Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sinopsis K- Drama : Law School Episode 10/2

 


Original Network : jTBC Netfix

Jong Hoon menguncungi si Penusuk yang telah menusuknya, ketika dia berada dipenjara. Dia menyarankan si Penusuk untuk mengajukan banding dan dia juga akan membantu si Penusuk dengan mengajukan petisi, sehingga hukuman si Penusuk bisa di peringan. Dan si Penusuk menolak, karena itu sia- sia saja. Lalu dia menatap ke arah penjaga penjara, kemudian dia berteriak dengan keras.


“Itu ulahku sendiri karena aku dendam! Tidak ada yang memerintahku!” teriak si Penusuk, tampak penuh arti. Dan Jong Hoon menyadari hal tersebut.


Joon Hwi mencari tahu di Internet, mengenai artikel yang dibacanya di koran- koran yang tertempel dirumah Man Ho. JEJAK KAKI, PEMBUNUH. DARAH BAUNYA ENAK. PEMBUNUHAN SEMPURNA TANPA BARANG BUKTI. SOL SEPATU TERPOTONG UNTUK MENGHILANGKAN JEJAK KAKI.

Tepat disaat itu, seseorang berjas biru lewat didekat Joon Hwi sambil bertelponan. “Ada yang mendahuluiku untuk menemuinya… Aku tak tahu siapa dia… Ah, Aku tahu siapa orangnya. Dia Yang Jong-hoon…” katanya. Lalu saat Jong Hoon keluar, dia langsung pergi.


Secara diam- diam, Joon Hwi memotretnya dari dalam mobil.


Joon Hwi dan Jong Hoon mengikuti Pria Berjas Biru tersebut sambil membahas tentang si Penusuk. “Mencurigakan. Pelatnya tampak palsu, 'kan? Orang yang menyuruhnya membunuhmu di pusat penahanan pastilah pelakunya,” tebak Joon Hwi.

Lalu pas didekat persimpangan, Joon Hwi hampir saja menabrak mobil lain. Dan mereka berdua pun kehilangan mobil si Pria Berjas Biru.


Joon Hwi kemudian menunjukkan buku catatan gula darah Byung Ju. Dan memberitahu bahwa ada satu lagi barang pamannya yang hilang, yaitu pena.

Ketika Bok Gi, Ye Beom, Kang Sol A dan B, serta Ji Ho, datang ke ruangan kelompok. Mereka menemukan pizza diatas meja, dan pizza itu di pesan oleh Seung Jae. Namun mereka heran, kenapa Seung Jae tidak menunggu mereka.


“Dia trauma karena nilainya jatuh. Aku paham. Dia selalu dapat A plus,” komentar Ye Beom, menebak.

“Mungkin nilai A plus itu masalahnya,” balas Kang Sol B.

“Masalahnya? Kau mengetahui sesuatu?” tanya Ye Beom, tertarik.

“Diam. Jangan bergosip di belakangnya,” perintah Kang Sol A.



Yeong Chang menyuruh Ye Seul untuk datang, dan Ye Seul pun datang menjenguknya. Lalu ketika Ye Seul datang, Yeong Chang meludahi wajahnya. Dan Ye Seul sama sekali tidak marah serta menerima.

“Maafkan aku,” kata Ye Seul, tulus.

“Kalau begitu memohonlah. Mohon sampai kakimu keram,” geram Yeong Chang. “Kau melakukan ini padaku. Lalu pembelaan diri? Kenapa? Apa itu saran dari bajingan itu?” tuduhnya dengan sikap menjengkelkan.

Ringkasan argumen Jaksa yang seperti novel. Yeong Chang dan Ye Seul sudah berpacaran selama lebih dari tiga tahun, mereka mendaftar difalkutas yang sama, tapi hanya Ye Seul yang diterima. Kemudian Yeong Chang bersikeras bahwa Ye Seul berselingkuh setelah masuk falkutas hukum, dan selingkuhannya itu adalah Joon Hwi. Lalu Yeong Chang bersikeras bahwa Ye Seul ada menyaksikan pembunuhan Byung Ju, tapi Jong Hoon mengancam Ye Seul dan membuatnya tertekan, sehingga Yeong Chang pun membujuk Ye Seul untuk bersaksi saja. Jadi akhirnya, Ye Seul pun bersaksi, tapi Joon Hwi memaksa Ye Seul untuk mengubah pernyataan dan membantu Jong Hoon. Oleh karena itu, kejadian ini terjadi.

“Kau "memaksa" dia? Bagaimana caranya?” tanya Bok Gi kepada Joon Hwi, heran.


“Kudengar bajingan itu, Han Joon-hwi, mengancam akan sebarkan berita soal kunjunganku setiap malam. Karena itu, kau mengkhianatiku dan mengganti pernyataanmu, artinya, kau ingin kita putus,” kata Yeong Chang, seperti mencoba memancing Ye Seul untuk mengatakan sesuatu yang buruk.

Merasakan ada yang aneh, Ye Seul menatap Yeong Chang dan berpikir sesaat. “Aku akan…” katanya, lalu jeda. Dan kemudian, “berdoa untuk kesembuhanmu,” lanjutnya.

Setelah mengatakan itu, Ye Seul berdiri dan berjalan pergi. Dan dengan keras, Yeong Chang mengumpat. “Kau bisa berdoa di penjara!” umpatnya.


Yeong Chang telah menyingkirkan ponsel, laptop, bahkan kamera dasbornya. Lalu dia berkata bahwa dia tidak pernah memasang kamera pengintai. Karena itu, mereka harus mempertegas bahwa Yeong Chang ada menganiaya Ye Seul. Mendengar ide tersebut, Kang Sol A menolak dengan keras.

“Tidak!” tolak Kang Sol A. “Maksudku bukan itu. Jika media meliputnya, ini akan jadi berita palsu,” jelasnya. Lalu dia langsung berlari pergi.



Ye Seul memberikan sertifikat medis nya dan rekaman ketika Yeong Chang berjanji tidak akan mengulang untuk menganiaya nya. Dia ingin Jong Hoon menggunakan ini untuk membuktikannya tidak bersalah. Namun dia tetap tidak ingin menuntut Yeong Chang. Walaupun dia tahu Yeong Chang menyakitinya, tapi Yeong Chang sudah mendapatkan ganjarannya.

“Mari kita luruskan faktanya. Dia tidak mendapatkan ganjarannya,” tegas Jong Hoon. “Kecelakaan terjadi saat dia hendak mencelakaimu. Itu salah dia, bukan salahmu,” jelasnya, mencoba menyadarkan Ye Seul untuk berpikiran jernih, jangan hanya menggunakan perasaan saja.

Kang Sol A kemudian datang ke ruangan untuk membahas tentang Dewan Ko. Karena itu, Jong Hoon meminta Ye Seul untuk keluar sejenak.


Dewan Ko pernah memakai berita palsu agar lawannya bunuh diri. Karena itulah sekarang Dewan Ko membayar banyak pengacara untuk membantu Yeong Chang supaya Yeong Chang bisa menang, lalu Dewan Ko akan menyebarkan berita palsu. Jadi Kang Sol A ingin sidang ini di menangkan agar Ye Seul tidak menjadi korban berita palsu. Kemudian dia membahas tentang Kang Dan. Dulu Kang Dan menjadi pelapor pelanggaran agar Dewan Ko dihukum atas korupsi, tapi kemudian Kang Dan malah menyerah dan menerima uang kotor dari Dewan Ko.


“Prof. Yang, aku ingin buktikan bahwa Ye-seul hanya membela diri, agar aku bisa beri Anggota Dewan Ko pelajaran. Aku ingin tunjukkan padanya bahwa dia tak bisa memakai berita palsu dan memanipulasi segalanya,” kata Kang Sol A, bertekad kuat. Lalu dia melihat sertifikat medis Ye Seul yang berada di atas meja. “Ini…”

“Kekerasan dalam berpacaran dapat membantu. Pelajari sidang juri dahulu,” balas Jong Hoon, menasehati.



Eun Suk datang ke rumah sakit menemui Istri Seung untuk memeriksa tubuhnya, sekaligus berbincang- bincang sebentar. Pertama, mereka mengobrolkan hal biasa, Eun Suk mengucapkan selamat atas kehamilan Istri Seung, dan dengan senang Istri Seung mengiyakan. Kedua, mereka mengobrolkan tentang kasus Ye Seul.

Sebenarnya Eun Suk ingin membahas tentang perbuatan Seung Jae, tapi merasakan betapa ramah dan baiknya sikap Istri Seung, serta betapa bahagianya Istri Seung atas kehamilannya sekarang, dia jadi merasa ragu serta dilema untuk membahas tentang perbuatan Seung Jae.


Lamaran magang Ye Beom dan Ji Ho, diterima. Masalahnya itu adalah firma hukum yang direkrut oleh Dewan Ko untuk Yeong Chang. Jadi karena itu, mereka tidak bisa membantu kasus Ye Seul.

“Tunggu. Apa ini? Namamu tidak ada. Apa ada kesalahan? Kau ditolak?” tanya Ye Beom dengan terkejut kepada Kang Sol B. Ketika dia melihat nama Kang Sol B tidak ada di list peserta yang di terima.

“Tanyakan mereka,” kata Ji Ho, menyarankan. Dan Kang Sol B mengabaikannya serta berjalan pergi.


Tiba- tiba masuk pengumuman dari Jong Hoon. “Seluruh mahasiswa Fakultas Hukum Hankuk diundang untuk menghadiri sidang final kasus Prof. Seo Byung-ju pada hari ini pukul 14.00.”

“Apa yang ingin dia tunjukkan? Sudah jelas dia kalah,” komentar Ye Beom dengan sinis.


Ketika Ye Seul akan berangkat ke pengadilan, Seung Jae datang menemuinya. Dia menitipkan usb kecil kepada Ye Seul.

“Aku tak cukup berani untuk menjadi saksi. Pastikan Prof. Yang menerimanya,” kata Seung Jae, meminta bantuan Ye Seul.



Sesampainya di gedung pengadilan, ketika Ye Seul baru saja keluar dari taksi, sebuah motor lewat dan mencuri tas nya.

Penjaga Dong menaiki sepeda dan sampai di gedung pengadilan. “Sudah kubilang, ini lebih cepat saat macet. Di mana Seung-jae?” katanya, bertelponan.


Seung Jae berada di dekat sungai dan memancing.



Ye Seul berlari dengan panik menghampiri Jong Hoon. “Flash disk nya… “ katanya sambil menarik nafas capek.

SIDANG FINAL PROFESOR YANG JONG-HOON

Man Ho datang ke sidang Jong Hoon.


Pengacara Park menunjukkan buku catatan gula darah Byung Ju untuk membuktikkan kalau tuduhan Jaksa Jin disidang sebelumnya adalah salah.

Angka gula darah dialat buku catatan dan glukometer, itu sama. 227. Tapi tanggal di buku catatan dan glukometer, tidak sama. Beda satu hari, yaitu hari sebelum kejadian dan hari kejadian. Tanggal 25 dan 26 September.

Pada tanggal 25 September, kelas sidang simulasi dibatalkan dan dipindahkan ke tanggal 26 September. Dan tanggal di glukometer tertulis 26 September pukul 11.30. Masalahnya, pada tanggal 26 September, kelas diadakan selama tiga jam dari pukul 11.00 sampai 14.00, yang berarti Byung Ju tidak sempat untuk memeriksa gula darahnya dalam rentang waktu tersebut. Dan ini tandanya, tanggal yang tertulis di glukometer, itu salah. Yang benar adalah tanggal yang tertulis di buku catatan.

“Tetap ada kemungkinan buku catatan itu dimanipulasi,” protes Jaksa Ji dengan keras.



Jong Hoon berbisik di telinga Pengacara Park. Lalu Pengacara Park mengajukan permintaan kepada Hakim. Untuk membuktikan kalau buku catatan gula darah ini tidak ada di manipulasi dan benar diisi oleh korban sendiri, maka mereka ingin memanggil seorang saksi. Yaitu supir Byung Ju, Man Ho.


“Keberatan. Lee Man-ho sudah bersaksi,” protes Jaksa Jin.

“Begitu juga Nn. Jeon Ye-seul, tapi pengadilan menerima permintaan Anda,” balas Pengacara Park, melawan.


“Ini lain! Tn. Lee Man-ho adalah pelaku pelecehan seksual. Kredibilitasnya…” kata Jaksa Jin. Lalu dia terdiam.

“Apa maksud Anda kredibilitasnya di bawah Nn. Jeon?” kata Jong Hoon, mempertanyakan. Dan Hakim menatap Jaksa Jin.

“Saya minta kita reses,” pinta Jaksa Jin, karena tidak bisa menjawab.



Post a Comment for "Sinopsis K- Drama : Law School Episode 10/2"