Sinopsis Lakorn- Fah Mee Tawan Episode 5/1

 


Original Network : Channel 7

Ketika Nai sedang menerima wawancara. Mee bergosip dengan panik. Dia menggosipi pemakaman satu tim mereka. Dan Wit sangat terkejut.

“Baca email mu sekarang!” kata Mee, memberikan petunjuk.




“Oh ya, Khun Nai. Kamu mungkin sedang bekerja keras mengerjakan design perhiasan untuk pasangan kerajaan ya?” tanya reporter, ingin tahu. “Aku menemukan press konfrensi nya di majukan, design untuk pakaian pengantinnya juga terburu- buru,” jelasnya, memberitahu.

Mendengar itu, Nai dan Patcharee sama- sama terkejut. Karena mereka berdua sama- sama tidak tahu tentang kabar itu.

Ketika Nai dan Paul datang ke kantor Singkorn untuk bertanya. Singkorn sedang memarahi sekretarisnya. Dia menyalahkan sekretarisnya untuk  masalah yang terjadi sekarang. Dia mengatakan kalau dia tidak ada menerima email notifikasi mengenai tanggal nya dimajukan. Tapi Paul sama sekali tidak percaya dengan Singkorn.


Flash back

Sekretaris datang dan menunjukkan email dari Amat kepada Singkorn. Dan membaca email tersebut serta mengetahui kalau belum ada yang melihatnya, Singkorn menyuruh sekretarisnya untuk menghapus email dari Amat itu. Juga jangan biarkan siapapun melihat email notifikasi tentang dimajukan tanggalnya.

Flash back end


Singkorn bersikap tidak bersalah dan dia menuduh kalau Paul ingin menfitnahnya. Dan dengan tenang, Paul menjelaskan bahwa dia tidak akan berani untuk menfitnah seseorang tanpa bukti. Dan Singkorn merasa puas.



“Mengenai kesalahan sekretaris ku. Itu adalah masalah yang serius. Jadi kamu tidak bisa bekerja disini lagi!” kata Singkorn, memecat sekretarisnya. Dan si sekretaris merasa sangat terkejut sekali.


Nai menenangkan Singkorn untuk jangan bertindak gegabah serta pikirkan bersama- sama mengenai solusi nya. Dan Singkorn mengiyakan. Serta dia menjelaskan bahwa dia akan mengikuti Nai. Lalu setelah masalah selesai, dia akan mempertimbangkan kembali situasi sekretarisnya. Mendengar itu, Paul menatap Singkorn.

“Sekarang, aku akan menghubungi Amat. Aku akan meminta waktu untuk mengantarkan barangnya. Setidaknya itu akan menambahkan waktu untuk bernafas bagi para karyawan disini,” jelas Singkorn.

“Terima kasih,” kata Nai, mempercayai Singkorn.


Paul menanyai, apa yang akan Nai lakukan, karena mereka hanya mempunyai sisa waktu dua hari saja. Dan Nai meminta Paul mengupdatekan proses pekerjaan kepadanya, karena tidak peduli apapun itu, mereka harus mengirimkan barang tepat waktu.

“Bagamaina jika kita tidak bisa?” tanya Paul. “Ini hanya jika. Karena apapun bisa terjadi. Kepercayaan diri itu bagus. Tapi kita tidak boleh lupa untuk menluangkan perasaan untuk kegagalan,” jelasnya, menasehati.

“Kita harus mengirimkan barangnya tepat waktu. Tidak ada kegagalan di Crown Diamond,” tegas Nai.


Singkorn mengakui kesalahannya kepada Paramee. Dan Paramee bersikap sama seperti Nai. Dia tidak mau menyalahkan siapapun, yang dia inginkan adalah solusi untuk memperbaiki kesalahan. Mendengar itu, Singkorn tersenyum seperti sudah menduga.

“Tapi aku takut kalau Khun Nai tidak akan bisa melakukannya tepat waktu. Haruskah aku yang menanganinya langsung?” tanya Singkorn, menawarkan diri.



“Tidak perlu. Aku percaya Nai pasti bisa,” balas Paramee dengan yakin. “Singkorn. Biarkan Nai membukti kan dirinya. Atau kamu tidak mempercayai kemampuan putriku?” tanyanya, ketika Singkorn tampak ingin protes.

“Aku percaya. Mungkin aku terlalu khawatir tentang perusahaan,” jawab Singkorn dengan terpaksa. Lalu setelah Paramee berjalan pergi, dia menatapnya dengan tajam sambil mengepalkan tangannya dengan erat.


Nai dan Paul memeriksa proses pengerjaan perhiasaan bersama- sama.


Nai merasa sangat capek sekali, tapi dia terus memaksakan dirinya sendiri supaya kerjaan bisa segera terselesaikan. Dan dengan perhatian, Paul mengantarkan makanan untuknya. Tapi Nai menolak untuk makan.


“Hati- hati kamu pingsan seperti terakhir kali. Aku tidak ingin pacarmu salah paham lagi,” sindir Paul. Lalu dia mendorong makanan ke hadapan Nai. “Mau aku suapi?” tanyanya sambil tersenyum.

“Tidak perlu. Aku bisa makan sendiri,” tolak Nai, mengambil makanannya.


Paul kemudian menanyai Nai, apakah Nai tidak ingin mencari tahu mengapa bawahan Singkorn bisa membuat kesalahan. Dan Nai merasa itu tidak perlu.

“President begitu beruntung untuk memiliki tangan kanan seperti Khun Singkorn yang membantunya disetiap aspek,” komentar Paul dengan agak sinis.

Didalam kamar hotel. Setelah menikmati malam bersama dengan Singkorn, Net merapikan penampilannya. Lalu dari belakang, Singkorn datang dan memeluknya dengan mesra.

“Haruskah kita mencari waktu untuk menghabiskan waktu bersama lebih lama? Aku bisa mencoba mencari alasan supaya kita bisa pergi melakukan perjalanan bisnis keluar negri selama seminggu,” kata Singkorn, berharap.



“Kamu kira aku seluang itu? Tidak mungkin,” tolak Net dengan ketus. “Aku sudah memberimu malam ini.”

“Kamu datang menemuiku malam ini untuk menghabiskan waktu saja, karena Paul sibuk membantu Khun Nai,” protes Singkorn.

“Bisakah kamu berhenti berpikir seperti itu? Itu sangat membosankan kamu tahu? Dan ketika aku bosan padamu, aku bukan hanya aku sekedar tidak akan menjawab telponmu,” ancam Net. Lalu dia pergi begitu saja.


Paul memberitahukan update berita terbaru kepada semuanya. Amat ingin mereka untuk mengantarkan barang ke bandara sebelum dia terbang kembali ke negaranya. Waktunya sebelum pukul 2 siang. Dan dia menugaskan supaya Mee menemani pengantaran besok. Dengan bersemangat, Mee mengiyakan.



“Khun Pat. Khun Nai belum datang ke kantor ya?” tanya Paul, ingin tahu.

“Dia bilang dia sedang mengecek beberapa pekerjaan di bagian produksi,” jawab Patcharee, memberitahu.

“Jangan bilang dia disana sepanjang malam,” gumam Paul, khawatir. Dan Patcharee mengiyakan bahwa itu benar.


Nai membawakan makanan untuk para pekerja di bagian produksi. Dan melihat betapa perhatiannya Nai kepada para karyawan, Paul tersenyum.



Nai mulai merasa capek dan menguap. Melihat itu, Paul menyarankan supaya Nai pulang serta beristirahat, sisanya dia yang akan mengurusnya malam ini. Tapi Nai menolak, dia ingin pekerjaan selesai, barulah dia akan pulang.


Pekerjaan yang tersisa tinggal 10% saja, yaitu detail- detail kecilnya, jadi malam ini semuanya akan selesai. Mengetahui itu, Nai merasa sangat senang dan puas.

“Khun Nai. Kamu telah mengurus kami dengan baik, jadi kami akan melakukan yang terbaik. Benarkan semuanya?!” kata Manajer, bertanya kepada semuanya. Dan dengan bersemangat, semuanya mengiyakan.



Paul membelikan beberapa kebutuhan mandi untuk Nai, seperti handuk, sabun, sampo, dan lainnya. Karena Nai menolak untuk pulang. Menerima itu, Nai mengeluh, apakah Paul bermaksud mengejeknya kotor. Dan Paul tertawa. Lalu dia menasehati Nai untuk jangan terlalu khawatir serta jangan bekerja berlebihan.


Sekretaris melapor kepada Singkorn bahwa perhiasan di bagian produksi sudah hampir selesai. Mengetahui itu, Singkorn merasa tidak senang.

“Dia bisa menyelesaikannya tepat waktu. Namun walaupun begitu, bukan berarti tidak akan ada masalah lain kan?” gumam Singkorn, memikirkan sebuah rencana baru. Dan si Sekretaris hanya merespon dengan tersenyum saja.


Dengan teliti, Nai memeriksa setiap permata yang akan dipasang. Dan Paul membantunya memeriksa juga.




Nai mulai merasa lelah dan tertidur. Melihat itu, Paul tersenyum sambil menggeleng- gelengkan kepalanya. Dia merapikan pena dan buku yang Nai pegang. Lalu dia duduk sambil meminum secangkir kopi dan menatap wajah Nai yang tertidur.



Ketika Dan datang ke bar, temannya merasa heran, kenapa Dan tidak menemani dan mendukung Nai disaat seperti ini. Karena dia mendengar kalau Crown Diamond sedang memiliki beberapa masalah. Namun Dan sama sekali tidak tahu, ada masalah apa disana, karena beberapa hari ini dia belum ada bertemu dengan Nai. Lalu Nai juga tidak ada memberitahunya.

“Mungkin dia punya seseorang yang lebih bisa diandalkan dibanding kamu?” canda si teman sambil tertawa. Mendengar itu, Dan merasa agak tidak senang.


Si teman kemudian melihat wanita yang Dan goda kemarin datang ke bar, dan diapun memberitahu Dan. Melihat itu, Dan langsung mendekati si wanita.



Pagi hari. Saat Nai terbangun, dia langsung memeriksa waktu dijam tangannya. Lalu dia pergi ke bagian produksi dan protes kepada Paul yang ada disana, karena Paul tidak ada membangunkannya. Kemudian dia menanyai Manajer, apakah semuanya sudah selesai. Dan Manajer menunjukkan hasil perhiasan yang sudah selesai dan juga sudah dicek oleh Paul.

“Menurutku, kamu harus mengeceknya lagi,” kata Paul, menyarankan. Dan Nai langsung melakukannya.

Melihat hasil perhiasan yang sudah jadi, Nai merasa sangat puas. Dan dengan manis, Paul tersenyum kepadanya.

Patcharee kemudian datang dan membawakan baju ganti untuk Nai.


Wit tiba- tiba mendapatkan kabar bahwa mobil yang seharusnya sekarang sudah diantarkan ke sini, malah terkena sedikit masalah, jadi mereka harus menunggu sejam lagi. Dan mendengar itu, Mee serta Ting merasa panik, karena jika mereka menunggu, mereka pasti akan telat.

“Tidak perlu menunggu. Kita langsung ke bandara sekarang. Aku akan mengikuti dari belakang,” kata Nai, memutuskan.

Mee naik mobil pertama bersama dua orang bodyguard. Dan Paul serta Nai naik mobil kedua, mengikuti Mee dari belakang. Sementara Wit, Ting, dan Patcharee di tinggal di belakang.

“Bagus… setelah semuanya selesai, aku akan memberikan uang nya,” kata Singkorn kepada seseorang ditelpon dengan ekspresi puas.


Didalam mobil. Paul menenangkan Nai untuk jangan khawatir dan jangan gugup, karena mereka pasti bisa.

Mee meminta kedua bodyguard untuk menyetir lebih pelan, jangan terlalu ngebut. Tapi kedua bodyguard tersebut tidak merespon.


Nai merasa heran, kenapa mobil Mee terlalu cepat. Lalu dia memerinta Paul untuk ngebut juga serta mendekati mobil Mee. Dan Paul pun melakukannya.


“Kurangi kecepatannya,” pinta Mee, karena dia melihat kalau mobil mereka dan mobil Nai berjarak terlalu jauh. Tapi kedua bodyguard tetap mengabaikannya. “Oh, tidak apa. Khun Nai masih dibelakang kita,” kata Mee, ketika melihat ke belakang. “Bang, nanti disana belok kiri ya. Kiri,” kata Mee, mengarahkan. Tapi mobil malah menuju ke arah lain.

Paul dan Nai mulai merasa ada yang aneh.

Mee juga merasa ada yang aneh, jadi diapun protes. Tapi salah satu bodyguard yang ada didepan malah pindah ke belakang dan memukuli nya. Bahkan bodyguard itu juga memiliki pistol. Dengan susah payah, Mee berusaha untuk melawan dan melindungi diri nya.


“Hati- hati!”  kata Nai sambil memegang pegangan diatas mobil. Dan dengan fokus, Paul terus mengebut mengejar mobil Mee.



Mee berhasil mendorong si bodyguard pertama. Lalu setelah itu, dia menccekik leher bodyguard kedua yang sedang menyetir. “Hentikan mobilnya sekarang!” perintahnya.



Paul mempercepat mobilnya dan menghadang mobil Mee dari depan, sehingga mobil Mee pun berhenti. Lalu Paul berusaha untuk membantu Mee. Tapi disaat itu, malah bodyguard pertama yang keluar dari dalam mobil. Jadi Paul pun bertarung melawannya.


Bodyguard kedua berhasil melepaskan lehernya dari cekikan Mee. Dan lalu dia langsung keluar untuk membantu rekannya dalam melawan Paul.

Melihat itu, Nai merasa khawatir.

Mee keluar dari dalam mobil juga. Dan ikut bertarung.

Paul berhasil merebut pistol bodyguard kedua. Dan lalu dia mengarahkan pistol tersebut ke mereka. Dengan takut, kedua bodyguard tersebut langsung berlari kabur.


Paul, Mee, dan Nai, pun langsung pergi darisana juga.


“Orang kita sudah menunggu dibandara, tapi Crown Diamond belum datang juga. Apa yang harus kita lakukan, Yang Mulia?” tanya Pengawal kepada Amat.

Mendengar itu, Amat diam.

Nai merasa sangat khawatir. Dan Paul berusaha untuk menenangkannya.


“Yang Mulia, kita sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” kata Pengawal, memberitahu Amat. Dan Amat merasa bingung harus bagaimana.



Seorang pengendara motor lewat dan melemparkan paku- paku kecil ban mobil Paul. Sehingga ban mobil mereka meletus dan dengan terpaksa, mereka pun harus berhenti.

“Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa lanjut mengemudi!” tanya Mee, panik.



“Yang Mulia, Crown Diamond masih belum terlihat,” lapor Pengawal, memberitahu. “Tapi ada seseorang yang datang ke sini untuk bertemu dengan mu.”

Orang yang dimaksud oleh si Pengawal masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah koper hitam. Melihat itu, Amat tersenyum kepadanya.

Nai mengambil koper yang dipegang oleh Mee. Lalu dia keluar dari mobil dan berjalan kaki. Melihat itu, Paul berusaha menghentikan Nai. Tapi Nai tidak mau berhenti, dia berniat untuk berjalan ke bandara dan mengantarkan barangnya sendiri.


Lalu disaat itu, Paramee menelpon. Setelah selesai, Nai menatap ke arah Paul. “Dia memberitahuku untuk pulang. Mereka tidak mau menunggu kita,” katanya dengan perasaan sangat kecewa kepada dirinya sendiri. Sekaligus merasa stress.

Mendengar itu, Paul juga merasa stress.


Dirumah. Nai menanyai, kenapa Paramee menyuruhnya untuk pulang, kepadahal dia yakin bahwa mereka masih sempat bertemu dengan Amat. Dengan lemas, Paramee memberitahu bahwa semunya sudah berakhir. Dan Nai tidak mengerti.

“Itu artinya kamu sudah menghancurkan semuanya,” kata Net dengan ketus kepada Nai.



“Ada sponsor besar yang menawarkan seset perhiasan diamond kepada Yang Mulia. Mereka yakin kalau kita pasti tidak akan bisa mengantarkan barang tepat pada waktunya, jadi mereka memutuskan untuk menggunakan brand tersebut,” kata Paramee, menjelaskan.

Dengan kasar, Net menyalahkan Nai. Tapi Paramee menghentikannya untuk jangan seperti itu. Dan dengan sedih serta perasaan bersalah, Nai hanya diam saja.


Ditempat parkir. Didalam mobil. Singkorn bertemu dengan bodyguard yang ditugaskannya untuk mengacaukan pengantaran diamond hari ini.

“Aku tidak akan membayar satu baht pun untuk pekerjaanmu yang gagal,” kata Singkorn dengan tidak puas dan tidak senang.

“Tapi mereka tidak bisa sampai dibandara tepat waktu,” balas si bodyguard.

“Baiklah,” kata Singkorn, memberikan bayaran kepada si bodyguard. “Jangan biarkan siapapun melihat wajahmu lagi, mengerti?” jelasnya, mengingatkan.

“Ingat,” jawab si bodyguard. Lalu diapun langsung pergi.


Dibar. Paul bertemu dengan pengendara motor yang melemparkan kembang api ke ban mobil hari ini. Dia berterima kasih dan memberikan bayaran kepada si pengendara.


Flash back

Paul menelpon Pamannya. Dia memberitahu bahwa sekarang dia sudah bekerja di Crown Diamond. Dan Paman mendukung Paul. Lalu Paul meminta bantuan Pamannya. Dia ingin Crown Diamond tidak bisa mengantarkan barang tepat waktu.



Dikantor. Paul mengirimkan design perhiasan yang dibuatnya kepada Wang.


“Dengan kemampuan ML. Aku percaya kita bisa membuat seset diamond baru supaya Yang Mulia mengubah pilihannya dari Crown Diamond.”

Wang datang mengantarkan seset diamond kepada Yang Mulia Amat.


“Apa kamu yakin Paul, kamu ingin seperti itu?” tanya Paman, memastikan.

“Iya, Paman,” jawab Paul dengan sangat yakin.

Flash back end



Paul tersenyum puas, karena semuanya berhasil sesuai rencana.

1 Comments

Previous Post Next Post