Sinopsis Lakorn- Fah Mee Tawan Episode 10/1



Original Network : Channel 7

Paramee menolak menyerahkan Pink Rose kepada Paul. Karena baginya, itu bukan aset perusahaan, tapi aset Suriyakan. Dan itu dia simpan untuk anak satu- satunya. Mendengar itu, Paul pun tidak memaksa Paramee dan pergi begitu saja.



Tepat ketika Paul pergi, Net keluar dari rumah dan menanyai apa yang terjadi. Dan Paramee menjawab tidak ada apa- apa, karena dia tidak mau membahas ini.


Ranee mengikuti Nai dan menyindir nya dengan ketus, sebab Nai sangat pandai menempel pada pria. Apalagi pria itu adalah Paul, orang yang telah melukai Paramee.

“Jangan berpikir setiap orang seperti kamu Khun Ranee,” kata Nai, balas menyindir Ranee. Mendengar itu, Ranee merasa kesal. Tapi Nai tidak mau memperdulikannya lagi.


Ketika Paul pulang, Dr. Kashane menyapanya dan mengajaknya untuk makan bersama. Tapi karena mood Paul sedang buruk, diapun mengabaikan Dr. Kashane dan hanya meminum air saja. Lalu setelah itu, Paul memberitahu Dr. Kashane bahwa bulan ini dia akan menagih uang makan. Dan Dr. Kashane mengeluh serta mengatai Paul orang kaya pelit.

“Orang yang menerima banyak hal ditambah mengklaim barang milik seseorang menjadi barangnya, betapa egoisnya dia?” kata Paul dengan ketus.

“Siapa yang dia katai?” gumam Dr. Kashane, heran.

Singkorn membayar Wirit supaya Wirit bisa melunasi hutangnya, tapi dia tidak memberikan uang itu secara cuma- cuma. Dan dengan senang, Wirit mengatakan bahwa dia akan melakukan apapun yang Singkorn perintahkan, contohnya Net. Mendengar itu, Singkorn langsung menatap Wirit dengan tajam.


“Jika kamu melewati batas dengan dia lagi, aku akan membunuhmu!” ancam Singkorn. Dan dengan ngeri, Wirit mengiyakan. “Aku dengar kamu bekerja sebagai host dibar di Hongkong sebelumnya?” tanya Singkorn.

“Iya,” jawab Wirit, membenarkan.

“Aku ingin kamu menggunakan koneksi mu untuk menyelidiki Paul Yang dan laporkan kembali padaku,” perintah Singkorn sambil menunjukkan foto Paul. Dan Wirit menyanggupi.


Dirapat. Paul membahas tentang pengembangan cabang ke luar negri yang sebelumnya pernah gagal, sekarang mereka memiliki klien VIP baru yang akan mendiskusikan itu dengan mereka. Jadi dia ingin Nai menlistkan secara detail tentang klien VIP baru tersebut. Itu sebenarnya pekerjaan Patcharee, tapi Paul ingin itu dikerjakan oleh Nai. Ketika Patcharee protes, Paul menutup laptopnya dengan keras, sebagai tanda kalau dia tidak senang Patcharee membantahnya.


“Dalam 2 hari klien VIP itu akan datang. Aku berharap disaat itu laporannya sudah siap, Khun Nai,” perintah Paul. “Oh, aku lupa. Jika kamu tidak bisa melakukannya, maka keluar. Karena kursi ini hanya untuk orang yang memiliki kemampuan,” tegas Paul sambil tersenyum. Lalu rapat pun selesai.


Dikantor. Setiap karyawan merasa kasihan kepada Nai, sekaligus merasa kesal kepada Paul. Karena Paul sudah bersikap sangat keterlaluan, dengan memberikan banyak pekerjaan kepada Nai akhir- akhir ini. Mendengar itu, Gina tidak setuju.

“Mungkin P’Nai memang ingin melakukannya. Tempo hari aku melihat Khun Paul mengantarkan dia pulang. Itu benar. Ibuku yang memberitahuku,” kata Gina, memberitahu. “Kelihatannya dia bukan hanya sedang bekerja keras. Tapi juga menebarkan pesona nya,” komentar Gina dengan ketus.

Malam hari. Ketika Nai sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya, Paul mengirimkan pesan. “Aku ingin laporannya sebelum tengah malam.” Membaca itu, Nai mendengus.


Setelah mengirimkan pesan, Paul tersenyum senang. “Selamat bekerja keras, Khun Nai,” gumamnya.


Dan datang ke kantor dan mengajak Nai untuk makan malam bersama nanti. Tapi Nai menolak, karena dia banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini, dan dia tidak tahu kapan dia bisa menyelesaikan itu.

“Nai, sejak Paul menjadi eksekutif, kita jadi jarang bertemu,” keluh Dan, tidak senang. “Mengapa kamu harus bekerja dengannya? Biarkan dia mencari sekretaris nya sendiri. Dia bisa memiliki sebanyak yang dia inginkan,” katanya, menyarankan.


Tepat disaat itu, Paul datang. Dia mendengar pembicaraan mereka berdua, tapi dia tidak peduli dan berjalan melewati mereka berdua begitu saja. Melihat itu, Dan ingin mendekati Paul serta mengajaknya berbicara. Tapi Nai menahan Dan serta menyarankannya untuk pulang saja, nanti dia akan menghubungi Dan. Dengan terpaksa, Dan pun pergi.


Setelah itu, Nai berdiri disebelah Paul untuk menunggu lift. Dan Paul mengingatkan Nai untuk jangan lupa tentang pekerjaan malam ini. Dan Nai mengiyakan.

“Kamu tahu betapa penting nya klien yang akan kita temui,’kan?” tanya Paul. “Alasan aku membawamu ikut denganku adalah supaya dia mau menanda tangani kontrak dengan kita. Aku berharap kamu bisa melakukannya,” jelas Paul, mengingatkan.

“Kamu mungkin lupa bahwa aku bekerja di Crown Diamond sebelumnya,” balas Nai dengan percaya diri. Dan mendengar itu, Paul tersenyum penuh arti.


Paul membawa Nai bersamanya untuk menemui Klien Joe yang akan bekerja sama dengan Crown Diamond. Awalnya makan malam berjalan dengan lancar dan pembicaraan juga berjalan sangat baik. Tapi setelah itu, Klien Joe mulai bersikap nakal, dia menyentuh paha Nai. Dan dengan terkejut, Nai pun langsung berdiri dan tidak sengaja menumpahkan air diatas meja. Melihat itu, Paul memarahi Nai serta meminta maaf kepada Klien Joe.



Klien Joe memberikan jasnya yang basah kepada Paul untuk dibersihkan. “Aku akan berganti pakaian dulu diatas,” katanya dengan tidak senang.



Setelah Klien Joe pergi, Paul kembali memarahi Nai. “Kamu tahu dia Klien yang penting! Bagaimana jika kamu membuatnya kesal dan dia tidak mau menanda tangani kontrak dengan kita?!”

Nai ingin membela dirinya dan menjelaskan. Tapi Paul tidak mau mendengarkan penjelasan Nai. Dengan kasar, dia melemparkan jas Klien Joe kepada Nai dan menyuruh Nai untuk mengurus itu. Lalu dia mengatai Nai tidak berguna. Setelah itu, diapun pergi duluan.

Mendengar itu, Nai merasa terluka.

Paul menghubungi seseorang. “Bisakah kamu datang ke kantor besok? … Aku perlu mendiskusikan sesuatu tentang Khun Joe…  Baik…”


Tepat disaat itu, Paul melihat Dan datang ke hotel bersama dengan seorang wanita. Mereka berdua sangat dekat serta mesra sekali.


Nai duduk dan menangis dengan sedih, tapi dia mencoba untuk bersikap tegar. Lalu tiba- tiba Klien Joe datang dari belakang dan menyentuh bahunya. Dengan terkejut, Nai langsung berdiri dan menjauh sedikit.



Melihat reaksi Nai, Klien Joe merasa geli dan tertawa. Lalu dia mengancam Nai. “Kamu harusnya sudah tahu, jika aku tidak menanda tangani kontrak hari ini, apa yang akan terjadi?” ancamnya. “Sebenarnya aku bukan orang yang rumit. Aku hanya ingin wanita cantik, datang dan berbicara kepadaku, menyenangkan ku disini dan disana. Lalu aku akan menanda tangani kontrak,” godanya. “Khun Paul  tahu itu. Itu mengapa dia membawa mu,” katanya, memberitahu. Mendengar itu, Nai sangat terkejut sekali.



Joe kemudian mulai mau melecehkan Nai. Lalu disaat itu Paul datang. Nai menatap Paul dengan tatapan memohon bantuan, tapi Paul malah hanya diam dan tersenyum saja, lalu Paul membalikkan badan nya. Melihat itu, Nai menatap Paul dengan penuh kebencian dan dengan sekuat tenaga, dia terus berusaha mendorong Klien Joe.

Paul membalikkan badannya. Dia mengambil sebotol anggur. Lalu dia memukulkan itu ke kepala Klien Joe dan menarik Klien Joe untuk melepaskan Nai.

“Kamu berani melukai ku?!” tanya Klien Joe sambil tertawa. “Kamu berani menukar perjanjian investasi kita untuk wanita ini?!” ejek nya.



Mendengar itu, Paul langsung menendang Klien Joe ke dalam kolam renang. Melihat itu, Nai merasa terkejut, karena dia tidak menyangka. Lalu dia menarik Paul dan memintanya untuk berhenti, sebab dia baik- baik saja.

“Cobai saja aku. Aku akan melaporkanmu atas pelecehan seksual…” kata Paul dengan tegas. Lalu dia menatap Nai. “kepada orang ku,” lanjutnya dengan lembut.


“Jangan pernah berharap aku akan menanda tangani kontrak dengan kalian!” ancam Klien Joe, marah. Tapi Paul tidak tampak peduli.



Nai mengikuti Paul. Dia mengomentari kalau Paul seharusnya tidak boleh melakukan itu kepada Klien Joe. Dengan tidak senang, Paul menyalahkan Nai dan mengatai Nai dengan sinis, karena demi kontrak untuk Crown Diamond, Nai rela menjual diri sendiri. Dia menyimpulkan ini, karena barusan dia melihat Nai tidak terlalu menolak Klien Joe.


Mendengar itu, Nai menatap Paul dengan tajam. Lalu Paul menarik Nai ke dalam pelukannya. “Atau kamu suka seperti ini?” tanyanya dengan suara pelan.

“Khun Paul, lepaskan!” balas  Nai sambil mendorong Paul dengan kuat.



“Jadi kamu tahu caranya menolak,” komentar Paul. Lalu dia menatap Nai dengan serius. “Segala yang aku berniat untuk lakukan dan harapkan terjadi, itu akan rusak karena mu,” katanya. Kemudian dia berjalan pergi duluan.


Singkorn melaporkan apa yang terjadi kemarin malam kepada Paramee. Dan Paramee merasa marah. Sedangkan Net tidak peduli dan dia juga membela Paul. Menurutnya, Klien Joe tidak mungkin akan bertindak terlalu jauh, tapi Nai saja yang terlalu membesar- besarkan masalah. Dan Paul pasti tahu itu, makanya dia berani melakukannya.

“Apapun penyebabnya, sekarang kita kehilangan klien penting,” tegas Singkorn. Mendengar itu, Net menatap Singkorn dengan tatapan tidak senang.

“Aku akan ke kantor,” kata Paramee, memutuskan. Lalu dia pergi untuk bersiap.


“Kamu terlalu memihak dengan Paul,” keluh Singkorn, cemburu.

“Aku hanya berbicara dari situasi. Khun Joe adalah pembisnis besar, dia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak layak,” balas Net dengan yakin.

“Tapi kali ini dia mengacau, aku akan menggunakan ini untuk menyerangnya pada saat rapat,” kata Singkorn, bertekad kuat.



Dikantor. Wang mengomentari tindakan Paul. Dia sudah memperingatkan Paul agar jangan membawa Nai ke pertemuan, karena Klien Joe dikenal suka wanita. Juga paling parahnya, Paul melukai Klien Joe hanya demi Nai. Mendengar itu, Paul pun hanya diam saja.


Lalu kemudian, Nai datang. Dan Wang pun permisi untuk keluar dari ruangan. Tapi Nai menghentikannya, karena dia hanya ingin berbicara singkat saja.

“Bicara,” perintah Paul.

Nai menyerahkan surat pengunduran dirinya. Dan Paul merasa terkejut, karena dia sama sekali tidak menyangka. “Kamu yakin ingin keluar?” tanyanya, memastikan.

“Aku sudah membahayakan perusahaan. Aku tidak pantas bekerja denganmu,” kata Nai, sadar diri akan kesalahannya.


“Itu bagus. Jika kamu keluar, aku akan membiarkan Ayahmu menggantikan tempat mu,” kata Paul, sengaja menakuti- nakuti Nai.

“Apa yang kamu katakan?” tanya Nai, terkejut.

“Kelihatannya Khun Paramee bisa melakukan pekerjaan lebih baik sebagai asisten daripada kamu,” balas Paul dengan sikap santai.


Mendengar itu, Nai merasa tidak senang dan menatap Paul. Sambil tersenyum, Paul mendekat dan balas menatap Nai.

Melihat itu, Wang tersenyum- senyum kecil.

Akhirnya, Nai pun tidak jadi berhenti. Kemudian tiba- tiba, Paramee datang.



Paramee datang memarahi Paul, karena Paul membuat Nai hampir di lecehkan kemarin. Dan Paul agak tidak menyangka, karena dia mengira Paramee akan kesal, sebab Nai telah membuat perusahaan mengalami kerugian.

“Aku bukan seseorang yang mempedulikan keuntungan, ketika putriku mengalami sesuatu seperti itu! Kalau kamu ada masalah dengan ku, jelas kan dengan ku! Jangan luapkan kepada Nai,” kata Paramee dengan tegas.



“Aku pikir antara kamu dan aku sekarang, itu hanya hubungan kerja. Dan aku akan menunjukkan padamu siapa yang akan membuat Crown Diamond lebih maju,” balas Paul sambil tersenyum. “Oh ya, lain kali jika kamu ingin bicara kepadaku, mohon beritahu sekretaris ku dulu, apa aku bersedia atau tidak untuk bertemu denganmu,” katanya, mengingatkan.

Mendengar itu, Paramee merasa sangat kesal. Lalu diapun pergi. Dan Nai mengikutinya.


Nai menceritakan apa yang terjadi kepada Patcharee. Dan Patcharee semakin tidak senang terhadap Paul, yang sengaja mempermainkan Nai.

“Aku benar- benar tidak mengerti mengapa dia melakukan itu. Tapi aku akan menahannya demi Ayah,” kata Nai, bersikap kuat.



Para karyawan semakin kesal kepada Paul dan kasihan kepada Nai. Tapi Gina sama sekali tidak peduli dan tidak merasa kasihan kepada Nai.

“Hm. Mulut yang tidak menyenangkan seperti itu, hati- hati atau mulutmu harus diperbaiki,” sindir Ting, mengejek Gina.

“Jika mulutku harus diperbaiki, kamu perlu memperbaiki wajah dan seluruh tubuhmu!” balas Gina, mengejek Ting.


Dimulai dari gosip. Menjadi adu mulut. Lalu terjadilah pertengkaran. Dan para karyawan berusaha untuk memisahkan Ting serta Gina.

Tepat ketika Paul datang, Ting dan Gina berhenti bertengkar. Dan dengan sopan, Mee menundukkan kepalanya serta menyapa Paul.


“Aku datang untuk bertanya tentang koleksi terbaru. Ketika kamu sudah selesai, kirimkan kepadaku,” perintah Paul.

“Baik, Khun Paul,” jawab Mee sambil tersenyum.

“Lalu… apakah Khun Nai ada ke sini tadi?” tanya Paul sambil melihat ke sekeliling ruangan.

“Uh… Khun Nai…” kata Mee, sedikit susah menjawab.

Tepat disaat itu, Dan datang serta menyindir Paul yang berkeliling mencari Nai. Dengan ramah, Paul mengingatkan Dan bahwa sebagai orang luar, Dan tidak seharusnya datang ke sini. Mendengar itu, Dan membela diri bahwa dia datang untuk menemui tunangannya, jadi Paul tidak berhak untuk ikut campur.


Dan kemudian mendekati Paul dan berbisik di dekatnya. “Aku tidak berencana membagi wanita ku dengan siapapun. Tapi jika kamu bisa menunggu, tunggu sampai aku membuang nya, kemudian pungut dan makanlah. Tapi jangan khawatir, tunggu saja sebentar lagi,” bisiknya dengan suara sangat pelan sambil tertawa.


Mendengar itu, Paul langsung mendorong Dan serta memukulnya berkali- kali. Lalu dengan panik, para karyawan berusaha untuk menghentikan Paul.


Nai kemudian datang. Melihat apa yang terjadi, dia memarahi Paul dan melindungi Dan. Dengan perasaan terluka, Paul hanya diam saja, lalu dia pergi.


“Apa kamu baik- baik saja?” tanya Nai dengan lembut kepada Dan.

“Sangat sakit,” keluh Dan, berpura- pura.


Dan mengeluh kepada Nai, karena Paul memukulinya tanpa alasan. Mendengar itu, Nai menyarankan supaya Dan pulang dulu, lalu nanti dia akan menghubungi Dan.

“Nai. Kamu lihat apa yang barusan dia lakukan kepada ku, kamu masih mau kembali dan bekerja dengannya?!” keluh Dan, emosi.

“Ini hanya pekerjaan,” balas Nai. Lalu dia pergi duluan.

“Paul. Aku akan membalas mu,” gumam Dan, penuh kebencian.



Dan mengikuti Paul sambil ke rumah. Dia datang membawa dua orang preman dengannya untuk membalas Paul. Tapi Paul sama sekali tidak merasa takut ataupun panik.

“Tendang dia!” kata Dan, memerintah dua preman bayarannya. Tapi kedua preman itu hanya diam saja serta malah tampak ketakutan. “Aku bilang tendang dia. Apa kamu dengar aku?!” teriak Dan.


Dari belakang, Wang datang dan menondongkan pistol kepada Dan. “Jika kamu berpikir bisa menyentuh Khun Paul, jangan bilang aku tidak memperingatkanmu,” jelasnya.


Lalu Wang membiarkan dua anak buah nya untuk memberikan pelajaran kepada dua preman bayaran Dan. Melihat itu, Dan merasa ngeri serta tidak berani bergerak sama sekali.

“Khun Wang, bantu dia. Dia butuh berolahraga,” kata Paul sambil tersenyum. Lalu dia membalikkan badannya dan berjalan pergi.

“Paul!” teriak Dan, panik. Lalu dengan kuat, Wang langsung menendang nya.


1 Comments

Previous Post Next Post