Sinopsis Lakorn : Praomook E03 - 1



Karena Lan pergi begitu saja, pembicaraan pernikahan tidak bisa dilanjutkan. Mereka akan membicarakannya kembali saat suasana hati Lan sudah lebih baik. Chat dan Pat sampai bertanya ulang untuk memastikan kalau Mook serius bukan hanya nge-prank. Mook serius ingin menikah dengan Lan, tapi itu, hanya jika tawaran mereka waktu itu masih berlaku. Chat dan Pat mengerti arah pembicaraan Mook. Mereka akan membantu menebus rumah Mook kembali asalkan Mook mau menikah dan mendaftarkan pernikahannya dengan Lan selama setahun. Mereka akan membeli rumah itu dari bank dan menjadi pemilik rumah, dan setelah setahun pernikahan Lan dan Mook, mereka akan mengembalikan rumah itu atas nama keluarga Mook. Walau begitu, keluarga Mook tetap akan bisa tinggal di sana seperti biasa selama menikah. 


“Ya, kita sepakat,” setuju Mook, walau kelihatan dari wajahnya dia merasa berat menerima keputusan tersebut.

--


Disaat Mook memikirkan cara untuk mendapatkan rumah mereka kembali hingga bersedia melakukan pernikahan takhayul tersebut, Petch malah membuang waktunya untuk menunggu Marut hanya demi mengembalikan sebuah kancing yang bahkan tidak Marut perlukan lagi. 

Walaupun Marut sudah menyuruhnya mengembalikan kancing itu pada pegawainya saja, tapi Petch tetap menunggu Marut hingga selesai rapat dan ketiduran. Marut yang baru siap rapat, melihat Petch yang masih ada ditempat tadi dia meninggalkannya. Poom memberitahu Marut, kalau tadi dia sudah menyuruh Petch pergi, tapi Petch bersikeras ingin menunggu Marut dan tidak mau menyampaikan apa tujuannya. 



Marut melihat Petch yang tertidur dan kepalanya bergoyang-goyang. Takut kalau Petch terjatuh, Marut refleks duduk di sampingnya sehingga kepala Petch bersandar di bahunya. Poom memperhatikan yang dilakukannya dan takut kalau Marut hilang kendai, jadi, dia batuk-batuk kecil untuk menyadarkan.


Untungnya Marut tersadar. Dia segera mendorong kepala Petch ke arah kaca di sebelahnya kemudian beranjak pergi. Poo menawarkan diri untuk membangunkan Petch, tapi Marut tidak peduli dan pergi begitu saja. Poom melirik wajah Petch yang tidur sambil senyum-senyum, pasti bermimpi indah. Dan dia juga langsung pergi tanpa membangunkan Petch. 


Setelah Mook pergi, Chat baru menelpon putranya dan menyuruhnya untuk datang ke kantor menghadiri rapat mewakilinya. Dia tidak mau mendengar penolakan karena ini adalah perintah. Jika Lan tidak mau pergi, dia akan menyeretnya ke sana.



Dengan hati dongkol, Lan pergi ke perusahaan ayahnya. Di depan pintu, Danai sudah menunggu. Bukannya merasa senang, Lan jadi kesal karna mengira ayahnya memerintahkan Danai mengawasinya. Danai tersenyum kecil dan memberitahu ini atas inisiatif sendiri. Dia ingin memberitahu agenda rapat terlebih dahulu pada Lan dan mana tahu Lan punya ide menarik untuk diajukan. Lan menanggapi sinis karna tidak akan ada yang mau mendengar idenya. Dia juga merasa tidak perlu membuktikan diir.

Daripada mereka malah bertengkar karna kekeraskepalaan Lan, Danai menyarankan agar Lan duduk dan mendengarkan rapat saja. Jadi, kalau Chat bertanya, Lan bisa menjawab.


Di ruang rapat sudah ada Lak dan team yang menunggu Lan sedari tadi. Rapat kali ini akan membahas produk baru yang akan mereka luncurkan. Rawin, manager desain produk dan pengembangan yang akan menyampaikan presentasinya. Setelah perkenalan singkat, rapat dimulai. Danai berbisik kecil pada Lan untuk menyampaikan saran dan pertanyaan. Tapi, sama seperti tadi, Lan menolak karna menganggap kalau Lak pasti akan menolak apapun idenya. Danai berkata kalau Lak tidak akan menolak kalau idenya dimulai.


Rawin memulai presentasinya. Dia mempresentasikan rancangan kursi mereka dengan bahan kayu dan ditargetkan untuk rumah bandar, kantor rumahan, dan unit apartemen ukuran sedang. Saat Rawin sedang menjelaskan, Lan sibuk melihat email diponselnya. Salah satu tautan email yang dibukanya, berisi audio. Eh, Lan malah membuka audio itu padahal sedang di tengah rapat. Tentu semua langsung melotot padanya walaupun dia langsung mematikan suara. Dengan tegas, Lak meenyuruhnya mematikan ponsel saat rapat.


Rapat kembali dilanjutkan. Selama Rawin menjelaskan, Lan mencorat-coret proposal yang tadi dibagikan oleh Rawin. Danai sempai melirik sekilas dan terlihat kalau Lan menggambar doodle di proposal tersebut sambil senyam senyum. Wajah Danai menunjukkan sedikit kejengkelan karna Lan tidak serius. Rawin juga tampak sedikit terganggu dengan sikap Lan yang kelihatan acuh.


Selesai presentasi, Danai dan Lak secara aktif memberikan pertanyaan, kritik dan masukan untuk produk yang di presentasikan oleh Rawin. Ada perbedaan pendapat antara Danai dan Lak. Danai merasa kalau produk itu biasa dan sebaiknya mereka mengurangi biaya pemasarannya. Berbanding terbalik dengan Danai, Lak merasa kalau mereka harus mengeluarkan uang lebih untuk menarik kelompok target baru.

Danai masih ingin mengungkapkan pendapatnya, tapi Lak langsung menutup ucapannya dan mengakhiri rapat. Danai hanya bisa menelan perkataannya kembali karna yang dilakukan Lak sama saja tidak mengizinkannya berpendapat. 


Begitu rapat selesai dan semua bubar, Lak baru bilang sama Rawin untuk mempertimbangkan komentar Danai tadi agar produknya bisa disetujui lain kali. Danai menambahkan kalau desain Rawin bagus, tapi dari sudut pandang pemasaran, desainnya masih kalah dari pesaing dan mengakibatkan turunnya keuntungan. Sebaiknya dalam mendesain, dia mempertimbangkan juga pasar dan biaya. Eh, Rawin malah hanya diam, tidak memberikan respon, padahal, waktu Lak yang bicara, dia mengiyakan.

Lan merasa kalau dia sudah cukup mengikuti rapat dan mau pergi, tapi Lak menghentikan. Lan masih harus melihat-lihat perusahaan karena itu perintah ayah. Lan menolak karna dia tidak punya waktu hari ini dan akan melakukannya lain kali. Sebelum pergi, dia mengembalikan proposal Rawin. Rawin pun keluar dari ruang rapat dengan wajah kesal.


Setelah Rawin pargi, Lak baru menunjukkan amarahnya pada Lan. Menurutnya, Lan tidak bertanggung jawab dan tidak akan ada yang mau bekerja dengannya. Dia tidak mau Lan memanfaatkan posisi sebagai putra Presdir untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah. Lan menegaskan kalau dia bukan orang yang begitu. 


Lak masih ingin mengejar Lan dan berdebat, tapi Danai menghentikannya. Lak benar-benar nggak suka dengan Lan yang bersikap acuh seperti itu dan tidak seharusnya Chat mempercayakan perusahaan pada orang sepertinya. Danai menyuruh Lak untuk tidak memaksa Lan karna Lan tidak suka bekerja di sini. Makin dipaksa, makin Lan menolak. Tugas mereka adalah membantu Chat mengurus perusahaan.

Bagi Lak, itu sangat tidak adil. Mereka yang bekerja keras mengurus perusahaan, tapi kenapa yang mendapatkan perusahaan pada akhirnya adalah Lan?! Dia nggak bisa menerima itu. Dia juga jadi muak dengan Danai karna Danai terus menerus berkata seperti itu.



Setelah membuat prahara seperti itu hingga kakaknya bertengkar dengan suaminya, Lan pergi dengan langkah ringan. Baru beberapa angkah keluar perusahaan, Lan sudah merasa nggak enak seperti ada yang mengawasi. Dan orang yang mengawasinya adalah Rawin.

--



Mook pergi ke rumah sakit menjenguk ayahnya. Hatinya pedih harus memberitahu keputusannya untuk menikah dengan Lan demi menyelamatkan rumah mereka. Dia juga tidak mau melakukannya, tapi dia juga tidak punya pilihan lain. Mook sadar bahwa keputusannya tersebut akan membuat ayahnya sangat marah dan sedih. Yang bisa dilakukannya hanyalah menangis dan berharap ketika ayahnya sadar nanti, dia tidak akan marah pada keputusannya.

--


Rawin kembali ke ruang kerjanya dengan perasaan marah. Dia melihat-lihat proposal miliknya yang dikembalikan oleh Lan barusan. Di halaman pertama, terlihat gambar-gambar doodle yang dibuat oleh Lan. Namun, dihalaman selanjutnya, Lan membuat begitu banyak catatan bagus untuk produk tersebut, seperti bahan apa yang harus dipakai, target pemasaran meliputi usia dan lokasi, dan masih banyak lagi. Semuanya benar-benar hal berguna.



Rawin benar-benar kaget membacanya. Dia mengira Lan hanya bermain-main dan tidak mendengarkan, namun sebaliknya, Lan mendengarkan dengan serius.

Lak datang saat itu dengan mood yang buruk. Hubungannya cukup dekat dengan Rawin. Kenapa? 


Karna mereka adalah teman sejak SMA. Dari dulu, Rawin sering kali melukis wajah Lak. Lak mengagumi kemampuan Rawin dan menawarkannya untuk berkerja di perusahaan keluarganya setelah lulus.

“Tentu. Akan kulakukan apapun untukmu, Lak,” ujar Rawin, kala itu.


Lak menemui Rawin untuk curhat kekesalannya mengenai sikap tidak tanggung jawab Lan. Rawin memberikan pendapatnya kalau Lan sepertinya hanya pura-pura tidak tanggung jawab agar Chat kesal. Lak tentu heran kenapa Rawin tiba-tiba bicara seperti itu? Rawin segera menunjukkan proposalnya yang sudah di corat-coret Lan tadi.

Hal itu yang membuat Rawin mengubah pandangannya mengenai Lan. Lak juga kelihatan kaget, tapi sesaat kemudian, dia melemparkan kembali proposal tersebut ke meja, sambil berkata kalau itu bukan apa-apa. Jika Lan yakin dengan pendapatnya, dia harusnya memberitahunya saat rapat. Menulis dikertas seperti itu, tidak akan membuktikan kemampuannya. Dan juga, dia tidak akan membiarkan Lan mengambil alih perusahaan.


“Kau harus membantuku,” ujar Lak.

“Tentu saja. Aku akan membantumu.”

Senyum langsung tersungging di wajah Lak mendengar jawaban tersebut.


Danai di ruangannya juga memikirkan ucapan Lak yang seperti menghinannya. Dia mencengkeram tangannya begitu erat, seolah menandakan kemarahannya.


Petch tidur sangat pulas. Dia baru bangun saat mendengar beberapa pegawai wanita lewat dihadapannya sambil membahas tempat makan siang. Poom juga lewat. Petch langsung memanggilnya dan menanyakan mengenai Marut. Dengan singkat, Poom menjawab kalau Marut sudah pergi dari tadi.



Petch tidak puas dengan ucapan itu dan mengikuti Poom sambil bertanya, kenapa Poom tidak membangunkannya? Poom masih mencoba sabar dan menanyakan, apa pesan yang ingin Petch sampaikan pada Marut? Dia akan membantu menyampaikannya. 

“Aku tidak mau merepotkanmu. Aku akan kembali nanti,” jawab Petch.

“Kau tidak ada urusan dengannya kan? Kau hanya ingin bertemu bosku. Akui saja.”



Sebenarnya, jawabannya ya. Kita yang menonton saja, bisa tahu kalau Petch kelihatan jelas ingin mendekati Marut hingga menggunakan alasan-alasan nggak masuk akal. Petch tidak mau mengakui tebakan itu dan terus bilang kalau urusannya dnegan Marut itu sangat penting. 

Poom jadi kepo mau tahu. Petch juga terlihat ingin memberitahunya sehingga memberi tanda agar Poom mendekat supaya dia bisa berbisik. Begitu Poom mendekatkan telinganya : “Aku tidak akan memberitahumu!!!” teriak Petch di telinga Poom dengan sangat keras.


Petch udah mau pergi dan berkata akan kembali lagi besok (sumpah ya, menjengkelkan. Keluarganya lagi kesusahan, bukannya membantu, malah sibuk bermain nggak penting!) eh, tapi dia melihat ada lowongan pekerjaan paruh waktu di perusahaan MarsWiz. Petch kelihatan tertarik dan ingin mencoba melamar.

Usia Petch masih 17 tahun dan tidak memenuhi persyaratan usia minimun. Dengan tingkah sok manis, dia memohon agar Poom memberikannya sedikit kelonggaran. 

--


Oak memberitahu Mook mengenai pekerjaan endorse yang sudah diterimanya dari toko yang tampak bisa dipercaya. Mook setuju saja dengan yang dipilih Oak, asalkan, Oak tidak menerima produk endorse suplemen makanan karna dia tidak meminum produk begitu. 


Dari jauh, diam-diam, Lan memperhatikan dan memotret kedekatan Oak dengan Mook. Huft, katanya nggak suka, tapi tiap hari datang ke tempat kerja Mook Mook yang baru menyadari kalau ada Lan disana, sedikit terkejut namun berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaan nge-DJ nya.


Bukan hanya Lan yang ke sana, tapi juga Marut. Mereka tidak janjian untuk ke sana bersama. Padahal, haknya Marut dia mau kemana dan ngapain, tapi Lan malah memperingatinya untuk tidak terlihat dengan Mook. Marut tentu menuduhnya ingin memiliki Mook seorang diri. Lan membantah dan beralasan kalau Mook adalah wanita berbahaya. 

“Makin dia tampak berbahaya, dia makin menawan,” respon Marut.

Lan jadi marah karna Marut mengabaikan peringatannya. Marut nggak peduli karna dia beneran tertarik sama Mook. 


Hm, dunia memang kecil. Bisa-bisanya dalam waktu hampir berdekatan, Lan bertemu dengan dua orang wanita yang ingin dihindarinya. Setelah bertemu Mook, kini tiba-tiba saja, wanita yang dulu di sukainya, Nuch, muncul dihadapannya.


Flashback

Dulu, setelah masalah Lan, Nuch dan Mook di café, besok harinya, Lan langsung ingin meminta maaf pada Nuch di sekolah. Dia sudah sengaja membeli bunga dan kartu ucapan. Tapi, saat dia mau menemui Nuch, tanpa sengaja, dia mendengar pembicaraan Nuch dan teman-temannya.

Mereka membahas mengenai putusnya hubungan Nuch dan Lan. Nuch sangat marah karna Lan membiarkan Mook mempermalukannya seperti itu di café, kemarin. Hal ini menunjukkan padanya kalau Lan itu lemah, tidak tegas dan membiarkan hidupnya dikendalikan orang lain. Kalau hal sepert ini saja Lan tidak bisa mengatasinya, bagaimana dia bisa mengatasi hal yang lebih besar nantinya?

“Kau tidak mencintainya lagi?” tanya temannya, memastikan.


“Cinta saja tidak cukup. Aku ingin seseorang yang bisa melindungiku. Karena Lan tidak bisa melindungiku, aku berhak memilih orang lain. Kita masih muda. Kita punya banyak waktu untuk menemukan pria sempurna.”


Setelah mengatakan semua itu, mereka baru menyadari kehadiran Lan. Lan sangat kecewa karna Nuch menjelek-jelekan, jadinya, dia meninggalkan bunga dan kartu ucapan itu, kemudian berbalik pergi.


Nuch melihat kartu ucapan yang ditinggalkan Lan. Isinya adalah : “Maafkan aku. – Lan.”

End


Dan kini, Nuch tiba-tiba muncul dihadapannbya dan bersikap seolah tidak pernah ada masalah di masa lalu. Dia menggenggam tangan Lan dengan erat. Hal itu terlihat oleh Mook sehingga fokusnya sempat goyah dan membuat kesalahan. Dengan cepat, dia menguasai dirinya.


Hal kecil itu tidak luput dari perhatian Marut. Dia kepo mengenai siapa wanita dihadapannya tersebut? Dengan santai, Nuch menjawab kalau dai mantan pacar Lan, sambil menggandeng tangan Lan. Lan melepaskan pegangan tangan Nuch dan berujar kalau hubungan mereka hanya masa lalu. Nuch dengan tidak tahu malunya, menggandeng tangan Lan balik sambil berujar kalau dia tidak pernah melupakan masa lalu.


Nuch mengajak Lan untuk pergi bersamanya. Lan sebenarnya risih, tapi melihat Mook yang kehilangan fokus, Lan pun meladeni Nuch. Dia ingin membuat Mook panas. 


Tujuannya berhasil. Mook tidak suka melihat Lan pergi dengan wanita lain. Jadi, dia mengakhiri pertunjukkannya dan segera mengejar Lan dengan Nuch. Tanpa ragu, Mook memperkenalkan diri sebagai pacar Lan. 

“Kau keterlaluan, Praomook. Aku bukan pacarmu.”



Mendengar nama “Praomook”, Nuch langsung mengenalinya. Dia mengejek Praomook yang masih seperti dulu, mengarang sebagai pacar Lan. Mook bingung karena orang dihadapannya bicara seperti mengenalnya. Dengan tatapan tajam dan senyum sinis, Nuch memberitahu namanya.


Flashback

Lan dan teman-temannya mencegat Praomook di lorong sekolah yang sepi. Mereka membully Praomook dengan memecahkan telur mentah ke atas kepalanya, menyiramnya dengan tepung dan menuangkan air.

“Jika kau terus muncul dihadapannya, aku akan membuat Lan membencimu.”

End


Praomook masih ingat bagaimana dulu Nuch membullynya. Nuch juga masih ingat jelas bagaimana dulu Pramook merasa Lan adalah miliknya dan menuduhnya mencuri Lan padahal itu hanyalah pernikajhan takhayul.

Dengan cool, Praomook berujar kalau semua itu masa lalu dan sekarang, dia dan Lan akan beneran menikah dan itu bukan imajinasinya. Marut yang baru menyusul, kaget mendengar ucapan tersebut. 


Lan sebenarnya nggak mau mengakui, tapi karena cara ini bisa membuat Nuch menjauhinya, maka dia ikut dalam permainan Mook. Dia juga membawa Mook masuk ke dalam mobilnya. 

Oak yang baru mau menyusul Mook, bingung saat Mook pergi dengan Lan.


Di dalam mobil, Lan mencegah Mook mengangkat telepon dari Oak. Dia merebut ponsel Mook dan melemparnya ke kursi belakang. Dia juga tidak mau memberitahu Mook kemana dia akan membawanya. 

Baru saja bertingkah seperti pasangan, kini mereka sudah bertengkar. Lan menghina Mook mau menikah dengannya karna uang dan itu sama seperti pros******. Dia kembali menyebut Mook, menjijikan. Dia juga menyuruh Mook membatalkan pernikahan dan dia akan memberikan uang yang Mook inginkan. 


Mook merasa sangat terhina dengan semua ucapan Lan. Dia menyadari kalau Lan masih saja seperti dulu, meremehkannya. Lan membenarkan dan dia tidak akan pernah jatuh cinta pada Lan.

Apapun yang dikatakan, Lan tidak akan mendengarkan. Ini hanyalah pembicaraan sepihak. Mook tentu saja meminta diturunkan karna menurutnya, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Lan menolak dan malah semakin mengebut, tanpa mempedulikan keselamatan dirinya dan Mook.


Dia hanya fokus mengebut, tanpa menyadari kalau seseorang mengendarai motor, melaju di sampingnya sambil mengarahkan pistol. Orang itu siap menembaknya. Melihat hal tersebut, Mook segera memutar setir mobil agar mobil berpindah jalur dan tembakan meleset. 



Masalahnya, mobil dalam posisi laju. Lan juga kaget dan kehilangan kendali, sehingga mobil akhirnya menabrak pembatas jalan dan terbalik.


Nuch sangat kesal karna Lan memilih pergi dengan Mook. Dia juga sudah mau pergi, tapi Rut malah mengikutinya. Rut curiga dengan Nuch yang bisa mengenali Lan padahal Lan saja tidak mengenali Nuch, yang artinya, mereka sudah lama tidak bertemu. 

“Mungkin, kau sudah tahu dia siapa,” tebak Rut.


Kecelakaan itu membuat Lan kehilangan kesadaran. Mook yang masih sadar, berusaha melepaskan seat belt sambil menyadarkan Lan. Tapi, karna posisi mobil yang terbalik, dia kesulitan untuk melakukan apapun. Yang bisa dilakukannya, hanyalah berteriak meminta tolong.

Si penembak juga berhenti dari motornya dan mendekat untuk menembak Lan. Mook sangat panik karna dia bisa melihat si penembak mengarahkan pistol ke Lan. Wajahnya tidak terlihat karna dia mengenakan helm.


Di saat yang tepat, ambulans mendekat. Si penembak akhirnya mengurungkan niat dan segera kabur sebelum tertangkap. 


Nuch bersikap sangat tenang atas tuduhan Rut. Dia menunjukkan ig Lan yang diikutinya. Selama ini, dia mengikuti Lan dan itu yang membuatnya mengenali Lan. Rut makin curiga, apa yang Nuch inginkan dari Lan?

“Bukan urusanmu.”

“Tidak apa-apa. Aku akan mencari tahunya sendiri,” balas Rut.


Oak mendapat telepon mengenai Mook dan Lan yang mengalami kecelakaan dan sekarang dibawa ke rumah sakit. Kabar itu, disampaikan Oak juga pada Rut yang masih berada tidak jauh dan sedang mengobrol dengan Nuch.


Lan dan Mook dibawa ke ruang UGD untuk diobati dan diperiksa. Lan akhirnya sadar dan kelihatan khawatir sama Mook. Keduanya sama-sama khawatir.


Oak, Rut dan Nuch juga sudah tiba dan sedang menunggu di depan ruang UGD. Tidak lama, Da dan Petch juga tiba. Oak segera memberitahu keadaannya. Rut tentu kaget saat melihat Petch.


Akhirnya, dia tahu juga kalau Petch adalah adik DJ Prao. Wow, dia tidak benar-benar menyangka. Petch malah marah karena Rut pasti merasa dia tidak secantik Mook. Rut membantah tuduhan itu, karna dia hanya tidak menyangka dunia begitu kecil. Eh, Petch langsung nanya, apa hubungan Rut dengan kakaknya?

“Kurasa hanya kenalan,” jawab Rut.

Wajah Petch langsung sumringah. Astajim, apa dia lupa tujuannya datang karna KAKAKNYA MASUK RUMAH SAKIT! Kenapa dia malah flirting ke Rut?!


Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, hasilnya, tidak ada luka serius di dalam tubuh Lan dan Mook, kecuali luka luar seperti luka dan memar. Lan awalnya bersikap lembut pada Mook, tapi tiba-tiba dia teringat kalau kecelakaan tersebut terjadi karna Mook tiba-tiba membelokkan setir sehigga mobil tergelincir dan terbalik. Lak beneran nggak tahu kalau Mook telah menyemalatkan nyawanya, sehingga dia malah mengatai Mook sebagai pembawa sial.



“Tapi pembawa sial sepertiku telah menyelamatkanmu dari pembunuhan,” marah Mook.

Lan tidak mengerti maksud Mook dan malah mencengkeram tangan Mook dengan erat, sembari menanyakan siapa yang berusaha membunuhnya. Mook mana tahu. Dia tadi hanya melihat seorang pria mengikuti mereka dengan sepeda motor sambil mengeluarkan pistol, makanya dia memutar setir. Dan bahkan, saat Lan tidak sadarkan di dalam mobil tadi, pria tersebut masih mencoba membunuh dengan pistol. Dia berteriak keras saat itu memohon pertolongan.

“Apa kau bermusuhan dengan seseorang? Ini kali ketiga dia mencoba menembakmu.”



Makin kagetlah Lan. Dia tahunya hanya 2 kali. Pertama, saat mereka bertemu di Korea dan hari ini. Mook akhirnya tidak menyembunyikan lagi dan memberitahu kalau yang kedua adalah saat mereka hampir tertabrak sepeda motor. Dia melihat ada pria yang mencoba menembak Lan, makanya dia mendorongnya hari itu.

“Satu-satunya musuhku adalah kamu. Setiap kali aku dalam masalah, selalu ada kamu. Ini rencanamu,” tuduh Lan. “Percobaan pertama, aku melihat penembaknya. Tapi dua percobaan terakhir, aku tidak melihat apapun. Kau mengarang ini agar orang tuaku percaya perkataan peramal itu dan membuatku menikahimu. Semuanya masuk akal.”

Mook sangat marah mendengar tuduhan itu padahal dia sudah menyelamatkan nyawa Lan 3 kali. Jika dia memang menginginkan pernikahan itu, tidak mungkin dia mau bertaruh nyawa. Lan malah semakin memojokkannya dengan berkata Mook sok bertaruh nyawa agar dia yakin bahwa Mook menyelamatkannya.

“Dengarkan aku. Lebih baik aku mati ditembak daripada menikahimu!” ujar Lan, sombong.



1 Comments

Previous Post Next Post