aku juga. Aku butuh waktu untuk belajar,” kata Ji Ho, menolak juga.

“Seung-jae dan aku bahkan tak ada di lokasi,” kata Bok Gi.




Jong Hoon membuat keputusan. Dia ingin Pengacara Park untuk menyangkal pernyataan Wakil Dean Ju terlebih dahulu. Dan jadikan Wakil Dean Ju sebagai saksi pertama nya. Karena Wakil Dean Ju ada mengubah alibi.

Lalu tiba- tiba Jong Hoong mendapatkan pesan dari Wakil Dean Ju yang mengajak untuk bertemu. Jadi diapun mengakhiri pertemuan sekarang dan pergi untuk mengambil laptopnya. Mendengar itu, Kang Sol B merasa agak panik. Sedangkan Seung Jae tampak termenung dengan tatapan kosong.

Kang Sol B segera menghubungi Wakil Dean Ju, tapi tidak bisa. Jadi dia menghubungi Ibu Kang B dan memberitahu Ibu Kang B untuk segera menghubungi Wakil Dean Ju.


“Pulanglah jika kau ingin bicara,” kata Ibu Kang B, menolak. Lalu dia langsung mematikan telponnya. Dan Kang Sol B langsung berlari cepat.

Jong Hoon masuk ke dalam ruangan Byung Ju. Dan menemukan laptopnya.

Kang Sol B sampai dirumah.

Jong Hoon duduk dan membuka laptop nya untuk memastikan bahwa itu benar adalah laptopnya.


Kang Sol B masuk ke dalam rumah dan berteriak memanggil ‘Ayah’.

Wakil Dean Ju datang menemui Jong Hoon.


Joon Hwi dan Kang Sol A sama- sama belum pulang. Mereka membahas tentang kasus ‘Ortu Jahat’ kemarin.

“Ini berbeda dari membocorkan data debitur. Tunjangan anak yang menunggak bukan utang pribadi, tapi bentuk kelalaian sebagai orang tua. Negara harus bertanggung jawab demi kelangsungan hidup anak, itulah sebabnya ini masalah publik,” kata Kang Sol A, memberitahukan hasilnya dengan bangga.


Wakil Dean Ju membuat segelas kopi dan lalu memasukkan sebungkus gula ke dalam nya. “Pada hari itu, aku membawa kemasan gula itu,” katanya, bercerita.


Flash back. PUKUL 12.25, 5 OKTOBER 2020, HARI TERJADINYA INSIDEN.

Ketika Byung Ju ingin meminum segelas kopi bersama dengan sabu- sabu, Wakil Dean Ju datang. Dan dengan panik, dia menyembunyikan sabu- sabu yang dipegang nya dibawah buku.


Wakil Dean Ju masuk ke dalam ruangan dan mengambil segelas kopi sendirian. Lalu dia mengeluarkan sebungkus gula yang dibawanya. “Aku suka manis.”



“Jika ini tentang tesis itu…” kata Byung Ju, membahas masalah secara langsung. “kurasa aku tak bisa membiarkannya.”

Mendengar itu,Wakil Dean Ju tertegun dan menjatuhkan gula yang di pegang nya.


Byung Ju beralasan bahwa ini sesuai perkataan Jong Hoon, aksi ilegal terkait proses penerimaan mahasiswa Fakultas Hukum tidak layak dimaafkan. Dan Byung Ju membalas bahwa ini sesuai perkataan Jong Hoon juga, Byung Ju menyuap kampus, menyebutnya donasi, dan dilantik sebagai dosen, jadi intinya, Byung Ju tidak berhak menasehatinya seperti ini. Dan Kang Sol B hanya mengikuti perkataan Ibu Kang B saja.

“Aku paham kenapa Hye-gyeong menyesal menikahimu,” komentar Byung Ju. “Meski disuruh, seharusnya dia bisa menolak. Wakil Dekan, sebagai seorang sarjana hukum terkenal, kau tentu lebih paham daripada aku. Putrimu tak kompeten untuk menjadi petugas hukum.”


Kemudian Byung Ju mendapatkan telpon dari Jong Hoon, dan diapun keluar dari ruangan duluan.

Wakil Dean Ju duduk dengan gelisah dan berpikir. Lalu tanpa sengaja, dia menemukan sabu- sabu yang  Byung Ju sembunyikan. Dan kemudian dia mendapatkan sebuah ide, ketika dia melihat gelas kopi Byung Ju yang masih belum tersentuh.

Flash back end



“Aku yang membunuhnya. Profesor Seo Byung-ju,” kata Wakil Dean Ju, mengaku. “Kau akhirnya… menemukanku,” katanya sambil tersenyum pada Jong Hoon.

Post a Comment

Previous Post Next Post